Perbedaan gender terhadap sensitivitas etis (skripsi dan tesis)

Pria dan wanita memiliki pandangan, cara berpikir dan berperilaku yang berbeda. Perbedaan cara berfikir dan perilaku seseorang akan menimbulkan pemahaman dan tingkat kemampuan pria dan wanita dalam pengambilan keputusan dengan kesadaran akan nilai-nilai etika atau moral juga berbeda. Penelitian mengenai hubungan antara gender dengan sensitivitas etis menurut Ameen et al. (1996) dalam Riswan dan Akhmad (2011) diperlukan karena sejak akhir tahun 70-an jumlah mahasiswa akuntansi wanita meningkat dengan pesat. Adapun dengan semakin bertambahnya jumlah mahasiswa akuntansi wanita membuat aktif dalam bidang akademik maupun non akademik dikarenakan wanita berusaha untuk menggerakkan emansipasi wanita untuk bisa melakukan apa yang pria bisa dia lakukan, seperti dengan memiliki pendidikan yang sama dengan pria. Perbedaan nilai-nilai dan persepsi mahasiswa akuntansi pria dan wanita menimbulkan pembuatan keputusan etis dalam menghadapi dilema etika yang berbeda. Penelitian Eagly (1987) dalam Andi Kartika (2013) menyatakan bahwa wanita memiliki kedekatan dengan nilia-nilai komunal yang mana memiliki perhatian terhadap oranglain, tidak mementingkan diri sendiri dan berkeinginan untuk memiliki ikatakan dengan orang lain. Sedangkan pria memiliki kedekatan terhadap nilai-nilai agentic yang meliputi pengembangan diri (self-expansion), kompetisi dan penugasan (mastery).  Andi (2013) menyatakan bahwa terdapat dua pendekatan alternatif tentang perbedaan gender dalam menentukan kesungguhan berperilaku etis yaitu pertama, pendekatan sosialisasi gender menyatakan bahwa terdapat perbedaan nilai dan sifat antara pria dan wanita saat membuat keputusan dalam menghadapi dunia kerja. Pria selalu berupaya untuk mencapai kesuksesan meski dengan cara melanggar nilai-nilai etika dikarenakan pria menganggap bahwa saat mencapai kesuksesan diperlukan suatu persaingan. Sementara wanita lebih menjaga hubungan yang baik dengan teman kerjanya sehingga wanita lebih memegang teguh nilai-nilai etika dan moral serta wanita kurang toleran terhadap situasi yang melanggar nilai-nilai etika. Pada pendekatan struktural menyatakan bahwa perbedaan pria dan wanita timbul dari pekerjaan dan kebutuhan yang dipengaruhi oleh imbalan dan biaya yang berhubungan dengan pekerjaannya. Adapun dengan adanya struktur imbalan membuat pria dan wanita merespon isu-isu etika yang sama dalam lingkungan pekerjaan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan struktural memprediksi bahwa saat dalam menjalani pekerjaan yang sudah ada atau dalam masa training dapat menimbulkan prioritas yang sama antara pria dan wanita. Adapun penelitian mengenai hubungan gender dengan etika menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Penelitian yang dilakukan oleh Nurma (2011) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan sensitivitas etis secara signifikan antara mahasiswa pria dan wanita. Berbeda dengan penelitian Nurma (2011), penelitian Riswan dan Akhmad (2013) menunjukkan hasil bahwa secara signifikan terdapat perbedaan sensitivitas etis mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita pada dimensi kecurangan saat ujian. Presepsi wanita pada kecurangan saat ujian merupakan prilaku yang tidak etis, sedangkan pria mempresepsikan bahwa kecurangan saat ujian bukanlah hal yang curang karena nilai mahasiswa pria lebih kecil dari mahasiswa wanita. Perbedaan mahasiswa pria dan wanita dalam mengambil suatu keputusan etis relevan dalam perkuliahan, apalagi semakin banyaknya wanita yang berprestasi dalam dunia pendidikan maupun bisnis. Maka dari itu, perbedaan gender masih mempengaruhi kesempatan dan kekuasaan dalam suatu organisasi Ratdke (2000) dalam Nurma (2011).