Menurut Boeree (2010) dalam personality theories, terdapat banyak
teori kepribadian yang terus berkembang. Teori-teori tersebut diawali
dengan teori kepribadian psikoanalitik menurut Sigmund Freud (1856-
1939), dilanjutkan teori kepribadian person-centered oleh Carl R. Rogers
(1902-1987), dilanjutkan dengan teori sifat GW Allport (1897-1967), juga
teori tiga faktor Hans. J Eysenck (1916-1998) dan teori sifat The Big Five
Theory oleh Lewis R. Goldberg. The Big Five Theory merupakan teori
sifat yang mudah untuk dikaji secara akal sehat karena mencakup semua
sifat kepribadiaan yang ada dalam sisi kehidupan manusia. Teori ini
pertama kali dikembangkan oleh Warren Norman pada tahun 1963. Lewis
R. Goldberg telah melakukan penelitian secara sistematik dengan
menggunakan trait kata sifat tunggal. Taksonomi Goldberg telah diuji
dengan menggunakan analisa faktor, yang hasilnya sama dengan struktur
yang ditemukan oleh Norman tahun 1963. Menurut Goldberg (1990 dalam
Larsen & Buss, 2002), big five terdiri dari: (a) Surgency atau extraversion,
(b) Agreeableness, (c) Conscientiousness (d) Emotional Stability, dan (e)
Intellec atau Imagination.
Sementara itu, pengukuran big five yang menggunakan trait kata
tunggal sebagai sebuah aitem, dikembangkan oleh Paul T. Costa & Robert
R. McCrae (dalam Feist & Feist, 2009) yang akan digunakan dalam
penelitian ini. Pada kali ini pembahasan mengenai The Big Five Theory
sebagai indikator kepribadian akan diteliti sebagai prediktor Subjective
Well-Being .
