Kebijakan modal kerja

Kebijakan modal kerja merupakan strategi yang diterapkan oleh
perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan modal kerja dengan
berbagai alternatif sumber dana. Seperti diketahui bahwa sumber dana
untuk memenuhi modal kerja bisa dipilih dari sumber dana berjangka
panjang atau pendek.
Menurut Sutrisno (2003: 46) kebijakan modal kerja perusahaan
tergantung dari seberapa besar manajer berani mengambil resiko.
Kebijakan modal kerja yang bisa diambil oleh perusahaan adalah :
a. Kebijakan Konservatif
Rencana pemenuhan kebutuhan dana konservatif merupakan
rencana pemenuhan dana modal kerja yang lebih banyak
menggunakan sumber dana jangka panjang dibandingkan sumber
dana jangka pendek. Kebijakan ini meliputi modal kerja permanen
dan sebagian modal kerja variabel dipenuhi oleh sumber dana jangka
panjang, sedangkan sebagian modal kerja variabel lainnya dipenuhi
dengan sumber dana jangka pendek.
b. Kebijakan Moderat
Kebijakan atau strategi pendanaan ini perusahaan membiayai
setiap aktiva dengan dana yang jangka waktunya kurang lebih sama
dengan jangka waktu perputaran aktiva tersebut. Pengertian ini
adalah aktiva yang bersifat permanen yakni aktiva tetap dan modal
kerja permanen akan didanai dengan sumber dana jangka panjang,
dan aktiva yang bersifat variabel atau modal kerja variabel akan
didanai dengan sumber dana jangka pendek.
Kebijakan ini didasarkan atas prinsip matching principle
yang menyatakan bahwa jangka waktu sumber dana sebaiknya
disesuaikan dengan lamanya dana tersebut diperlukan. Bila dana
yang diperlukan hanya untuk jangka pendek maka sebaiknya didanai
dengan sumber dana jangka pendek, demikian pula jika dana
tersebut diperlukan untuk jangka panjang maka sebaiknya didanai
dengan sumber jangka panjang.
Resiko yang akan dihadapi hanya berupa terjadinya
penyimpangan aliran arus kas yang diharapkan. Kesulitan yang
dihadapi adalah memperkirakan jangka waktu skedul arus kas bersih
dan pembayaran hutang, yang selalu terdapat unsur ketidakpastian.
Kebijakan ini akan muncul trade-off antara profitabilitas dan risiko.
Semakin besar margin of safety yang ditentukan untuk menutup
penyimpangan arus kas bersih semakin aman bagi perusahaan, tetapi
harus menyediakan dana yang jangka waktunya melebihi kebutuhan
dana yang akan digunakan. Akibat hal tersebut akan terjadi dana
menganggur dan hal ini akan menurunkan profitabilitas, dengan kata
lain bila resiko rendah akan mengakibatkan profitabilitas juga
rendah.
c. Kebijakan Agresif
Bila pada kebijakan konservatif perusahaan lebih
memetingkan faktor keamanan sehingga margin of safety sangat
besar, tetapi tentunya akan mengakibatkan tingkat profitabilitas
menjadi rendah. Sebaliknya pada kebijakan agresif, sebagian
kebutuhan dana jangka panjang akan dipenuhi dengan sumber dana
jankga pendek. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perusahaan
berani menanggung resiko yang cukup besar, sedangkan trade-off
yang diharapkan adalah memperoleh profitabilitas yan lebih besar.