Effendi (2003) mengemukakan seperti halnya sebagian besar perilaku
yang lain, organizational citizenship behavior ditentukan oleh banyak hal, artinya
tidak ada penyebab tunggal dalam organizational citizenship behavior. Sesuatu
yang masuk akal bila kita menerapkan organizational citizenship behavior secara
rasional. Salah satu pendekatan motif dalam perilaku organisasi berasal dari kajian
Mc Clelland dan rekan-rekannya.
Menurut Mc Clelland (dalam Robbins, 2006), tingkah laku timbul karena
dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Dalam diri
individu terdapat tiga kebutuhan pokok yang mendorong tingkah lakunya. Adapun
kebutuhan yang dimaksudkan menurut teori motif sosial adalah:
a. Motif berprestasi (need for achievement), mendorong orang untuk
menunjukkan suatu standar keistimewaan (excellence), mencari prestasi dari
tugas, kesempatan atau kompetisi. Kebutuhan untuk mencapai kesuksesan,
yang diukur berdasarkan standar kesempurnaan dalam diri seseorang.
Kebutuhan ini berhubungan erat dengan tugas organisasi dan mengarahkan
tingkah laku pada usaha untuk mencapai prestasi tertentu.
b. Motif afiliasi (need for affiliation), mendorong orang untuk mewujudkan,
memelihara dan memperbaiki hubungan dengan orang lain. Motif afiliasi
merupakan kebutuhan akan kehangatan dan sokongan dalam hubungan
dengan orang lain. Kebutuhan ini mengarahkan tingkah laku untuk
mengadakan hubungan secara akrab dengan orang lain.
c. Motif kekuasaan (need for power), mendorong orang untuk mencari status
dan situasi dimana mereka dapat mengontrol tugas organisasi atau tindakan
orang lain. Kebutuhan untuk menguasai dan mempengaruhi orang lain.
Kebutuhan ini menyebabkan orang yang bersangkutan tidak atau kurang
memperdulikan perasaan orang lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motif-motif yang
mendasari terbentuknya organizational citizenship behavior antara lain Motif
berprestasi (need for achievement), Motif afiliasi (need for affiliation), dan Motif
kekuasaan (need for power)
