Perbedaan Jenis Kelamin Laki-laki dan Perempuan

Jenis kelamin merupakan unsur dasar dari konsep diri. Pengetahuan bahwa
“saya seorang wanita” atau “saya seorang pria” merupakan salah satu bagian inti
dari identitas pribadi. Selain itu banyak orang memandang bahwa mereka
memiliki corak minat dan kepribadian yang bergantung pada jenis kelamin
(dalam Sears, dkk., 1985).
Pada masa lalu, psikolog cenderung membedakan istilah jenis kelamin
dengan gender. Jenis kelamin adalah atribut-atribut fisiologis dan anatomis yang
membedakan laki-laki dengan perempuan, sedangkan gender dipakai untuk
menunjukkan perbedaan antara laki-laki dengan perempuan yang dipelajari
(Golombok & Fivush, 1994; Roughgarden, 2004) (dalam Wade, 2007).
Saat berusia 9 bulan, kebanyakan bayi dapat membedakan wajah
perempuan dengan laki-laki (Fgot & Leinbach, 1993), dan mereka juga dapat
mencocokkan antara wajah perempuan dengan suara perempuan (Poulin-Dubois
dkk., 1994). Pada usia 2-3 tahun, anak dapat melabel diri mereka sendiri sebagai
laki-laki atau perempuan, namun mereka baru memiliki identitas gender yang
stabil pada usia 4 atau 5 tahun, saat mereka tetap merasa sebagai laki-laki atau
perempuan, apapun pakaian yang mereka kenakan atau apapun perilaku yang
mereka tunjukkan. Saat itulah mereka mengerti bahwa apa yang dilakukan anak
laki-laki dan anak perempuan tidak selalu menentukan jenis kelamin mereka:
Anak perempuan tetap perempuan walaupun ia dapat memanjat pohon, dan anak
laki-laki tetap laki-laki walaupun rambutnya panjang (dalam Wade, 2007).
Kemudian proses kognitif yang terjadi dalam perbedaan perilaku antara
anak laki-laki dan anak perempuan muncul saat usia sekolah. Setelah anak dapat
melabel dirinya sendiri dan orang lain secara konsisten sebagai laki-laki atau
perempuan, mereka mengubah perilaku mereka agar sesuai dengan kategori yang
cocok dengan mereka. Mereka mulai memilih teman bermain dengan jenis
kelamin yang sama serta mainan yang secara tradisional diperuntukkan untuk
jenis kelamin yang sama dengan jenis kelamin mereka tanpa harus diajarkan
secara jelas untuk melakukan hal tersebut (Martin, Ruble, & Szkrybalo, 2002)
(dalam Wade, 2007).
Peneliti bidang biologi percaya bahwa perbedaan antara kedua jenis
kelamin ini dipengaruhi oleh hormon yang muncul saat masa pranatal, tepatnya
ada atau tidaknya hormon androgen saat anak di dalam kandungan (hormon
pembentuk maskulinitas). Anak perempuan yang terpapar androgen di dalam
kandungan lebih mungkin untuk menyukai mainan laki-laki seperti mobil-
mobilan daripada anak perempuan yang tidak terpapar androgen. Mereka juga
lebih agresif secara fisik dibandingkan dengan anak perempuan pada umumnya
(Berenbaum & Bailey, 2003). Namun kebanyakan anak perempuan yang
androgen memiliki identitas gender feminin dan tidak melihat diri mereka
sebagai laki-laki dalam aspek apapun (dalam Wade, 2007).
Berbeda halnya dari sisi psikologis, perbedaan antara kedua jenis kelamin
ini menurut Gray (2003) yaitu:
1. Perempuan lebih memiliki perasaan kasih sayang, kesabaran, dan ketelitian
dibandingkan dengan pria;
2. Laki-laki memiliki sikap kejantanan (tegas), sedangkan wanita memiliki sifat
kewanitaan (lemah lembut)
3. Perempuan lebih sensitif dibandingkan laki-laki yang mengakibatkan wanita
mudah tersinggung dibanding laki-laki.
4. Laki-laki lebih memilih diam ketika memiliki masalah, sedangkan perempuan
lebih suka bercerita dalam mengatasi masalahnya.
Kemudian seiring bertambahnya usia anak akan lebih matang lagi dalam
melihat kedua sisi jenis kelamin ini dan membandingkannya. Anak akan
melakukan sejumlah eksperimen dan melakukan eksplorasi. Hal ini dilakukan
pada saat anak berusia beranjak dewasa yakni usia 18 sampai 25 tahun dengan
ditandai eksperimen dan eksplorasi (Arnett, 2007). Pada saat ini juga banyak
individu masih mengeksplorasi jalur karier yang ingin mereka ambil, ingin
menjadi individu seperti apa, dan gaya hidup seperti apa yang mereka inginkan;
hidup melajang, hidup bersama, atau menikah (dalam Santrock, 2011)