.Dividend YieldDividend yieldadalah tingkat pengembalian berupa deviden atas investasi yang telah ditanamkan investor (Khurniaji,2013). Dividend yieldmerupakan variabel terbaik untuk melihat seberapa besar hasil investasi langsung dari modal yang dikeluarkan. Dengan kata lain, dividend yieldadalah ukuran secara nyata seberapa besar hasil dari modal yang dikeluarkan oleh investor (Mamduh, 2004). Dividend yieldmerupakan variabel terefektif untuk melihat imbal hasil dari suatu saham. Dividend Yielddapat mempengaruhi keputusan investasi seorang investor,dan perubahan keputusan investasi tersebut dapat berdampak padabesaranstock price volatilitysuatu saham. Semakin besar deviden yang dibayarkan, berarti semakin kuat sinyal profitabilitas suatu perusahaan di masa yang akan datang. Semakin rendah resiko investasi suatu perusahaan, maka dampakanya adalah turunnya tingkat stock price volatilitysuatu saham.b.Firm SizeFirm size merupakan skala dimana besar atau kecilnya suatu perusahaan,dapat diklasifikasikan berdasarkan toal aset perusahaan atau total penjualan (Sunyoto, 2006 dalam Dhira, 2014). Dengan dasar kategori di atas, perusahaan-perusahaan dapat dibedakan kedalam 3 klasifikasi, yaitu perusahaan kecil, perusahaan menengah dan perusahaan besar (Suwito, 2005).
Perusahaan besar memiliki 3 keunggulan utama dibanding dengan perusahaan dengan skala lainnya. Pertama, perusahaan besar dapat mengakses dengan mudah perolehan dana melalui pasar modal. Kedua, perusahaan besar memiliki kekuatan tawar-menawar (bargaining power) yang tinggi. Ketiga, perusahaan besar memiliki probabilitas yang tinggi akan capaian laba yang besar (Agnes, 2004). Disamping itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Hashemijooet al.(2012), saham perusahaan kecil lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan yang besar, sehingga menyebabkan harga saham lebih volatil.Perusahaan yang besar cenderung terdiversifikasi sehingga menurunkan resiko kebangkrutan. Di samping itu mereka bisa memberikan informasi lebih banyak sehingga bisa menurunkan biaya monitoring. Ukuran besar mengurangi asimetri informasi antara pihak internal perusahaan dengan investor (Mamduh, 2004).c.Growth in AssetsGrowthin assetsmerupakan indikator seberapa banyak perusahaan memaksimalkan penggunaan dana dari sumber modal.Dengan kata lain, growth in assets merupakan rasio pertumbuhan yang memiliki tujuan mengukur kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kedudukannya dalam pertumbuhan ekonomi dan industri (Jumingan, 2011).Menurut Hashemijoo et al. (2012), perusahaan yang sedang dalam tahap berkembang akan cenderung menggunakan laba untuk diinvestasikan kembali daripada membagikannya pada investor.Semakin
12cepat tingkatpertumbuhan, semakin besar kebutuhan dana untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut (Riyanto, 2008).d.Earnings VolatilityEarningsvolatility merupakan gambaran bagaimana pendapatan perusahaan yang naik turun dalam suatu periode.Dalam kata lain, earnings volatility adalah gambaran tingkat kestabilan pendapatan atau laba suatu perusahaan. Menurut teori signallingyang dikemukakan Jama’an (2008), perusahaan seharusnya memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan (kreditur atau investor). Sinyal ini berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut dalam konidisi baik. Laba yang stabil merupakan indikasi bahwa prospek perusahaan di masa mendatang akan tetap baik. Kondisi ini mencerminkan bahwa perusahaan memiliki konsumen yang loyal sehingga produk hasil produksinya sudah jelas alokasi penjualannya. Hal ini ditangkap investor sebagai sinyal positif bagi keamanan investasinya. Sebaliknya, jika laba perusahaan cenderung volatil, investor akan dihadapkan dengan resiko bagikelangsungan investasinya. Perubahan tingkat laba mengindikasikan adanya sebuah volatilitas pendapatan perusahaan
