Content Marketing (skripsi dan tesis)

Menurut Pulizzi dalam (Bening & Kurniawati, 2019), Content Marketing
adalah proses pemasaran untuk menciptakan dan mendistribusikan konten
yang bernilai dan menarik dengan tujuan mengajak, memperoleh, dan
melibatkan target sasaran yang jelas dan dipahami agar dapat mendorong
tindakan pelanggan yang menguntungkan.
Menurut (Meilyana, 2017) Content Marketing adalah sesuatu yang
diciptakan atau dibagikan dalam bentuk long-form (Article, E-book, Blog),
short-form (update di Twitter, Instagram, Facebook) dan juga percakapan
lainnya (diskusi online, seperti memberi komentar di forum online) yang
memiliki nilai relevan untuk menarik pelanggan dan mendorong nya bertindak
tanpa harus melakukan penjualan secara terus menerus.
Menurut Heidi Cohen seorang pakar dari Riverside Marketing Strategies
dalam (Oktini, 2016) Content Marketing adalah memberikan suatu informasi
kepada customer untuk membantu dalam pengambilan keputusan pembelian
suatu produk, meningkatkan nilai lebih pada penggunaan suatu produk, dan
memberikan hiburan tanpa mengesampingkan pencapaian dari tujuan
perusahaan melalui promosi yang tidak mencolok.
Dari ketiga definisi di atas dapat disintesiskan bahwa Content Marketing
adalah sesuatu yang diciptakan dan didistribusikan dengan perencanaan ide
yang matang terlebih dahulu, sehingga dapat memberikan isi yang bernilai dan
memberi solusi pada setiap target audiensi nya serta mendorong nya untuk
andil dalam proses nya tanpa harus melalui suatu promosi yang mencolok.
Menurut Kucuk & Krishnamhurty dalam (Limandono, 2018) menyatakan
bahwa Content Marketing dapat menarik konsumen dengan menciptakan
customer engagement melalui sharing konten dan kreatifitas isi konten yang
informatif, menghibur, dan memberi solusi sehingga dapat mengubah
perubahan dalam pola pemikiran konsumen serta menjadi inspirasi bagi calon
customer ataupun customer suatu perusahaan tersebut. Adanya perubahan
dalam pemikiran serta muncul nya inspirasi baru dari para calon customer dan
customer dapat mengarahkan adanya suatu peluang akan menghasilkan
keuntungan seperti penjualan tanpa harus dipaksakan oleh si perusahaan itu
sendiri.
Hal ini juga didukung dengan hasil statistik Marketo (suatu alat dalam
manajemen sosial media dalam otomatisasi pemasaran) yang menyatakan
bahwa sebanyak 71% konsumen lebih percaya dengan konten yang
memberikan informasi tanpa maksud menawarkan sesuatu, sebanyak 85%
konsumen lebih percaya dengan konten yang dapat mengantarkan mereka
melalui berbagai pilihan dalam pengambilan keputusan, bukan hanya satu
pilihan saja, serta sebanyak 62% konsumen percaya dengan mereka yang
memberikan informasi dan bantuan dalam menggunakan produk yang mereka
beli (Darmawan dalam Lokito et al., 2018).
Meskipun begitu, dalam pernyataan yang disampaikan oleh Karr yang
dikutip dalam (Bening & Kurniawati, 2019) menyebutkan bahwa ketika
mengimplementasikan content marketing suatu perusahaan harus bisa adil
antara waktu pembuatan konten, promosi konten tersebut, serta biaya yang
dihabiskan dalam konten tersebut. Karena masih banyak perusahaan yang
banyak menghabiskan waktu dan promosi konten mereka secara besarbesaran, sehingga mereka mengabaikan biaya konten tersebut, jadi terjadi
ketidaksinambungan dan memberatkan perusahaan tersebut. Oleh karena itu
Karr mengidentifikasi ada 5 dimensi content marketing yang perlu
diperhatikan perusahaan, yaitu:
a. Reader Cognition:
Reader Cognition adalah dimana pembuat konten dapat membuat sang
pembaca dari konten yang mereka buat memahami dan dapat mencerna
suatu isi konten yang dibuat dengan berbagai cara yang dapat menjangkau
seluruh pembaca/target audiensi nya. Seperti dengan cara interaksi visual,
suara, dan kinestetik (menggunakan anggota tubuh dan otak secara
bersamaan). Menurut (Bening & Kurniawati, 2019) ada 2 indikator dalam
Reader Cognition yang berhubungan dengan Content Marketing, yaitu:
1) Mudah dipahami: Content yang dibuat oleh perusahaan harus bisa
dipahami oleh para target audiensi nya dan si target yang
melihat/membaca/menonton content dapat memahami apa yang
terdapat dalam content tersebut.
2) Mudah diingat: Content mampu diingat oleh para pembaca nya,
memiliki suatu keunikan sendiri sehingga mudah untuk diingat.
b. Sharing Motivation:
Sharing Motivation adalah dimana pembuat konten akan berbagi suatu
informasi yang sangat penting dalam dunia sosial. Dengan sharing
motivation, suatu perusahaan dapat memperluas jangkauan pasar mereka ke
target audiensi yang lebih banyak lagi. Ada alasan khusus mengapa
pembuat konten membagikan konten mereka. Pembuat konten berharap
bagi siapapun yang membaca/melihat nya dapat meningkatkan dan
mengedukasi nilai diri si pembaca kepada orang lain, menciptakan dan
menggambarkan identitas diri melalui online/daring, membuat pembaca
mau dan bisa aktif melibatkan diri mereka dalam suatu komunitas,
memperluas jaringan dan pertemanan mereka, membuat pembaca nya sadar
akan kejadian pada lingkungan sekitar. Ada 4 indikator dalam Sharing
Motivation menurut (Bening & Kurniawati, 2019) yang harus diperhatikan,
yaitu:
1) Mampu menjelaskan merek/produk: Content yang dibuat mampu
menjelaskan merek/produk yang ditawarkan oleh perusahaan.
2) Bernilai dan mengedukasi: Content yang dibuat memiliki isi yang
bernilai dan mengedukasi.
3) Memenuhi kebutuhan: Content mampu memenuhi ekspektasi
kebutuhan dari si target audiensi.
4) Informatif: Content mampu memberikan isi yang informatif.
c. Persuasion:
Persuasion adalah dimana pembuat konten dapat membujuk dan
mendorong target audiensi nya untuk menjadi customer suatu perusahaan
melalui konten yang mereka buat. Jadi dapat diartikan sang target audiensi
mau berpindah dari merek pesaing ke merek perusahaan kita melalui konten
yang perusahaan buat, dan itu dapat menghasilkan pengaruh timbal balik
yang menguntungkan pihak audiensi dan perusahaan. Menurut (Bening &
Kurniawati, 2019) terdapat 3 indikator dari Persuasion, yaitu:
1) Disukai: Content dapat disukai dengan para target audiensi nya.
2) Dapat dipercaya: Content dapat dipercaya isi nya.
3) Memiliki pengaruh timbal balik: Content dapat memberikan pengaruh
timbal balik yang menguntungkan antara perusahaan dengan si target
audiensi/pembaca/calon konsumen.
d. Decision Making:
Decision Making adalah keadaan dimana setiap orang memiliki cara dan
faktor yang beragam dalam membuat suatu keputusan yang menurut
mereka sudah sesuai dengan “kriteria pendukung” milik nya. Konten
bermain penting dalam hal ini, dimana konten yang memiliki “kriteria
pendukung” tersebut dapat menjadi solusi bagi setiap orang yang membaca
dan melihat konten tersebut. Perusahaan yang dapat menyajikan konten
seperti itu merupakan praktik terbaik yang dihasilkan oleh perusahaan.
Karena terkadang keputusan dari konsumen bisa dipengaruhi oleh rasa
kepercayaan mereka terhadap perusahaan, bukti-bukti berdasarkan fakta
dan relevan, serta adanya dorongan emosional yang timbul pada diri
konsumen. Menurut (Bening & Kurniawati, 2019) ada 2 indikator dalam
Decision Making, yaitu:
1) Relevan: Content memiliki nilai-nilai relevan.
2) Membantu pengambilan keputusan: Content dapat membantu sang
pembaca content dalam pengambilan keputusan mereka.
e. Factors
Factors adalah hal penting dimana ketika suatu perusahaan membuat
konten, mereka terkadang tidak mempertimbangkan faktor-faktor lain yang
mempengaruhi pihak ketiga di luar konten yang didiskusikan oleh pihak
target audience. Karena konten yang dibuat perusahaan tidak hanya akan
diberi pendapat dan dievaluasi oleh pihak audiensi secara pribadi saja tetapi
juga akan ada andil dari pengaruh teman, keluarga dan lingkungan sekitar
pihak audiensi juga. Ada 3 indikator dari Factors menurut (Bening &
Kurniawati, 2019), yaitu:
1) Bermanfaat bagi kehidupan dan lingkungan sekitar: Content dapat
memberikan suatu manfaat bagi kehidupan si pembaca dan juga
lingkungan sekitar mereka
2) Memenuhi kebutuhan publik: Content mampu memenuhi ekspektasi
kebutuhan publik
3) Sesuai dengan kode etik dan tidak dimanipulasi: Content dibuat dengan
kode etik yang berlaku serta tidak dimanipulasi