Pembinaan secara etimologis berasal dari kaya bina. Pembinaan adalah
proses,pembuatan,cara pembinaan,pembaharuan,usaha dan tindakan atau kegiatan
yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan baik.
Menurut Mathis (2002:112),pembianaan adalah suatu proses dimana
orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan
organisasi. Oleh karena itu,proses ini terkait dengan berbagai tujuan organisasi,
pembinaan dapat dipandang secara sempit maupun luas. Sedangkan Ivancevich
(2008:46), mendefinisikan pembinaan sebgai usaha untuk meningkatkan kinerja
pegawai dalam pekerjaanya sekarang atau dalam pekerjaan lain yang akan
dijabatnya segera.
Menurut Musanef ( 1991: 11) pembinaan dalah suatu proses penggunaan
manusia,alat perfalatan, uang, waktu, metode dan system yang didasarkan pada
prinsip tertentu untuk pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan daya dan
hasil yang sebesar-besarnya.
Menurut Perwadarminta (1987:182) pembinaan adalah yang dilakukan
secara sadar, terencana, teratur dan terarah untuk meningkatkan pengetahuan,
sikap dan keterampilan subjek dengan tindakan pengarahan dan pengawasan
untuk mencapai tujuan.
Jadi Pembinaan adalah suatu proses pemberian pelatihan keterampilan
yang diberikan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan suatu
objek untuk mecapai tujuan tertentu.
Pembinaan adalah sebuah proses sistematis untukmengubah perilaku kerja
seorang / kelompok pegawai dalam usaha meningktakan kinerja organisasi.
Pembinaan terkait dengan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk
pekerjaan yang sekarang dilakukan. Pembinaan berorientasi ke masa sekarang dan
membantu pegawai untuk menguasai keterampilan dan kemampuan (kompotensi)
yang spesifik untuk berhasil dalam pekerjaaanya.
(Mathis dan Jhon, 2009. Hal .307-308) juga mengemukakan empat
tingkatan pokok dalam kerangka kerja untuk mengembangkan rencana pembinaan
strategis, antara lain :
1. Mengatur strategi. Yaitu manjer-manajer SDM dan pembinaan
harus terus lebih dahulu bekerja sama dengan manajemen untuk
menentukan bagaimana pembinaan akan terhubung secara strategis
pada rencana bisnis strategis , dengan tujuan untuk meningkatkan
kinerja karyawan dan organisasi.
2. Merencanakan , yaitu perencanaan harus terjadi dengan tujuan
untuk menghadirkan pembina yang akan membawa hasil-hasil
positif untuk organisasi dan karyawannya. Sebagai bagian dari
perencanaan, tujuan dan harapan dari pembinaan harus di
identifikasi serta diciptakan agar tujuan dari pembelajaran dapat di
ukur untuk melacak efektifitas pembinaan.
3. Mengorganisasi, Yaitu Pembinaan tersebut harus di organisasi
dengan memutuskan bagaimana pembinaan akan dilakukan, dan
mengembakan investasi-investasi pembinaan.
4. Memberi pembenaran yaitu mengukur dan mengevaluasi pada
tingkat mana pembinaan memenuhi tujuan pembinaan tersebut.
Kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diidentifikasi pada tahap
ini, dan dapat meningkatkan efektivitas pembinaan di masa depan.
Adapun tujuan umum pembinaan sebagai berikut :
1. Untuk mengembangkan keahlian, sehingga pekerja dapat
menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.
2. Untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerja dapat
menyelesaikan pekerjaanya secara rasional , dan
3. Untuk mengembangkan sikap , sehingga menimbulkan kemauan
kerjasama dengan teman-teman pegawai dan dengan manajemen
yang baik (pemimpin).
Sedangkan Komponen-komponen yang dijelaskan oleh ( Mangkunegara,
2005 hal.76 ) terdiri dari :
1. Tujuan dan sasaran pembinaan dan pengembangan harus jelas dan
dapat diukur.
2. Para pembinaan yang professional.
3. Materi pembinaan dan pengembangan harus disesuaikan dengan
tujuan yang hendak dicapai.
4. Peserta pembinaan harus memenuhii persyaratan yang ditentukan.
Dalam pembinaan , agar pembinaan dapat bermanfaat dan memdatangkan
keuntungan diperlukan tahapan atau langkah-langkah yang sitematis. Secara
umum ada tiga tahap pada pembinaan yaitu tahap perencanaan pembinaan, tahap
pelaksana pembinaan dan tahap evaluasi pembinaan.
Sejalan dengan sejarah perkembangan dan berdasarkan situasi
penerapannya, manajemen meliputi berbagai fungsi. Fungsi manajemen menurut
Morris (Sudjana, 2000:51) adalah rangkaian berbagai kegiatan wajar yang telah
ditetapkan dan memiliki hubungan saling ketergantungan antara satu dengan yang
lainnya, dan dilaksanakan oleh orang-orang, lembaga atau bagian-bagiannya, yang
diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut.
Tery (Wibhawa, 2010:129) mengemukakan fungsi-fungsi manajemen
dengan istilah POAC (Planning, Organizing, Actuating and Controoling). Dalam
modul Bisnis dan manajemen, Amyardi (2011:4) membedakan fungsi menejemen
menjadi empat, yaitu : membuat sesuatu terjadi (making things happen),
menghadapi persaingan (meeting the competition), mengorganisir orang, proyek,
dan proses (organizing people, projek, and process), memimpin (leading).
Sementara itu menurut Sudjana (2000:59) fungsi manajemen itu merupakan
kegiatan yang berangkai, bertahap, berkelanjutan, berurutan, dan saling
menguatkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Sepanjang sejarah perkembangannya, para pakar manajemen
mengemukakan fungsi manajemen itu menurut rangkaian urutan yang
berbedabeda. Perbedaan tersebut disebabkan antara lain oleh keragaman latar
belakang profesional para pakar, perbedaan situasi yang dihadapi, variasi
pendekatan yang digunakan dalam menerapkan fungsi manajemen, serta
berkembangnya tuntutan dan kebutuhan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang
harus dipertimbangkan dalam penyelenggaraan manajemen.
Menurut Siagian (Sudjana, 2000:52) fungsi manajemen digolongkan ke
dalam dua bagian utama, yaitu fungsi organik dan fungsi pelengkap. Fungsi
pertama adalah semua fungsi manajemen yang harus secara mutlak dilaksanakan
dalam kegiatan pengelolaan. Apabila salah satu fungsi tidak dilakukan maka
kegiatan dalam organisasi akan terhambat atau mungkin akan gagal.
Fungsi yang disebut kedua, pelengkap, ialah sebagai fungsi organik
sehingga fungsi organik ini dapat berjalan secara berdaya guna dan berhasil guna.
Ke dalam fungsi pelengkap ini termasuk antara lain kegiatan berkomunikasi dan
memanfaatkan fasilitas pendukung untuk mencapai tujuan organisasi. Yang
terpenting dari semua fungsi dalam pengelolaan/manajemen sebagaimana
dikemukakan Weinbach (Wibahawa, 2010:126) adalah “
“all the list suggest the effort of manage take a active role in shaping
various aspect of the work environment”.
Artinya kesemua fungsi manajemen tersebut ditujukan agar manajer
memiliki peran aktif dalam mempengaruhi lingkungan kerjanya.
Menurut Milles (Sudjana, 2000:53) dalam “management and public
service”, mengklasifikasikan fungsi-fungsi manajemen ke dalam dua kategori
yaitu: directing (pengarahan dan bimbingan) serta facilitating (pemberian
bantuan). Sementara itu Sudjana (2000:56) mengemukakan 6 fungsi manajemen
secara berurutan, yaitu :
1. Perencanaan, merupakan rangkaian kegiatan untuk menentukan tujuan
umum (goals) dan tujuan khusus (objectives) suatu organisasi. Setelah
tujuan ditetapkan, perencanaan berkaitan dengan penyusunan pola,
rangkaian, dan proses kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai
tujuan.
2. Pengorganisasian, yaitu kegiatan mengidentifikasi dan memadukan
sumber-sumber yang diperlakukan ke dalam kegiatan yang akan
dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah diteteapkan.
3. Penggerakan, fungsi penggerakan ialah untuk mewujudkan tingkat
penampilan dan partisipasi yang tinggi dari setiap pelaksana yang
terlibat dalam kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4. Pembinaan, adalah upaya untuk memelihara efisiensi dan efektivitas
kegiatan sesuai dengan yang telah direncanakan dalam upaya untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5. Penilaian, merupakan upaya yang dilakukan untuk menghimpun ,
mengolah, dan menyajikan informasi untuk pengambilan keputusan
yang menyangkut justifikasi, perbaikan, penyesuaian, pelaksanaan dan
pengembangan suatu kegiatan
6. Pengembangan, adalah perluasan dan peningkatan kegiatan yang telah
dan/ atau sedang dilakukan.
Sedangkan menurut Suyadi (2011:75) fungsi manajemen dalam pendidkan
anak usia dini terdiri dari empat hal, yakni perencanaan, pengorganisasian,
pengendalian atau kontrol dan pengawasan. Uraian-uraian berikut ini akan
membahas fungsi manajemen secara umum tersebut kemudian menariknya
kedalam fungsi manajemen pendidikan anak usia dini secara khusus.
1. Perencanaan
Rencana adalah pemikiran atau gagasan mengenai tindakan yang akan
dilakukan guna mencapai tujuan. Kedudukan perencanaan sangat
penting dalam setiap kegiatan, termasuk penyelenggaraan pendidikan
anak usia dini. Bahkan berhasil atau tidaknya sebuah kegiatan,
tergantung pada matang atau tidaknya sebuah perencanaan.
Perencanaan dalam arti yang lebih luas, khususnya perencanaan
kelembagaan, perencanaan mencakup : visi misi dan fungsi organisasi,
tujuan kelembagaan, strategi mencapai tujuan, dan hal-hal yang
berkaitan dengan jalannya kegiatan. Sedangkan perencanaan yang
lebih riil dan aplikatif, biasanya dilengkapi dengan time schedule atau
penjadwalan.
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah pembagian tugas secara profesional sesuai
dengan kemampuan masing-masing sumber daya manusia dalam
menjalankan tugasnya. Jadi setiap perencanaan harus diorganisasikan
ke dalam lingkup-lingkup yang lebih kecil, sehingga semua komponen
mendapat tugas sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
3. Kepemimpinan
Tugas utama seorang pemimpin adalah mengantar seluruh komponen
yang terlibat untuk meraih tujuan bersama. Ia harus mampu menjadi
motivator sekaligus inspirator untuk kemajuan lembaga maupun
organisasi yang dipimpinnya. Semua tugas utama tersebut akan
bermuara pada maju atau mundurnya sebuah lembaga atau oragnisasi
yang dipimpinnya. Kepemimpinan lembaga pendidikan anak usia dini
harus menyeimbangkan antara kondisi lepangan yang ada dengan
inisiasi yang akan diusungnya serta rencana yang akan dilakukannya.
Untuk dapat menjalankan tugas ganda ini, seorang manajer atau
pemimpin harus mampu mendistribusikan pekerjaan-pekerjaan
kelembagaan kepada stafstaf yang ada dibawahnya secara tepat,
sehingga semua dapat ditangani oleh ahlinya masing-masing.
4. Pengawasan
Dalam konteks manajemen pendidikan anak usia dini pengawasan
merupakan upaya kontrol terhadap semua komponen kelembagaan
dalam merealisasikan program-program pembelajaran. pengawasan
dimaksudkan untuk memotivasi, mengarahkan dan membantu
memecahkan kendala di lapangan, sehingga sebuah program
kelembagaan dapat berjalan secara lancar.
Sebagaimana telah ditetapkan dalam UUSPN Nomor 20 Tahun 2003 dan
PP Nomor 19 Tahun 2005, dan lebih dijabarkan dalam Permendiknas Nomor 19
Tahun 2007 bahwa “setiap satuan pendidikan wajib memenuhi standar
pengelolaan pendidikan yang berlaku secara nasional”, beberapa aspek standar
pengelolaan pendidikan yang harus dipenuhi adalah meliputi:
1. Perencanaan program dalam kegiatan pengelolaan hal-hal yang
dilakukan meliputi perumusan visi sekolah, misi sekolah, tujuan
sekolah, rencana kerja sekolah.
2. Pelaksanaan rencana kerja yaitu tersedianya pedoman sekolah berupa
struktur organisisi sekolah, pelaksanaan kegiatan, bidang kesiswaan,
bidang kurikulum dan kegiatan pembelajaran, bidang pendidik dan
tenaga kependidikan, bidang sarana dan prasarana, bidang keuangan
dan pembiayaan, budaya dan peran serta masyarakat dan kemitraan.
3. Pengawasan dan evaluasi meliputi program pengawasan, evaluasi diri,
evaluasi dan pengembangan, evaluasi pendayagunaan pendidik dan
tenaga kependidikan, dan akreditasi sekolah.
4. Kepemimpinan, merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
mengoptimalkan segala sumber daya yang ada di dalam satuan
pendidikan yang ada.
5. Sistem informasi manajemen dengan berbasis komputer.
Dari uraian beberapa ahli mengenai fungsi-fungsi manajemen , maka
peneliti menyimpulkan fungsi-fungsi manajemen dalam pengelolaan pos
pendidikan anak usia dini ada 6 aspek yang harus diingat diantaranya
Perencanaan, Kepemimpinan, Pengorganisasian, Evaluasi, Pengawasan dan
Pembinaan atau pengembanagan .Dalam proses pengelolaan langkah akhir yang
dilakukan terhadap semua kegiatan yang telah maupun belum terlaksana dengan
menjaga keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan yang sudah ada dan
mengembangakan segala kegiatan yang pelaksanaannya belum berjalan dengan
optimal dalam pengelolaan kegiatan.
