Konsep Status Sosial dalam Masyarakat

Pembentukan lapisan atau kelas sosial dalam suatu kelompok atau
masyarakat didasarkan pada beberapa faktor yaitu faktor kekayaan, kekuasaan,
kehormatan dan ilmu pengetahuan. (Soekanto, 2013:208). Faktor kekayaan
menentukan apakah seorang individu menempati kategori kaya, menengah atau
kurang mampu. Bangsawan dengan beberapa rumah dan lahan pertanian yang luas
akan digolongkan sebagai kategori orang berkelebihan dalam hal finansial dan
kebutuhan. Faktor kekuasaan menentukan kelas seseorang berdasarkan kekuasaan
yang dimiliki individu tersebut karena penentuan kelas tersebut akan menentukan
wewenang yang akan dimiliki individu tersebut dalam masyarakat. Seorang shogun
memiliki wewenang dan kekuasaan yang pastinya berbeda dengan pemimpin
daerah lainnya karena perbedaan kekuasaan yang dimilikinya.
Faktor kehormatan merupakan faktor penentu kelas yang tidak didasarkan
pada pencapaian ekonomi oleh individu lainnya. Pengukuran ini biasanya
menempatkan orang dengan keistimewaan dan pencapaian individu tersebut dalam
masyarakat sebagai orang yang disegani dan memiliki status yang lebih tinggi dari
warga biasa. Faktor ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang juga dapat
menentukan lapisan atau kelas sosial tempat mereka berada. Individu yang
memiliki pengetahuan dan pendidikan melalui studi akademik di sekolah atau

perguruan tinggi akan memiliki kelas sosial yang dianggap lebih tinggi daripada
orang yang tidak memiliki pendidikan formal.
Proses penentuan lapisan dan kelas sosial tersebut mengakibatkan
terbentuknya sejumlah konsep yang berkaitan dengan status sosial dan peran. Status
sosial merupakan suatu kedudukan individu dalam masyarakat sosial yang mampu
didapatkan dengan usaha seorang individu ataupun melalui pemberian tanpa
diusahakan terlebih dahulu. Status sosial juga dapat diartikan sebagai sekumpulan
hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dalam masyarakat. Hak dan kewajiban
ini akan berbeda-beda pada setiap orangnya. Status merupakan pemaparan dari hak
dan kewajiban setiap individu pada sikapnya dalam masyarakat.
Menurut Abdul Syani (2012:93), status sosial umumnya ditentukan
berdasarkan kepentingan individu dalam kehidupan bermasyarakat. Individu
dengan status sosial yang tinggi akan memiliki posisi atau tempat yang bernilai
sosial lebih tinggi daripada posisi individu yang memiliki status lebih rendah.
Memiliki status sosial yang tergolong tinggi akan mempengaruhi sikap masyarakat
terhadap individu tersebut. Maka dari itu, berusaha mencapai status sosial yang
lebih tinggi merupakan sesuatu yang umum terjadi dalam masyarakat. Dengan
memiliki status dalam masyarakat, seseorang dapat diterima dalam kelompok
tempat mereka terlibat.
Status sosial sangat bervariasi. Menurut Ralph Linton (1936), ada dua jenis
status sosial dalam masyarakat yaitu ascribed status (status yang diberikan) dan
achieved status (status yang diperjuangkan).
1. Ascribed Status
Ascribed status merupakan status yang dapat diperoleh tanpa perlu
diusahakan terlebih dahulu. Ascribed status ini bersifat tertutup yang
berarti hanya dapat dimiliki oleh individu yang mendapatkannya sejak
awal dan tidak dapat didapatkan dengan usaha. Dalam bukunya, Ralph
Linton juga mengungkapkan bahwa:
“In all societies certain things are selected as reference points for
the ascription of status. The simplest and most universally used of
these reference points is sex and age.”
Terjemahan:

“Di setiap masyarakat, beberapa hal dipilih sebagai referensi
penentuan suatu status. Referensi penentuan yang paling mudah
dan banyak digunakan adalah jenis kelamin dan umur.”
Ralph Linton menyatakan bahwa ada 2 hal yang dapat menjadi
penentu bagi ascribed status yaitu jenis kelamin dan umur. Setiap
masyarakat menentukan sikap dan aktivitas yang berbeda terhadap laki-
laki dan perempuan. Mereka mencoba merasionalisasi stereotip ini dalam
hal perbedaan fisik antara wanita dan pria atau peran mereka dalam hal
reproduksi.
Usia juga sering digunakan sebagai referensi penentu status, karena
semua individu melewati siklus pertumbuhan, kedewasaan, dan
penurunan yang sama. Faktor penentu lain adalah hubungan keluarga
atau keturunan. Contoh faktor ini adalah status yang diturunkan oleh
seorang bangsawan kepada anak-anaknya sejak mereka lahir. Hal ini
menunjukkan bahwa sejak kelahiran, mereka sudah mendapatkan status
tanpa harus berusaha mendapatkannya terlebih dahulu, sama hal nya
dengan jenis kelamin dan usia.
2. Achieved Status (Status yang diperjuangkan)
Achieved status merupakan status yang didapatkan dengan usaha
yang dilakukan oleh seorang individu. Status atau posisi ini bersifat
terbuka yang berarti dapat dimiliki siapa saja yang berusaha
mendapatkannya dan tidak didasarkan atas faktor kelahiran. Namun,
status ini menentukan pemiliknya berdasarkan kemampuan dan kualitas
individu tersebut. Achieved status dapat diperoleh melalui keberhasilan
dalam ilmu pengetahuan atau dengan memiliki suatu prestasi. Dengan
memiiki prestasi, pandangan masyarakat terhadap individu tersebut
akan berbeda. Contoh status yang diperoleh melalui prestasi merupakan
dokter dan bidang lainnya yang berkaitan dengan studi atau pendidikan
yang dilalui.
Selain itu, achieved status dapat didapatkan melalui kepemilikan
akan kekuasaan atau jabatan yang lebih tinggi dari rakyat biasa.

Kekuasaan dan jabatan yang lebih tinggi ini akan membuat individu
tersebut dipandang memiliki status yang lebih tinggi oleh masyarakat.
Contoh dari status ini adalah kepala desa atau pemimpin daerah yang
memiliki kekuasaan lebih dari rakyat daerah biasa. Status juga dapat
didapatkan karena kualitasnya sebagai seorang individu dalam
masyarakat. Kualitas pribadi biasanya dapat didapatkan dan bersifat
terbuka melalui pendidikan dan pengalaman dalam hidup individu.
Status ini akan membuat individu tersebut dihormati. Achieved status
merupakan status yang bersifat terbuka dan dapat dimasuki oleh siapa
saja yang memiliki kualitas dan kemampuan, maka sebab itu status ini
berisi berbagai macam orang dengan ascribed status yang berbeda-beda.
Sistem lapisan atau kelas sosial masyarakat yang bersifat tertutup
menghalangi peristiwa berpindahnya satu individu ke lapisan yang lain.
Perpindahan lapisan sosial dapat terjadi dari lapisan bawah ke lapisan
atas maupun dari lapisan atas ke lapisan yang lebih rendah. Pada sistem
pelapisan tertutup, cara untuk dapat menjadi anggota suatu lapisan
adalah dengan mendapatkannya sejak lahir, seperti status kekerabatan
atau kekeluargaan. Namun, dalam pelapisan terbuka, setiap individu
dalam masyarakat mendapat kebebasan untuk bisa berusaha dengan
kemampuannya sendiri untuk dapat mencapai status pada lapisan status
yang diinginkan.