Membangun Ekuitas Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Kapferer (2005 dalam Ferrinadewi, 2008:170-171), menyatakan bahwa membangun, mengukur dan mengatur brand equity, pemasar dapat salah satu dari 3 perspektif berikut ini: 1. Customer-based Dari sudut pandang konsumen, brand equity merupakan bagian dari daya tarik kepada suatu produk dari sebuah perusahaan yang ditimbulkan bukan dari atribut produk itu sendiri melainkan dari advertising, pengalaman konsumsi aktivitas lain, hal-hal semacam ini dapat mengembangkan asosiasi dan hubungan dekat anatara merek dan konsumen. 2. Company-based Berdasarkan sudut pandang perusahaan, merek yang kuat menjelaskan beberapa tujuan, termasuk didalamnya membuat iklan dan promosi yang efektif, membantu melindungi distribusi produk, memfasilitasi pertumbuhan dan perluasan kategori produk. Brand equity dalam istilah ekonomi dapat di pandang sebagai derajat ketidak-efesiensi pasar yang berhasil dikendalikan oleh merek perusahaan. 3. Financial-based Merek adalah asset yang dapat diperjualbelikan seperti pabrik atau peralatan. Keuntungan secara Financial diperoleh dari harga merek tersebut. Harga merek merefleksikan harapan akan nilai yang semakin tinggi di masa depan terutama nilai pada aliran kas perusahaan. Menurut Kotler dan Keller (2009:268-269), menyatakan bahwa membangun ekuitas merek dengan menciptakan struktur pengetahuan merek yang tepat untuk konsumen yang tepat. Proses ini bergantung pada semua kontak yang berhubungan dengan merek-baik dilakukan oleh pemasar maupun bukan. Meskipun demikian dari perspektif manajemen pemasaran ada tiga kumpulan utama penggerek ekuitas merek: 1. Pilihan awal untuk elemen atau identitas merek yang membentuk merek (nama merek, URL, logo, lambing, karakter, juru bicara, slogan, lagu, kemasan dan papan iklan). 2. Produk dan jasa serta semua kegiatan pemasaran dan program pemasaran pendukung yang menyertainya. 3. Asosiasi lain yang diberikan secara tidak langsung ke merek dengan menghubungkan merek tersebut dengan beberapa entitas lain (orang, tempat, atau barang). Menurut Keller (2003 dalam Ferrinadewi, 2008:170), mengajukan beberapa kriteria dalam memilih dan merancang elemen-elemen merek untuk membangun brand equity yaitu: 1. Mudah diingat. 2. Memiliki arti tertentu. 3. Mengandung daya tarik secara estetika. 4. Dapat digunakan baik untuk maupun dalam kategori produk, lintas geografis dan budaya serta segmen pasar. 5. Mudah diadaptasi dan fleksibel sepanjang waktu. 6. Terlindungi secara hukum dari pesaing. Berdasarkan dari beberapa ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa membangun ekuitas merek adalah menciptakan struktur pengetahuan merek yang tepat untuk konsumen yang tepat. Juga bisa mengajukan beberapa kriteria dalam memilih atau merancang elemen-elemen merek supaya mudah diingat oleh konsumen, memiliki arti tertentu, mengandung daya tarik secara estetika, mudah diadaptasi dan fleksibel sepanjang waktu dan terlindungi secara hukum dari pesaing.