Page (2005) yaitu : “The sense of well-being that employees gain from their.It is concepyualized as core affect plus the satisfaction of intrinsic and/or extrinsic, work values”Dari definisi ini, workplace well-beingmerupakan perasaan well-being(sehat sejahtera) yang diperoleh karyawan dari pekerjaan mereka, yang berhubungan dengan perasaan karyawan secara umum (core affect) dan kepuasan terhadap nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik dari suatu pekerjaan (work values).
Menurut Danna dan Griffin (1999), workplace well-beingmeliputi health, yaitu mencakup gejala fisiologis dan psikologis yang berkaitan dengan konteks medis. Selanjutnya workplace well-being, yaitu mencakup pengukuran terhadap kesejahteraan berdasarkan pengalaman hidup dan pengalaman yang berkaitan dengan pekerjaan.Sivanathan, Arnold, Turner, dan Barling (2004) mendefinisikan workplace well-beingsebagai peningkatan kesehatan pada karyawan, baik kesehatan psikologis maupun fisik. Di sisi lain, Harter, Schmidt, dan Keyes (2002) mendefinisikan workplace well-beingsebagai kesehatan mental karyawan yang dipengaruhi oleh pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, hubungan positif dengan orang lain, penguasaan terhadap lingkungan, integrase social dan kontribusi sosial.Cooper dan Catwright (1994) menjelaskan kesejahteraan dan kesehatan pegawai memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan secara finansial dan keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan. Berdasarkan penelitian tersebut workplace well-beingdan kesehatan pegawai merupakan isu penting yang harus diperhatikan oleh organisasi atau perusahaan untuk dapat meningkatkan prodiktifitas kerja pegawai untuk mendukung pencapaian tujuan suatu organisasi atau perusahaan
