Compton (2005: 48-53) mengemukakan bahwa berbagai tinjauan
literatur telah lengkap, dan konsensus umum telah muncul tentang faktor
terkuat mengenai subjective well-being yaitu meliputi:
a. Positif self-esteem
Seperti yang telah diduga, sifat pertama yang penting bagi
kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah positif self-esteem. Campbell
(dalam Compton, 2005: 48) menemukan bahwa harga diri adalah
faktor paling penting dari subjective well-being. Bahkan, sulit
membayangkan siapapun dengan harga diri yang rendah yang dapat
merasa puas dengan kehidupannya. Harga diri yang positif dikaitkan
dengan fungsi adaptif yang ada dihampir setiap bidang kehidupan.
b. Pengontrolan persepsi
Perasaan memiliki kendali pribadi mengacu pada keyakinan bahwa
seseorang memiliki sejumlah kendali atas peristiwa dalam kehidupan
yang penting secara pribadi. Tanpa pengertian ini, hidup menjadi
angin puyuh da kacau dari peristiwa acak, yang kebanyakn orang akan
merasa tertekan karenanya.
c. Ekstroversi
Orang ekstrovert adalah orang yang tertarik pada hal-hal di luar
dirinya, seperti lingkungan fisik dan sosial, dan di arahkan ke dunia
pengalaman di luar diri. Sebaliknya orang yang introvert lebih tertarik
pada pikiran dan perasaannya sendiri.
d. Optimisme
Secara umum, orang yang lebih optimis tentang masa depan menjadi
lebih bahagia dan lebih puas dengan kehidupan. Seseorang yang
mengevaluasi diri dengan cara yang positif, percaya bahwa, ia
mengendalikan aspek-aspek penting kehidupan dan berhasil dalam
interaksi sosial akan lebih mungkin melihat masa depan dengan
harapan positif. Optimisme bahkan berdampak pada persepsi
kesehatan fisik sehingga orang yang lebih optimis dilaporkan
mengalami lebih sedikit mengenai masalah kesehatan.
e. Hubungan positif
Faktor kuat yang lain dari subjective well-being adalah adanya
hubungan sosial yang positif. Hubungan positif antara subjective wellbeing yang tinggi dan kepuasan dengan keluarga dan teman adalah
salah satu dari beberapa huubungan yang benar-benar ditemukan
secara universal dalam studi lintas budaya.
f. Perasaan kebermaknaan dan tujuan hidup
Faktor ini juga merupakan faktor penting dari subjective well-being.
Dalam studi subjective well-being, variabel ini sering diukur sebagai
religiusitas. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa orang-orang yang
mempunyai keyakinan dan kepentingan beragama yang kuat dalam
kehidupan mereka dan lebih sering hadir dilayanan keagamaan juga didapati
mempunyai kesejahteraan yang lebih baik. Tentu saja salah satu alasan
temuan ini adalah bahwa agama memberikan rasa kebermaknaan bagi orang-
orang. Selain itu bahwa agama memberikan dukungan sosial dan
meningkatkan harga diri melalui proses verifikasi diri ketika orang tersebut
bergaul dengan orang lain yang saling berbagi nilai kehidupan.
Menurut Ben-Zur (2003: 68-69) ada dua faktor yang dapat
memengaruhi subjective well-being pada remaja, yaitu:
a. Sumber Daya Internal
Salah satu faktor yang mungkin memengaruhi kesejahteraan adalah
sumberdaya yang dmiliki orang. Sumber daya adalah karateristik
material, sosial, atau pribadi yang dimiliki seseorang yang dapat
digunakan untuk membuat kemajuan ke arah tujuan pribadinya.
b. Pola Asuh Orangtua
Banyak faktor keluarga dan orangtua dapat membentuk dan
menentukan kognitif, atribut kepribadian remaja. Pengaruh orangtua
dan keluarga pada karakteristik remaja dapat bersifat genetik atau
lingkungan.
Menurut Diener dan Suh (2000: 67-69) ada dua faktor kuat pada
subjective well-being, yaitu self esteem dan konsistensi diri. Orang yang
mempunyai self esteem yang tinggi dapat dimungkinkan menemukan lebih
banyak kebermaknaan dalam hidup. Sedangkan memiliki konsistensi diri
yang koheren dipandang sebagai faktor kuat yang lain karena dapat
meningkatkan kesehatan mental yang kemudian berpengaruh pada
presepsi diri.
Berdasarkan berbagai uraian di atas subjective well-being
mempunyai berbagai faktor diantaranya positif self-esteem, pengontrolan
persepsi, ekstroversi, optimisme, hubungan positif perasaan kebermaknaan
dan tujuan hidup, konsistensi diri, sumber daya internal dan Pola asuh
orangtua.
