Afek negatif termasuk suasana hati atau emosi yang tidak
menyenangkan serta merefleksikan respon-respon negatif yang dialami oleh
individu terhadap hidup mereka, kesehatan, peristiwa-peristiwa yang terjadi
dan lingkungan mereka (Diener & Oishi, 2005). Terdapat beberapa emosi
negaif yang sering dialami individu seperti rasa marah, sedih, cemas,
bersalah terhadap orang lain, iri hati atau dengki, serta rasa malu. Selain
beberapa perasaan tersebut terdapat pula afek negatif lainnya seperti
kesepian dan keputusasaan yang merupakan indikator dari Subjective wellbeing.
Individu yang memiliki tingkat subjective well-being yang tinggi ialah
mereka yang jarang megalami afeksi negatif, Diener dan Larsen (1985).
Menurut (Watson, dkk, 1988) keadaan afek negatif yang tinggi adalah
keadaan dimana seseorang merasakan kemarahan, kebencian jijik, rasa
bersalah, ketakutan dan kegelisahan; sedangkan afek yang rendah adalah
keadaan dimana seseorang merasakan ketenangan dan kedamaian.
Respon-respon emosional atau afektif, baik dialami sebagai mood (suasana
hati) atau emosi, cenderung merepresentasikan informasi secara langsung
dan evaluasi-evaluasi kejadian yang relevan di dalam lingkungan mereka.
Walaupun beberapa emosi negatif memang diharapakan terjadi dalam hidup
dan dibutuhkan agar seseorang dapat hidup secara efektif, emosi negatif
seseorang yang sering terjadi dan berkepanjangan mengindikasikan bahwa
seseorang percaya bahwa hidupnya berjalan dengan buruk (Diener, dkk.,
2006). Selain itu disampaikan juga individu yang merasakan pengalaman
emosi negatif yang berkepanjangan dapat menggangu individu dalam
bertingkah laku secara efektif dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat
membuat hidupnya tidak menyenangkan.
