Faktor-faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi (skripsi dan tesis)

a. Kognitif. Zelazo (dalam Gross,2006) menyatakan bahwa regulasi emosi
berhubungan langsung dengan executuive function ( EF). EF merupakan
pemahaman tentang kontrol kesadaran atas pemikiran dan perilaku individu.
Menurut Nisfianoor & Kartika (2004) terjadinya proses aktivasi kognitif
individu di daerah modus prontal meningkatkan, aktivitas emosi di bagian
amigdala. Sehingga terjadi penekanan terhadap penafiran emosi yang
berproses pada kognitif individu.
b. Lingkungan Sosial. Thompson dan Meyger (dalam Gross,2006)
memaparkan regulasi emosi dipengaruhi oleh keluarga dan teman sebaya.
Teman sebaya penting dalam perkembangan kemampuan regulasi emosi
seorang remaja saat di luar rumah dan keluarga saat di dalam rumah.
Kualitas hubungan dalam keluarga menjadi dasar utama yang berpengaruh
terhadap regulasi emosi anak. Ketika keluarga memberikan support kepada
anak maka anak cenderung akan lebih sadar diri secara emosional,
menerima pemahaman emosi yang lebih besar dan mengembangkan
kapasitas untuk mengatur emosi yang tepat di limgkunagnnya.
c. Usia dan Jenis kelamin.Meningkatnya usia individu mempengaruhi bentuk
regulasi emosi yang diungkapkan sebab bertambahnya usia akan identik
dengan proses kematangan pada seorang anak. Sehingga akan
mempengaruhi proses berfikir anak.
d. Religiusitas dan spiritual.Menurut Krause (1998), semakin tinggi tingkat
religiusitas seseorang maka ia akan berusaha untuk tidak menampilkan
emosi yang berlebihan. Begitu juga sebaliknya, apabila tingkat religiusitas
seseorang rendah maka ia akan susah dalam mengontrol emosinya.
e. Budaya. Kemampuan seseorang dalam menampilkan respon emosi dapat
dipengaruhi oleh budaya atau norma masyarakat. Pada regulasi emosi apa
yang dianggap sesuai culturlly permisible dapat mempengaruhi cara
seseorang berespon dalam berinteraksi dengan orang lain dan dalam cara ia
meregulasi emosi. Budaya merupakan adat istiadat dan kebisaan yang
dilakukan di suatu tempat dan diwariskan secara turun temurun. Budaya
memiliki beberapa unsur salah satunya dalah unsur seni. Seni memiliki
berbagai macam jenis antara lain adalah seni tari Taylor (dalam Liliweri
2003).
Berdasarkan faktor-faktor diatas peneliti akan mengambil faktor budaya yang
akan menjadi variabel bebas. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembng,
dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi
ke generasi. Budaya terbagi menjadi beberapa unsur yaitu sejarah kebudayaan,
identitas sosial, budaya material, peranan relasi, kesenian, bahasa dan interaksi,
stabilitas kebudayaan, kepercayaan atas budaya dan nilai, etnosentrisme, perilaku
non verbal, hubungan antar ruang, konsep waktu, pengakuan dan ganjaran, pola
pikir, aturan-aturan budaya (Liliweri,2003), Dari faktor budaya tersebut peneliti
menspesifikkan faktor budaya menjadi kesenian. Kesenian merupakan bagian dari
budaya dimana setiap kebudayaan yang meliputi gagasan dan perilaku yang
menampilkan pula segi-segi estetika untuk dinikmati dan itu sering kali disebut
dengan seni (Taylor, dalam liliweri, 2003).
Menurut Taylor (dalam Liliweri, 2003), seni dipandang sebagai sebuah
proses yang melatih keterampilan, aktivitas manusia untuk menyatakan atau
mengkomunikasikan perasaan atau nilai yang dia miliki. Mengutip dalam
Honigmann Tylor (dalam Liliweri,2003), mengkatagorikan seni menjadi enam
bagian yaitu foklor, drama, seni musik, seni tari, seni permainan, dan teknologi
seni.
Peneliti menspesifikan seni yang akan diangkat menjadi variabel bebas
menjadi seni tari. Seni tari ialah suatu ekspresi perasaan jiwa manusia yang
melalui gerak-gerak yang indah dan ritmis (Soedarsono,1977). Seni tari sendiri
memiliki beberapa jenis yaitu tari tradisional, tari tradisional kerakyatan, tari
klasik, tari kreasi baru, tari kontemporer (Kuswarsantyo,2012). Seni tari ini pada
dasarnya di miliki di setiap daerah di Indonesia peneliti memilih seni tari gaya
Yogyakarta, karena unsur-unsur yang ada dalam senitari gaya Yogyakarta sejalan
dengan makna atau definisi regulasi emosi.
Peneliti berasumsi bahwa faktor seni tari gaya Yogyakarta mempunyai
pengaruh terhadap regulasi emosi, semakin individu menghayati suatu tari maka
emosinya akan semakin terkontrol, sehingga individu akan semakin mampu
mengolah dan mengontrol emosinya kearah yang positif.