Pengertian Subjective Well Being (skripsi dan tesis)

Diener, dkk., (1997); serta Park (2004), berpendapat bahwa dalam bahasa sehari-hari
sinonim dari subjective well being adalah happiness (kebahagiaan). Para peneliti lebih
memilih menggunakan istilah subjective well being karena istilah happiness (kebahagiaan)
memiliki bermacam-macam arti yang masih diperdebatkan (Diener, dkk.,2003). Menurut
Diener, dkk. (1997) bahwa subjective well being tidak sama dengan kesehatan mental atau
kesehatan secara psikologis, hal ini dikarenakan individu yang mengalami delusi mungkin
saja merasa bahagia dan puas dengan kehidupannya, namun individu tersebut tidak dapat
dikatakan sehat secara mental atau psikologis. Subjective well being juga berbeda dengan
psychological well being.
Menurut Ryff (1995) psychological well being merupakan suatu keadaan psikologis
yang memiliki karakteristik positif pada penerimaan diri, hubungan dengan orang lain,
penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan diri. Subjective well being ini
merupakan suatu hasil refleksi mengenai kehidupan individu yang bersangkutan. Hasil
refleksi ini dapat dilakukan melalui dua cara yaitu penilaian secara kognitif, seperti kepuasan
hidup dan hasil penilaian secara emosional terhadap kejadian, seperti merasakan emosi yang
positif atau negatif (Diener, 2002).
Dikemukakan oleh Corsini (2002) bahwa istilah well being itu sendiri adalah a
subjective state of being well, includes happiness, self esteem, and life satisfaction. Dalam
bahasa indonesia well being diterjemahkan menjadi kesejahteraan secara subjective, yang
terdiri dari kebahagiaan dan kepuasaan hidup, selain itu menurut Echlos & Shadily (2000)
istilah well being berarti kesejahteraan.
Subjective well being ini diukur berdasarkan pada perspektif individu yang
bersangkutan, melalui tiga komponen yang saling berhubungan yaitu kepuasan hidup secara
global (global assessment) dan kepuasan dalam domain yang penting dalam hidup, misalnya
cinta, perkawinan, persahabatan, dan lain-lain. Komponen selanjutnya adalah afeksi positif
dan afeksi negatif yang dirasakan oleh individu yang bersangkutan (Diener,dkk.,1997).
Dikemukakan oleh Michalos (2008) bahwa subjective well being adalah kesenjangan
antara persepsi terhadap kehidupan dengan pengertian tentang bagaimana hidup seharusnya.
Menurut Russell (2008) subjective well being adalah persepsi seseorang terhadap
eksistensinya atau pandangan subjective seseorang terhadap pengalaman hidupnya.
Diener & Oishi (2003) berpendapat bahwa subjective well being adalah hasil dari
penilaian individu mengenai kualitas hidupnya. Dinyatakan oleh Diener (2000) bahwa
subjective well being merupakan hasil evaluasi individu mengenai kehidupannya yang berasal
dari evaluasi afeksi dan kognitif. Menurut Diener (2002) beberapa evaluasi dapat dilakukan
melalui penilaian secara kognitif, seperti kepuasan dalam hidup, dan respon-respon emosional
terhadap peristiwa-peristiwa, seperti merasakan emosi yang positif. Adanya pengalaman
emosional juga termasuk sebagai komponen emosional dalam subjective well being (Ehnlich
& Isaacowitz, 2002).
Dikemukakan oleh Diener, dkk., (1997), bahwa subjective well being sebagai hasil
dari evaluasi kehidupan seseorang dan terdiri dari beberapa variabel, seperti kepuasan hidup
dan kepuasan pernikahan, rendahnya tingkat depresi dan kecemasan, dan adanya emosi-emosi
dan suasana hati yang positif.
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
subjective well being merupakan persepsi dan evaluasi seseorang secara subjective terhadap
kepuasan hidupnya dilihat dari kognitif dan afektif yang meliputi penilaian positif terhadap
pengalaman yang dialami.