Faktor-faktor Motivasi (skripsi dan tesis)

Untuk dapat menumbuhkan motivasi kerja yang positif didalam diri
pegawai, berdasarkan gagasan Herzberg, maka seorang pemimpin harus sungguhsungguh memberikan perhatian pada faktor-faktor sebagai berikut (Manullang,
1987) dalam (Marifa,2005):
a. Achievement (Keberhasilan Pelaksanaan)
Agar seorang bawahan dapat berhasil dalam pelaksanaan pekerjaannya,
maka pimpinan harus memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mencapai
hasil.Pimpinan juga harus memberi semangat kepada bawahan agar dapat
mengerjakan sesuatu yang dianggapnya tidak dikuasainya. Apabila ia berhasil
melakukan hal tersebut, maka pimpinan harus menyatakan keberhasilannya itu.
b.Recognition (Pengakuan)
Adanya pengakuan dari pimpinan atas keberhasilan bawahan melakukan
suatu pekerjaan. Pengakuan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara,
misalnya dengan menyatakan keberhasilan langsung ditempat kerjanya,
memberikan surat penghargaan, hadiah berupa uang tunai, medali, kenaikan
pangkat atau promosi.
c. The Work It Self (Pekerjaan Itu Sendiri)
Pimpinan membuat usaha-usaha yang nyata dan meyakinkan, sehingga
bawahan mengerti akan pentingnya pekerjaan yang dilakukannya. Untuk itu harus
dihindarkan kebosanan yang mungkin muncul dalam pekerjaan serta penempatan
pegawai yang sesuai dengan bidangnya.
d. Responsibilities (Tanggung Jawab)
Untuk dapat menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap bawahan,
maka pimpinan harus menghindari pengawasan yang ketat, dengan memberikan
kesempatan kepada bawahan untuk bekerja sendiri sepanjang pekerjaan
itumemungkinkan dan menumbuhkan partisipasi akan membuat bawahan terlibat
dalam perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan.
e. Advacement (Pengembangan)
Pengembangan dapat menjadi motivator yang kuat bagi
bawahan.Pimpinan dapat memulainya dengan memberi bawahan suatu pekerjaan
yang lebih bertanggung jawab.Apabila hal ini sudah dilakukan, pimpinan dapat
memberikan rekomendasi tentang bawahan yang siap untuk pengembangan, untuk
menaikkan pangkatnya atau mengikuti pendidikan dan pelatihan lebih lanjut.
Kelima faktor inilah yang melandasi kerangka berpikir program motivasi
dalam organisasi.Pengakuan status dapat meningkatkan percaya diri. Pekerjaan
yang variatif pada suatu kondisi tertentu akan menjadi perangsang kerja. Latihan
disiplin dan pengendalian diri merupakan manifestasi,dan kepercayaan pemimpin
kepada anak buah yang sangat strategis adalah untuk memompa
semangat.Terakhir adalah pengembangan diri merupakan puncak yang dapat
meningkatkan kehendak pegawai untuk berprestasi.
Selain kelima faktor diatas, menurut Kopelna (1986), imbalan akan
berpengaruh terhadap motivasi yang pada akhirnya secara langsung
mempengaruhi kinerja individu. Penilitian Robinson dan Larsen (1990), terhadap
para pegawai penyuluh kesehatan pedesaan di Kolombia menunjukkan bahwa
pemberian imbalan mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kinerja
pegawai dibanding pada kelompok pegawai yang tidak diberi.
Dalam Ilyas (2001), dijelaskan bahwa setiap personil akan bekerja keras
dan sungguh hati bila usaha mereka menghasilkan apa yang mereka inginkan,
butuhkan, dan bernilai. Artinya personil akan termotivasi tinggi apabila usaha
mereka menghasilkan sesuatu yang diharapkan dan bernilai. Konsekuensinya,
lingkungan kinerja tinggi harus memfasilitasi peluang kepada setiap personil
untuk menghasilkan keluaran yang mereka harapkan.
3. Aspek-aspek Motivasi
Menurut Jurgensen (dalam meuthia, 1991) motivasi kerja memiliki
aspek-aspek sebagai berikut:
a. Pekerjaan yang menimbulkan rasa aman, yaitu segala pekerjaan yang
dilakukan dapat menimbulkan rasa aman bagi karyawan tersebut.
b. perusahaan yang memberikan rasa bangga terhadap karyawan, yaitu tempat
dimana karyawan bekerja mempunyai nama baik.
c. Kesempatan untuk maju, yaitu kesempatan untuk promosi dan kesempatan
untuk memperoleh pengalaman baru.
d. Kelompok kerja, yaitu teman sekerja yang dapat diajak kerja sama dalam
melakukan suatu pekerjaan.
e. Pekerjaan itu sendiri, yaitu pekerjaan yang sesuai dengan minat, bakat,
pendidikan, dan pengalaman.
f. Gaji, yaitu upah yang tinggi menurut karyawan.
g. Hubungan antara atasan dan bawahan, yaitu gaya atasan terhadap bawahan dan
atasan yang mempunyai hubungan yang baik dengan bawahannya.
h. Jam kerja, yaitu waktu kerja yang singkat atau waktu kerja tidak terlalu lama
i. Kondisi kerja, yaitu keadaan tempat kerja seperti pengaturan udara, kebersihan.
Sedangkan Siegel dan Lane (dalam Sharma, 2002) menjelaskan bahwa
aspek motivasi kerja itu meliputi beberapa hal, antara lain:
a. Motivasi fisikal
yaitu melalui suatu aktivitas bekerja maka kebutuhan untuk kesegaran tubuh
secara fisik akan tercapai.
b. Motivasi income
Yaitu melalui bekerja maka pegawai mengharapkan akan menerima imbalan
yangsesuai dengan tenaga dan fikiran yang diberikan.
c. Motivasi kepuasan diri
Yaitu melalui bekerja akan diperoleh suatu kebutuhan kepuasan atas apa yang
dikerjakan.
d. Motivasi aktualisasi diri
Yaitu kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan diri kepada pimpinan, teman
sekerja dan juga kepada lingkungannya.
e. Motivasi sosial
Yaitu dengan bekerja maka karyawan akan menambahkan pergaulan secara
sosial.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja
memiliki aspek-aspek sebagai berikut: Pekerjaan yang menimbulkan rasa aman,
perusahaan yang memberikan rasa bangga terhadap karyawan, Kesempatan untuk
maju, Kelompok kerja, Pekerjaan itu sendiri, Gaji, Hubungan antara atasan dan
bawahan, Jam kerja, Kondisi kerja, motivasi fisikal, Motivasi income, Motivasi
kepuasan diri, Motivasi aktualisasi diri, serta Motivasi sosial