Attractiveness (Daya Tarik) (skripsi, tesis, dan disertasi)

Daya tarik merupakan sikap yang berhubungan dengan daya tarik fisik serta hal-hal yang bisa dilihat dari influencer seperti gaya hidup dan kecerdasan (Belch & Belch, 2003). Daya tarik masuk ke dalamsalah satu indikator paling penting dari efektivitas endorserdan selebriti endorser yang dianggap menarik secara fisik memiliki pengaruh besar pada ingatan merek dan niat beli (Chao et al., 2005; Kahle & Homer, 1985). Daya tarik juga dapat diartikan sejauh mana seorang endorseratau influencerdianggap berkelas, seksi dan cantik (Weismuller et al., 2020). Menurut Belch & Belch (2003), daya tarik sendiri merupakan bentuk karakteristik yang sering digunakan oleh para pembuat iklan, yang meliputi similarity (kesamaan), familiarity(keakraban), dan likability(kesukaan). Kesamaan merupakan kemiripan yang diduga antara pemberi dan penerima pesan, sedangkan keakraban mengarah pada pengetahuan yang dimiliki oleh pemberi pesan melalui exposure. Kesukaan adalah bentuk rasa suka terhadap pemberi pesan karena penampilan fisik, perilaku, atau sifat pribadi lainnya. Dengan adanya ketiga poin tersebut pesan yang disampaikan dengan memperhatikan daya tarik memungkinkan konsumen akan menerima pesan dengan baik (Wang & Scheinbaum, 2018). Menurut McGuire dalam Wang & Scheinbaum (2018), daya tarik secara langsung dapat memengaruhi efektivitas dalam menyampaikan pesan. Dalam jurnal Sokolova & Kefi (2020), disebutkan bahwa seorang pembicara yang menarik dapat mengubah sikap pendengarnya walaupun membicarakan hal yang sudah disampaikan sebelumnya. Hal ini bisa terjadi karena dibandingkan dengan pembicara yang biasa saja, pembicara yang menarik cenderung akan lebih diperhatikan oleh audiensnya. Jamil & Ramez (2014) melakukan penelitian mengenai perbedaan efektivitas selebriti India dan Pakistan dari segi daya tarik. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa selebriti yang berasal dari India memiliki daya tarik lebih menarik dari pada selebriti yang berasal dari Pakistan, karena selebriti India cenderung menggunakan pakaian yang lebih terbuka (seperti rok mini dan dress) dibandingkan dengan selebriti Pakistan karena adanya batasan sosial dan batasan agama. Menurut Penelitian Jamil & Ramez (2014), dengan menggunakan pakaian yang lebih terbuka akan menjadi lebih menarik dan akan lebih mudah diingat oleh audiensnya. Ketika seorang influencermenggunakan pernyataan advertising disclosure dapat dianggap sebagai lebih sungguh-sungguh dalam menyampaikan pesan, dibandingkan dengan menggunakan tagar advertising disclosure tanpa mengomunikasikan dengan jelas, cenderung dianggap memiliki manipulasi (Van Reijmersdal et al., 2015). Dalam penelitian yang dilakukan Weismuller et al. (2020), penggunaan pernyataan advertising disclosure berdampak positif dapat meningkatkan daya tarik, sedangkan tagar advertising disclosure berdampak positif dapat menurunkan daya tarik. Wang & Scheinbaum (2018) melakukan penelitian terkait daya tarik influencer terhadap sikap konsumen terhadap merek yang diiklankan. Dalam temuannya daya tarik seorang influencerdapat berpengaruh positif terhadap sikap konsumen terhadap merek yang diiklankan (Wang & Scheinbaum, 2018). Sebuah penelitian dilakukan oleh Munnukka et al. (2016) mengenai daya tarik influencerterhadap sikap konsumen terhadap iklan. Dalam penelitian ini ditemukan adanya hubungan positif antara daya tarik influencerterhadap sikap konsumen terhadap iklan. Namun, hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ishak (2008), yang menemukan bahwa daya tarik tidak memengaruhi sikap konsumen terhadap iklan. Berdasarkan penelitian ini, daya tarik dianggap kurang kuat untuk meningkatkan perasaan suka responden terhadap iklan yang telah disebar (Ishak, 2008). Adapun Rex (1997) menemukan dalam penelitiannya bahwa adanya kemungkinan daya tarik influencerdalam komunikasi persuasif menimbulkan kegagalan karena adanya manipulasi daya tarik yang berlebihan