Faktor yang memengaruhi Subjective Well-Being (skripsi dan tesis)

Menurut beberapa ahli ada beberapa faktor yang diketahui
mempengaruhi Subjective Well-Being :
1. Faktor genetik
Diener et al (2005) menjelaskan bahwa walaupun peristiwa di dalam
kehidupan mempengaruhi Subjective Well-Being , seseorang dapat
beradaptasi terhada perubahan tersebut dan kembali kepada ‘set
point’ atau ‘tingkat adaptasi’ yang ditentukan secara biologis.
Stabilitas dan konsistensi yang ada dalam Subjective Well-Being
dapat terjadi karena peran besar dari komponen genetis; sehingga
terdapat sebagian orang yang lahir dengan kecenderungan untuk
bahagia, dan ada juga yang tidak. Sehingga faktor genetik
tampaknya mempengaruhi karakter respon emosional seseorang
pada kondisi kehidupan tertentu.
2. Kepribadian
Subjective Well-Being adalah sesuatu yang stabil, konsisten, dan
secara empiris berhubungan dengan konstruk kepribadian. Lykken
& Tellegen (dalam Diener et al 1999) menyatakan bahwa
kepribadian mempunyai efek terhadap Subjective Well-Being saat
itu sebesar 50%, sedangkan pada jangka panjangnya, kepribadian
mempunyai efek sebesar 80% terhadap Subjective Well-Being .
Orang yang memiliki kepribadian mudah gugup, maka akan
memengaruhi Subjective Well-Being , sehingga dampaknya orang
tersebut menjadi merasa tidak nyaman dan tidak bahagia.
3. Faktor demografis
Secara umum, Diener (dalam Diener et al 2005) mengatakan bahwa
efek faktor demografis (misalnya pendapatan, pengangguran, status
pernikahan, umur, jenis kelamin, pendidikan, ada tidaknya anak)
terhadap Subjective Well-Being biasanya kecil. Faktor demografis
membedakan antara orang yang sedang-sedang saja dalam
merasakan kebahagiaan (tingkat Subjective Well-Being sedang), dan
orang yang sangat bahagia (tingkat Subjective Well-Being tinggi).
4. Hubungan sosial
Diener & Seligman (dalam Pavot et al 2004) menemukan bahwa
hubungan sosial yang baik merupakan sesuatu yang diperlukan, tapi
tidak cukup untuk membuat Subjective Well-Being seseorang tinggi.
Artinya, hubungan sosial yang baik tidak membuat seseorang
mempunyai Subjective Well-Being yang tinggi, namun seseorang
dengan Subjective Well-Being yang tinggi mempunyai ciri-ciri
berhubungan sosial dengan baik.
5. Dukungan sosial
Dukungan sosial dikatakan oleh Arygle (dalam Heady et al 2001)
merupakan salah satu peubah determinan dari Subjective Well-Being
. Dalam hubungannya dengan komponen Subjective Well-Being ,
Walen & Lachman (2000) mengatakan bahwa dukungan sosial yang
dipersepsikan dapat menjelaskan sebagian besar varians pada
kepuasan hidup dan afek positif.
6. Pengaruh masyarakat atau budaya.
Diener (dalam Pavot et al, 2004) mengatakan bahwa perbedaan
Subjective Well-Being dapat timbul karena perbedaan kekayaan
negara. Diterangkan lebih lanjut bahwa kekayaan sebuah negara
dapat menimbulkan Subjective Well-Being yang tinggi karena
biasanya negara yang kaya menghargai hak asasi manusia,
memungkinkan orang yang hidup di tempat tersebut untuk berumur
lebih panjang, dan memberikan demokrasi.
7. Proses kognitif
Disposisi kognitif seperti harapan (Synder dalam Diener et al..
2005), kecenderungan seseorang untuk optimis (Scheier & Carver
dalam Diener et al 2005), dan kepercayaan bahwa dirinya
mempunyai kendali ditemukan mempengaruhi Subjective WellBeing (Grob, Stetensko, Sabatier, Botcheva, & Macek dalam Diener
et al 2005). Perbedaan Subjective Well-Being juga dihasilkan dari
perbedaan individu dalam bagaimana individu tersebut berpikir
tentang dunia (Diener et al 2005).
8. Tujuan (goals)
Emmons, Little, Freund, & Klinger (dalam Diener & Scollon, 2003)
menyatakan bahwa mempunyai sebuah tujuan merupakan hal yang
penting bagi seseorang, dan kemajuan terhadap pencapaian tujuan
tersebut adalah hal yang penting bagi Subjective Well-Being -nya.
Cantor (dalam Diener et al 2003) menekankan pada pentingnya
mengetahui tugas yang dihadapi dalam tahap perkembangan
seseorang, dimana kultur juga berperan dalam menentukan tujuan
tertentu untuk tiap tahap.
9. Kebermaknaan Hidup
Diener (dalam Compton, 2006) menyatakan bahwa Subjective WellBeing dapat dipengaruhi oleh kebermaknaan hidup. Morgan et al
(2009) mengungkapkan bahwa kebermaknaan hidup merupakan hal
penting yang memengaruhi karena bila terpenuhi maka
menimbulkan kebahagiaan dan tercapainya Subjective Well-Being .
Sementara itu, Muba (2009) menemukan Subjective Well-Being tersebut
juga dipengaruhi oleh harga diri, rasa tentang pengendalian yang bisa
diterima, sifat terbuka, optimisme, hubungan yang positif, kontak sosial,
pemahaman tentang arti dan, tujuan, dan penyelesaian konflik dalam diri.