Process Integration (skripsi dan tesis)

Hamidin dan Surendro dalam Majid Dan Dwiyanto 2017, menjelaskan bahwa integrasi adalah penggabungan bagian atau aktivitasaktivitas hingga terbentuk keseluruhan sistem. Integrasi dapat meningkatkan hubungan disetiap rantai pasokan, memfasilitasi pengambilan keputusan, penciptaan nilai dan informasi dari upstream sampai dengan downstream yaitu konsumen. Integrasi dalam rantai pasokan memperlihatkan sebuah hubungan kolaboratif yang sangat kompleks antar pihak yang ada dalam rantai pasokan yang apabila dapat dikelola dengan baik akan dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam proses produksi dalam rangka meningkatkan profit perusahaan dan memuaskan konsumen (Cousineau dalam Majid Dan Dwiyanto,2017). Suatu integrasi harus dicapai oleh organisasi atau perusahaan yang terlibat di dalam Supply Chain Management dan seluruh Supplier pengadaan bahan. Tujuan dari Supply Chain Management adalah mengintegrasikan seluruh proses operasional perusahaan mulai dari hulu (upstreams) dan ke hilir (downstreams) sampai pada pengguna akhir, melalui penyediaan produk, informasi, dan jasa guna dalam meningkatkan nilai tambah bagi konsumen dan stakeholder lainnya (Setiawan dan Rahardian dalam Hakim, 2018). Ada beberapa tahapan untuk mencapai suatu sistem SCM yang terintegrasi, dalam pengembangan dari manajemen logistik ke manajemen Supply Chain menurut (Indrajit dan Djokopranoto dalam ariani,2013), terdiri dari beberapa tahapan yaitu :
1. Tahap 1 : Dasar (Baseline) Pada tahap ini fungsi produksi dan fungsi logistik masih melakukan aktivitas masing-masing dan terpisah. Bagian produksi tidak   memikirkan mengenai persediaan yang ada, kurangnya persediaan ataupun persediaan yang menumpuk, karena bagian produksi hanya bertugas dalam memproduksi suatu produk sesuai dengan mutu yang telah ditetapkan.
 2. Tahap 2 : Fungsional integrasi (Fungsional Integration) Menggabungkan fungsi-fungsi yang mempunyai aktivitas yang hampir sama atau fungsi yang berdekatan, mulai dipertimbangkan pada tahapan ini, karena dalam hal ini proses integrasi sudah mulai dipertimbagkan.
 3. Tahap 3 : Integrasi secara internal (Internal Integration) Semua fungsi yang terkait di dalam suatu organisasi atau perusahaan memerlukan proses Integrasi secara internal untuk melakukan perencanaan kerangka kerja dan pengawasan.
4. Tahap 4 : Integrasi secara eksternal Merupakan tahap akhir dan tahap sebenarnya dari Supply Chain Integration, karena tahap ini melanjutkan dari tahap perencanaan dan pengawasan (Internal Integration), yaitu ke hulu (Upstreams) dan ke hilir (Downstreams), sampai ke pelanggan. Pola integrasi Supply Chain perusahaan mencerminkan fokus operasional perusahaan dalam bersaing di dunia bisnis. Dalam melakukan pengintegrasian perusahaan dihadapkan pilihan kearah mana pola integrasi supply chain nya, apakah condong ke internal atau eksternal (kearah pemasok,konsumen, atau kedua duanya (Setiawan dan Santoso dalam ariani, 2013).
Empat jenis integrasi yang diperkenalkan oleh Noord dikutip Becker dkk dalam ariani, 2013) yaitu :
 1. Integrasi fisik, mengacu pada perubahan dalam proses dan aktivitas untuk meningkatkan dan efisiensi proses inti.
 2. Integrasi informasi, mengacu pada pertukaran informasi yang berhubungan dengan tingkat inventori, perencanaan transportasi/manufaktur, peramalan, status aktual proses dan sebagainya.
 3. Integrasi koordinasi, mengacu pada keselarasan proses pengambilan keputusan disepanjang rantai pasok.
4. Integrasi desain rantai pasok, mengacu pada kerjasama di dalam perubahan struktur rantai pasokan. Standarisasi yang terjadi pada integrasi menjadikan integrasi harus dapat dikarakteristikan sebagai kerjasama, kolaborasi, berbagi informasi (Information Sharing), kepercayaan (Trust), kemitraan (Partnership), berbagi teknologi (Shared Technology), kompatibilitas, berbagi risiko dan manfaat, komitmen dan visi yang sama,kebergantungan dan berbagi proses utama (Hamidin dan Surendro dalam Ariani, 2013).
Menurut Rahadi dalam Ariani 2013, tingkat penerapan dari process integration dapat diukur melalui :
1. Aktivitas logistik diutamakan.
2. Aktivitas logistik memiliki integritas yang baik.
3. Aktivitas produksi yang terkoordinasi.
4. Arus material atau bahan efektif.