a.Teori SignallingMenurut Jama’an (2008),teori signalling mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan isyaratkepada pengguna laporan keuangan. Isyaratini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Isyaratdapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Teori signallingmenjelaskan bahwa pemberian isyaratdilakukan oleh manajer berguna untuk mengurangi asimetri informasi.Contoh kasus dalam realita, misalnya manajer menerima informasi mengenai profitabilitas dan arus kas bebas (free cashflow) pada masa yang akan datang yang tidak dimiliki oleh investor, sehingga investor dituntut untuk mempersepsikan isyarat tersebut sesuai dengan analisanya untuk menangkap pesan yang terkandung dalam isyarat pada sebuah kebijakan deviden perusahaan (Satmoko, 2012).b.Teori Bird In the Hand(Devidend Relevance Theory)Teori The Bird in the Hand adalah teori yang menjelaskan bahwa investor menghendaki pembayaran deviden yang tinggi atau dapat dikatakan kebijakan deviden adalah relevandan dibutuhkan investor. Alasan yang sering dikemukakan dalam memilih teori deviden relevan ini karena ada anggapan bahwa mendapat deviden tinggi saat ini resikonya lebih kecil daripada mendapat capital gain di masa yang akan datang.
Teori Bird in The Hand dikemukakan oleh Gordon (1959) dan Lintner (1956).Menurut teori ini,investor atau pemegang saham akan lebih suka kepastian pembagian deviden daripadajanji akan dibagikan deviden lebih besar di waktu mendatang. Teori ini dapat diilustrasikan dengansatu burung di tangan akan lebih bernilai, daripadabanyak burung di langit. Begitu pula para pemegang saham atau investor yang memiliki karakter tidak suka bertaruh, yang lebih memilihuntuk mendapat keuntungan melalui pembayaran deviden di masa sekarang daripada menunggu capital gaindi masa mendatang.c.Teori Dividend IrrelevanceMenurut Miller & Modligiani (1961), nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatandan resiko bisnis, tidak pada bagaimana perusahaan memisahkan pendapatan ke laba yang ditahandan deviden. Teori ini menyatakan bahwa pembayaran deviden sekarang atau waktu selanjutnya (capital gain) tidak relevan, karena nilai perusahaan akan tetap sama. Teori ini dapat diilustrasikan sebagai berikut, jika tahun ini perusahaan tidak membagi deviden, maka pada tahun depan, investor dapat memperoleh deviden tahun depan dan deviden yang seharusnya dibayar tahun ini ditambah dengan tingkat keuntungan dari deviden yang ditahan tersebut (Mamduh, 2004).
d.Teori Asimetri InformasiMamduh (2004) menjelaskan tentang teori asimetri yang mengasumsikan bahwa pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak memiliki informasi yang sama mengenai prospek dan resiko perusahaan. Pihak tertentu memiliki informasi yang lebih baik dibandingkan pihak lainnya. Manajer biasanya mempunyai informasi yang lebih baik dibanding pihak luar (seperti investor). Karena itu, dapat dikatakan terjadi asimetri informasi antara manajer dengan investor. Dengan kata lain, perilaku manajer, termasuk dalam keputusannya akan struktur permodalan perusahaan, dapat dianggap sebagai sinyal oleh investor.Menurut Myers & Majluf (1977), terdapat asimetri informasi antara manajer dengan pihak luar, dengan kata lain manajer memiliki informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingkan pihak luar. Pada saat harga saham menunjukkan nilai yang terlalu tinggi (overvalue), manajer akan cenderung mengeluarkan saham (memanfaatkan harga yang terlalu tinggi). Tentunya pihak luar (pasar) tidak mau dikecoh. Oleh sebab itu, pada saat penerbitan saham baru diumumkan, harga akan jatuh karena pasar menginterpretasikan bahwa harga saham sudah lebih dari nilai sesungguhnya (overvalue). Teori tersebut dapat menjelaskan fenomena jatuhnya harga saham pada saat terjadi pengumuman penerbitan saham baru. Jika harga saham jatuh, maka pemegang saham lama akan dirugikan jika dilakukan penerbitan saham baru. Sebaliknya, pemegang saham baru
yang akan diuntungkan karena dapat membeli saham dengan harga murah. Karena jatuhnya harga tersebut berkaitan dengan asimetri informasi, maka dapat dikatakanbahwa ada biaya asimetri informasi yang berkaitan dengan penerbitan saham. Biaya tersebut akan semakin besar jika harga saham jatuh cukup signifikan.e.Teori Clientele EffectTeori clientele effectdiungkapkan oleh Black & Scholes (1974), yang mengasumsikan apabila perusahaan membayarkan deviden, investor seharusnya mendapatkan keuntungan dari deviden tersebut untuk menghilangkan konsekuensi negatif dari pajak. Teoriini mengungkapkan bahwa perusahaan memiliki kecenderungan untuk menarik investor tertentu yang menyukai kebijakan devidennya. Pembagian besaran jumlah deviden akan membentuk klien dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Kelompok investor dengan pajak yang tinggi akan memilih untuk menghindari deviden, karena deviden memiliki tingkat pajak yang lebih tinggi dibanding dengan capital gain, demikian sebaliknya.Di sisi lain, perusahaan yang berpotensi memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi akan cenderung menahan arus kas bebasnya (free cashflow) nya sebagai laba ditahan guna membiayai ekspansi perusahaannya. Kebijakan tersebut tentu digemari oleh investor yang menghendaki pertumbuhan perusahaan dan mendapat pendapatan dari capital gain yang besar. Sebaliknya, perusahaan yang telah berada dalam tahap dewasa (mature) dengan tingkat ekspansi rendah, akan cenderung membagikan devidennya dengan jumlah yang besar karena laba tidak lagi
digunakan untuk membiayai ekspansi perusahaan. Hal tersebut digemari oleh investor yang menyukai deviden tinggi serta investor yang enggan untuk mengambil resiko tinggi.f.Teori Agency Free Cash FlowMenurut Mamduh (2004), manajer keuangan akan berusaha memegang sumber daya perusahaan agar tetap dalam kendali manajer. Jika perusahaan memperoleh keuntungan atau kas masuk tinggi, maka manajer akan berusaha agar keuntungan atau kas masuk tersebut tetap berada di tangan manajer. Meskipun sebenarnya pemegang saham mungkin akan diuntungkan jika kas tersebut dibagikan kepada mereka (misal dalam bentuk deviden), kemudian pemegang saham dibiarkan menginvestasikan kas tersebut ke alternatif investasi lain yang lebih menguntungkan. Manajer berusaha menahan kas tersebut dengan berbagai cara, misal dengan tidak membayarkan deviden atau melakukan akuisisi perusahaan lain. Dengan akuisisi, sumber daya masih berada di tangan manajer.Menurut Jensen (1986) dalam Mamduh (2004), perusahaan dengan kesempatan pertumbuhan yang lebih tinggi (perusahaan berkembang), memiliki arus kas bebas (free cash flow) yang rendah karena sebagian besar dana yang ada digunakan untuk investasi pada proyek yang memiliki nilai bersih saat ini (Net Present Value) yang positif. Sebaliknya, perusahaan yang menumpuk arus kas bebas (free cash flow) seringkali mejadi sasaran akuisisi oleh perusahaan lain. Perusahaan tersebut
cenderung mempunyai harga saham yang lebih rendah dari harga yang seharusnya.
