Karakteristik Religiusitas (skripsi, tesis, disertasi)

Adapun karakteristik dari religiusitas ialah sebagai berikut:
a. Niat ibadah
Niat merupakan pendorong utama manusia untuk beramal, sedangkan ibadah ialah tujuan manusia beramal (Baharuddin, 2007). Ibadah didefinisikan sebagai perkataan dan perbuatan yang disenangi dan diridhoi Allah swt, baik yang bersifat lahir maupun batin. Ibadah yang bersifat lahir seperti pengamalan rukun Islam, berbicara benar dan jujur, menunaikan amanah, silaturahmi, dan sebagainya. Ibadah yang bersifat batin, seperti ikhlas, sabar, tawakkal, dan perbuatan-perbuatan batin lainnya yang diridhoi Allah. Perbuatan ataupun perilaku yang sifatnya duniawi belaka, seperti bisnis, olahraga, melakukan pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya, dapat berubah menjadi bernilai ibadah dengan syarat didasari oleh niat atau motivasi ibadah (Ahmad, 2004) kesimpulan bahwa perilaku manusia yang didasari dengan niat beribadah kepada Allah swt merupakan salah satu karakteristik penting dari motivasi agama yang dirumuskan dari penjabaran aqidah.
b. Ibadah sebagai Tujuan dalam Berperilaku
Dalam Q.S az-Zāriyāt (51):56 disebutkan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk mengemban tugas beribadah. Beribadah merupakan salah satu tugas manusia (Baharuddin, 2007). Dalam melaksanakan ibadah, maka setiap perbuatan manusia dimotivasi dengan tujuan beribadah kepada Allah, baik dalam perbuatan yang bertujuan untuk kepentingan akhirat, seperti sholat, puasa, zakat maupun perbuatan yang bersifat duniawi, seperti melakukan bisnis, olahraga, membeli barang untuk memenuhi kebutuhan, dan sebagainya. Perilaku manusia yang mana dalam ajaran Islam bertujuan untuk beribadah, meskipun perilaku atau perbuatan itu bersifat duniawi, maka akan bernilai ibadah. Dengan adanya uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ibadah merupakan tujuan manusia dalam berprilaku atau berbuat, baik itu dalam perbuatan yang bertujuan untuk kepentingan akhirat ataupun duniawi. Sehingga, ibadah merupakan salah satu karakteristik penting dari motivasi agama.
c. Melakukan aktivitas sesuai dengan ajaran Islam
Ibadah merupakan tujuan manusia dalam berprilaku, sebagaimana dikemukakan di atas. Manusia membutuhkan suatu pedoman tentang kebenaran dalam hidup yaitu agama. Seorang Muslim yakin bahwa Islam adalah satu-satunya agama benar
dan diridhoi Allah swt. Islam telah mencakup seluruh ajaran kehidupan secara komprehensif (Munrokhim, dkk 2008). Dengan demikian, setiap aktivitas manusia, baik ibadah maupun mu‟amalah dilakukan sesuai dengan ajaran agama Islam. Dengan adanya uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap perbuatan manusia, baik ibadah maupun mu‟amalah yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam merupakan salah satu karakteristik dari motivasi agama yang dirumuskan dari penjabaran konsep syari‟ah (ibadah dan mu‟amalah).
d. Memperoleh Kesejahteraan di Dunia dan Akhirat (Falāh)
Setiap manusia pada dasarnya selalu menginginkan kehidupannya di dunia dalam keadaan bahagia, baik secara mateial maupun spiritual. Kebahagian di dunia dan akhirat (falāh) dapat terwujud apabila terpenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia secara seimbang. Islam mendefinisikan kesejahteraan didunia dan akhirat dengan istilah “falāh” yaitu kesejahteraan holistik dan seimbang antara dimensi material-spiritual, individual-sosial dan kesejahteraan di dunia dan akhirat (Munrokhim, dkk: 2008). Oleh karena itu, manusia harus dapat menyeimbangkan terpenuhinya kebutuhan material dan spiritual agar dapat mencapai kesejahteraan di dunia dan akhirat (falāh). Sehingga dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa perilaku manusia yang didasari dengan tujuan untuk memperoleh kesejahteraan, baik di dunia dan akhirat merupakan
salah satu karakteristik dari motivasi agama yang dirumuskan dari penjabaran konsep mu‟amalah.
e. Mempertimbangkan Aspek Maslahah dalam Mengkonsumsi Barang dan Jasa.
Pada dasarnya perilaku manusia bertujuan untuk memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat (falāh) sebagaimana dikemukakan diatas. Manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, sehingga dengan tercukupinya kebutuhan manusia akan memberikan dampak yang disebut dengan maslahah. Oleh karena itu dalam melakukan suatu aktivitas mu‟amalah, seseorang konsumen muslin cenderung untuk memilih barang dan jasa yang memberkan maslahah maksimum, bukan mendapatkan utility (Munrokhim, dkk: 2008). Perilaku ekonomi konsumen Muslim akan mempertimbangkan aspek maslahah dan menghindari kemudaratan dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa tertentu, di karenakan mereka memprioritaskan pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi tingkat kemaslahatannya. Dengan adanya uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku ekonomi konsumen Muslim yang mempertimbangkan aspek kemaslahatan dan menghindari kemudaratan dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa merupakan salah satu karakteristk dari motivasi agama yang dirumuskan dari penjabaran konsep mu‟amalah.