Menurut (Colquitt, LePine, Piccolo, Zapata, dan Rich, 2012) dalam Gobena dan
dan Van Dijke (2016) kepercayaan afektif adalah perasaan terhadap pihak lain yang
melampaui penilaian rasional dan akibatnya memerlukan investasi emosional dan
perhatian serta kepedulian yang tulus. Dalam hal ini kepercayaan adalah gagasan
afektif yang menunjukkan keterikatan emosional oleh mereka yang berada dalam
hubungan kepercayaan. Kepercayaan afektif berhubungan dengan dengan perasaan
seseorang, suasana hati atau emosional yang berkaitan dengan sasaran agar dapat
dipercaya. Menurut (Butler, 1999; Mayer dkk., 1995; Onyx dan Bullen, 2000;
Rousseauetal., 1998; Warren, 1999; Zand, 1972) dalam (Kim, n.d.) Landasan afektif
kepercayaan ini menyiratkan kemauan untuk menjadi rentan terhadap perilaku orang
lain dan meninggalkan atau secara signifikan mengurangi keinginan untuk melakukan
mekanisme kontrol untuk memeriksa keputusan pemerintah Oleh karenanya,
Kepercayaan afektif tumbuh dari interaksi sosial dengan orang lain, kemudian
kepercayaan ini merefleksikan kepercayaan terhadap orang lain yang berkembang
bersamaan dengan kepedulian terhadap kesejahteraan mereka. Kepercayaan berbasis
afektif membutuhkan investasi emosional yang mendalam dalam sebuah hubungan.
Kepercayaan ini melibatkan adanya rasa empati, hubungan baik dan
keterbukaan. Kepercayaan afektif bisa timbul jika pihak-pihak yang terlibat memiliki
keterikatan emosi yang menyebabkan pihak tersebut tidak memiliki keraguan dalam
menjalin hubungan kerjasama. Sebagai contoh, evaluasi yang memuaskan atas kinerja
mitra sebelumnya dapat mengarah pada kepercayaan kognitif yang pada gilirannya
mempengaruhi keinginan untuk berinvestasi lebih lanjut dalam hubungan bisnis. Bukti
kepercayaan afektif, bagaimanapun, dapat ditunjukkan jika kedua belah pihak merasa
bahwa ikatan emosional telah berkembang yang memungkinkan rasa aman untuk
difasilitasi (Zur, Terawatanavong, dan Webster, 2012)
