Penyebab dan Faktor yang mempengaruhi Kelelahan Kerja (skripsi dan tesis)

1) Penyebab Kelelahan Kerja
Penyabab terjadinya kelelahan kerja menurut sutalaksana
dkk (1995):
a) Faktor fisiologis yaitu akumulasi dasi substansi toksin (asam
laktat) dalam darah, penurunan waktu reaksi.
b) Faktor psikologi yaitu konflik yang mengakibatkan stress yang
berkepanjangan ditandai dengan menurunnya prestasi kerja,
rasa lelah.
Kontraksi otot rangka yang lama dan kuat, dimana
proses metabolisme tidak mampu lagi meneruskan supply energi
yang dibutuhkan serta membuang sisa metabolisme, khususnya
asam laktat. Jika asam laktat yang banyak terkumpul, otot akan
kehilangan kemampuannya. Terbatasnya aliran darah pada otot
(ketika berkontraksi), otot menekan pembuluh darah dan membawa
oksigen sehingga menyebabkan terjadinya kelelahan (Budiono dkk,
2003).
2) Faktor yang mampengaruhi Kelelahan Keja
a) Faktor dari dalam Individu ( Faktor Internal )
(1) Usia
Usia mempengaruhi ketahanan tubuh dan kapasitas
kerja seseorang yang berakibat pada kelelahan. Salah satu
indikator dari kapasitas kerja adalah kekuatan otot
seseorang. Semakin tua umur seseorang, maka semakin
menurun kekuatan ototnya. Kekuatan otot yang dipengaruhi
oleh umur akan berakibat pada kemampuan fisik tenaga
kerja untuk melakukan pekerjaannya. Laki-laki maupun
wanita pada umur sekitar 20 tahun merupakan puncak dari
kekuatan otot seseorang, dan pada umur sekitar 50 – 60
tahun kekuatan otot mulai menurun sekitar 15 – 25%
(Setyowati dkk,2013).
(2) Jenis Kelamin
Perbedaan secara fisik antara jenis kelamin wanita
dan laki-laki terletak pada ukuran tubuh dan kekuatan
ototnya. Kekuatan otot wanita relatif kurang jika
dibandingkan dengan kekuatan otot laki-laki. Kekuatan otot
ini akan mempengaruhi kemampuan kerja seseorang yang
merupakan penentu dari terjadinya kelelahan. Permasalahan
wanita lebih kompleks dibandingkan laki-laki, salah
satunya adalah haid. Wanita yang sedang mengalami haid
cenderung cepat lelah dibandingkan wanita yang tidak
mengalami haid (Suma’mur, 2013).
(3) Status Gizi
Keadaan gizi yang baik merupakan salah satu ciri
kesehatan yang baik, sehingga tenaga kerja yang produktif
terwujud. Status gizi merupakan salah satu penyebab
kelelahan. Seorang tenaga kerja dengan keadaan gizi yang
baik akan memiliki kapasitas kerja dan ketahanan tubuh
yang lebih baik, begitu juga sebaliknya(Budiono, dkk,
2003). Pada keadaan gizi buruk, dengan beban kerja berat
akan mengganggu kerja dan menurunkan efisiensi dan
ketahanan tubuhsehingga mudah terjangkit penyakit
sehingga mempercepat timbulnya kelelahan. Status gizi
seseorang dapat diketahui melalui nilai IMT (Indeks Massa
Tubuh). IMT merupakan alat yang sederhana untuk
memantau status gizi seseorang khususnya yang berkaitan
dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. IMT
dihitung dengan rumus berat badan dalam kilogram dibagi
dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (Supariasa, 2012)
(4) Kondisi Psikologis
Kelelahan psikologis timbul dalam perasaan orang
yang bersangkutan dan terlihat dengan tingkah lakunya atau
pendapat-pendapatnya yang tidak konsekuen lagi serta
jiwanya yang labil dengan adanya perubahan walaupun
sendiri dalam kondisi lingkungan atau kondisi tubuhnya.
(5) Status Kesehatan
Status kesehatan mempengaruhi kelelahan
dikarenakan kondisi tenaga kerja yang tidak dalam keadaan
sehat dapat mempengaruhi terjadi kelelahan kerja. hal ini
juga dapat dilihat dari riwayat penyakit yang diderita oleh
seseoorang. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan
kelelahan:
(a) Penyakit jantung
Kerja fisik yang sangat berat merupakan kondisi yang
sangat menegangkan yang harus dihadapi oleh sistem
sirkulasi normal. Hal ini karena pada beberapa kondisi,
aliran darah yang melalui otot dapat meningkat lebih
dari 20 kali lipat. Kenaikan dari aliran darah ini juga
dapat meningkatkan aktivitas jantung lebih dari
normal. Kenaikan aliran darah ini salah satunya adalah
dikarenakan berkurangnya O2 dalam jaringan otot
(Guyton, 1997). Kekurangan O2 yang berkurang
secara cepat memungkinkan terjadi metabolisme
anaerobik dimana akan menghasilkan asam laktat yang
mempercepat kelelahan (Santoso, 2004).
(b) Hipertensi.
Hipertensi adalah suatu penyakit dimana salah satu
penyebabnya adalah karena tekanan tinggi pada arteri
sehingga arteri kehilangan kelenturannya untuk
mengembang dan menyempit sehingga terjadi
penyumbatan dan mengganggu peredaran darah
(Gunawan,2001). Terbatasnya aliran darah pada otot
(ketika berkontraksi), otot menekan pembuluh darah
dan membawa O2 memungkinkan terjadinya kelelahan
( Gunawan, 2001).
(c) Penyakit ginjal
Pengaruh kerja terhadap faal ginjal terutama
dihubungkan dengan pekerjaan yang perlu
mengerahkan tenaga dan yang dilakukan dalam cuaca
kerja panas. Kedua-duanya mengurangi peredaran
darah ke ginjal dengan akibat gangguan penyediaan
zat–zat yang diperlukan oleh ginjal (Suma’mur, 2009).
b) Faktor dari luar Individu ( Faktor Eksternal )
(1) Kondisi Lingkungan tempat kerja
Lingkungan kerja yang buruk dapat
mempengaruhi kelelahan seseorang. Lingkungan kerja yang
panas (> 26,7○C) dan kebisingan (> 85 dB) merupakan
beban tambahan tenaga kerja yang dapat mempengaruhi
tingkat ketelitian atau konsentrasi seseorang dalam
melakukan aktivitasnya dan dapat menyebabkan gangguan
psikis seseorang misalnya susah tidur atau kurang istitiraha
sehingga berdampak pada peningkatan kelelahan
(Setyowati dkk, 2014).
Menurut Santosa (2012) faktor yang
mempengaruhi lingkungan kerja dibagi menjadi 3 :
(a) Faktor fisik yaitu faktor fisik yang ada di lingkungan
kerja seperti : bising, getaran, pencahayaan, radiasi, dan
tekanan panas.
(b) Faktor kimia, yaitu bahan baku atau pembantu yang
prosesnya menggunkan bahan kimia seperti gas-gas
berbahaya, larutan kimia, limbah, dal lain-lain.
(c) Faktor Biologi, yaitu faktor-faktor yang menjadi
penyebab masalah kesehatan atau penyakit akibat kerja,
faktor-faktor tersebut dapa berada sendiri atau bersamasama dengan faktor-faktor bahaya lainnya seperti :
bakteri, virus, jamur, parasit, binatang, dan tanaman.
(2) Beban Kerja fisik
Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan
tersendiri dalam hubungan dengan beban kerja. Mungkin
diantara mereka lebih cocok untuk beban fisik, atau mental,
atau sosial. Namun sebagai persamaan yang umum, mereka
hanya mampu memikul beban pada suatu berat tertentu.
Bahkan ada beban yang dirasa optimal bagi seseorang.
Inilah maksud penempatan seorang tenaga kerja yang tepat
padapekerjaan yang tepat. Derajat tepat suatu penempatan
meliputi kecocokan, pengalaman, ketrampilan, motivasi
dan lain sebagainya (Suma’mur, 2009).
Begitu juga dengan oksigen, bahwa setiap individu
mempunyai keterbatasan maksimum untuk oksigen yang
dikonsumsi. Semakin meningkatnya beban kerja, maka
konsumsi oksigen akan meningkat secara proporsional
sampai didapat kondisi maksimumnya. Beban kerja yang
lebih tinggi yang tidak dapat dilaksanakan dalam kondisi
aerobik, disebabkan oleh kandungan oksigen yang tidak
mencukupi untuk suatu proses aerobik. Akibatnya adalah
manifestasi rasa lelah yang ditandai dengan meningkatrnya
kandungan asam laktat (Eko Nurmianto, 2004).