Dimensi dalam religiusitas menurut Stark dan Glock dalam Ancok (1996), religiusitas mempunyai lima dimensi yang terdiri dari:
(a). Dimensi Ritual (Syari‟ah): Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
(b).Dimensi ideologis (aqidah): Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana
para penganut diharapkan akan taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak hanya diantara agama-agama, tetapi seringkali juga diantara tradisi-tradisi dalam agama yang sama.
(c). Dimensi Intelektual (ilmu): Dimensi ini merupakan dimensi yang menerangkan seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaran-ajaran agamanya, terutama yang ada di dalam kitab suci manapun yang lainnya. Paling tidak seseorang yang beragama harus mengetahui hal-hal pokok mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi ini dalam Islam meliputi pengetahuan tentang isi Al-Qur‟an, pokok-pokok ajaran yang harus diimani dan dilaksanakan, hukum-hukum Islam dan pemahaman terhadap kaidah-kaidah keilmuan dalam Islam.
(d). Dimensi pengalaman atau penghayatan (experiential): Dimensi pengalaman disejajarkan dengan akhlak. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan supernatural. Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi-sensasi yang
dialami seseorang atau masyarakat yang melihat komunikasi, walaupun kecil, dalam suatu esensi ketuhanan, yaitu dengan Tuhan, kenyataan terakhir dengan otoritas transidental.
(e). Dimensi konsekuensi (pengamalan): Dimensi konsekuesni yaitu dimensi yang mengidentifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengamalan, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Walaupun agama banyak menggariskan bagaimana pemeluknya seharusnya berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehai-hari, tidak sepenuhnya jelas sebatas mana konsekuensi-konsekuensi agama merupakan bagian dari komitmen atau semata-mata berasal dari agama.
