Aspek-Aspek Konflik Orang Tua (skripsi dan tesis)

Aspek-aspek persepsi terhadap konflik orangtua menurut
Wellerstrein (Merrim, 2008), yaitu :
a. Pengetahuan
Pengetahuan yang dimaksud berupa pengetahuan yang dimiliki
individu mengenai pernikahan dan konflik-konfliknya. Pengetahuan
ini didapatkan dari masa lalu dan perasaan terhadap pernikahan.
b. Harapan
Selain individu mempunyai satu set pandangan terhadap
pernikahan, individu juga memiliki pengharapan terhadap
pernikahannya sendiri, seperti apa pernikahan itu seharusnya dan apa
yang harus dilakukan dalam pernikahan.
c. Penilaian
Penilaian adalah kesimpulan individu terhadap pernikahan yang
didasarkan pada bagaimana pernikahan tersebut memenuhi
pengharapan individu terhadap pernikahan.
Menurut Grych, dkk (1992) aspek-aspek konflik orang tua adalah
sebagai berikut :
a. Dimensi marital konflik
Dimensi marital konflik menjelaskan bagaimana anak
menggambarkan konflik yang terjadi pada orangtua mereka
berdasarkan sudut pandang dan panca indera mereka. Dimensi marital
konflik terdiri dari 4 indikator, yaitu :
(1) Frekuensi (Frequency)
Merupakan kuantitas konflik dalam satu periode yang
dilihat dan didengar oleh anak (Chapman, 1997).
(2) Intensitas (Intensity)
Menjelaskan tingkat emosionalitas dan kehebatan dalam
mengekspresikan konflik.
(3) Penyelesaian masalah (Resolution)
Menjelaskan tingkat pengambilan keputusan dan
penyelesaian konflik dan perdebatan dilakukan secara damai dan
memuaskan masing-masing pihak (Chapman, 1997).
(4) Isi konflik (content)
Menjelaskan topik yang terjadi dalam konflik apakah
behubungan dengan anak atau merupakan masalah diantara suami
dan istri.
b. Child reaction
Child reaction atau reaksi anak menjelaskan bagaimana
reaksi dan persepsi anak terhadap konflik yang terjadi pada orangtua
mereka. Dimensi Child reaction terdiri dari empat indikator, yaitu :
(1) Menyalahkan diri sendiri (Self-Blame)
Menjelaskan apakah anak menyalahkan diri mereka sendiri
sebagai penyebab terjadinya konflik yang terjadi dalam perkawinan
orang tuanya (Bickham & Fiese, 1997)
(2) Perasaan terancam (Perceived Threat)
Menjelaskan perasaan takut dan cemas anak akan konflik
yang dapat meluas dan ketakutan anak apabila ia terlibat dalam
konflik dan mendapat dampaknya.
(3) Kemampuan Coping (Coping Efficacy)
Menjelaskan bagaimana kemampuan anak untuk coping
secara emosional (emotion-focused coping) seperti bagaimana ia
dapat mengurangi kecemasannya dan rasa tidak nyamannya apabila
orangtuanya sedang berkonflik, serta menjelaskan kemampuan
anak untuk membuat suasana diantara kedua orangtuanya menjadi
nyaman (problem-focused coping) (Grych, 1992).
(4) Stabilitas (Stability)
Menjelaskan bagaimana penggambaran anak mengenai
penyebab terjadinya konflik yang terjadi diatara kedua orangtuanya
secara umum.
c. Stressfulness
Menjelaskan bagaimana konflik yang terjadi pada
perkawinan orangtua mempengaruhi anak dan hubunganya dengan
orangtua. Dimensi ini memilikisatu indikator yaitu triangulation
atauhubungan segitiga. Dimensi triangulation ini menjelaskan
bagaimana anak terlibat dalam konflik tersebut, apakah anak memihak
salah satu diantara mereka atau menjadi penengah dalam konflik
tersebut (Grych dkk, 1992).
Aspek-aspek konflik orang tua yang dikemukakan oleh Gottman
dan Declaire (Meizera, 2008) yaitu:
a. Terjadinya kekerasan fisik pada pasangan
Terjadinya kekerasan fisik ditandai dengan adanya perilaku
yang menunjukkan kekerasan fisik dari salah satu pasangan kepada
pasangannya atau kedua pasangan tersebut menunjukkan kekerasan
fisik. Contohnya menampar pasangannya atau saling memukul.
b. Pelontaran kekerasan secara verbal
Pelontarkan kekerasan secara verbal ditandai dengan adanya
perilaku yang menunjukkan penghinaan, kecaman atau ancaman
yang dilontarkan oleh salah satu pasangan kepada pasangannya atau
kedua-duanya saling menyerang secara verbal yang berakibat
menyakiti atau melukai perasaan pasangannya saat konflik terjadi.
c. Sikap bertahan
Sikap bertahan sebagai bentuk upaya membela diri saat konflik
terjadi atau upaya mempertahankan diri atas serangan umpatan dari
pasangannya. Sikap ini bisa terjadi secara verbal dan non verbal.
Contohnya sikap secara verbal, yaitu dengan sikap yang keras kepala
dan menggunakan logika, individu berusaha mempertahankan
pendapatnya dan merasa pendapatnyalah yang paling benar.
d. Menarik diri dari interaksi pasangannya.
Menarik diri dari interaksi pasangannya, yaitu perilaku yang
menunjukkan penghindaran dengan pasangannya dan biasanya
pasangannya menunjukkan perilaku diam seribu bahasa daripada
melontarkan kekecewaan terhadap pasangannya.
Berdasarkan dari pendapat ahli terkait aspek yang konflik suami
istri peniliti mengacu pada pendapat dari Grych, dkk (1992).