Niat pembelian ulang pada dasarnya adalah perilaku pelanggan dimana pelanggan merespons positif terhadap kulitas pelayanan suatu perusahaan dan berniat melakukan kunjungan kembali atau mengkonsumsi kembali produk perusahaan tersebut (Cronin et al, 1992). Menurut Suwandi (2007:3), terdapat dua tipe pembelian konsumen, yaitu pembelian percobaan dan niat pembelian ulang. Kondisi dimana konsumen membeli suatu produk (atau merek) untuk pertama kali dan dalam jumlah kecil, dapat dikatakan sebagai pembelian percobaan (trial purchases). Niat pembelian ulang (repeat purchase) adalah kegiatan mengkonsumsi kembali suatu produk karena kepuasan yang diciptakan dan dalam jumlah besar. Menurut Ferdinand (2002:129), niat pembelian ulang dapat diidentifikasi melalui indikator-indikator sebagai berikut: 11 a) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk selalu membeli ulang produk yang telah dikonsumsinya. b) Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk yang sudah dibelinya, agar juga dibeli oleh orang lain, dengan referensi pengalaman konsumsinya. c) Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang selalu memiliki preferensi utama pada produk yang telah dikonsumsi. Preferensi ini hanya dapat diganti bila terjadi sesuatu dengan produk preferensinya. d) Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk yang selalu dibelinya. Karakteristik ini sangat penting untuk membangun merek yang berkelanjutan. Menurut Zboja dan Voorhees (2006), istilah loyalitas dan niat pembelian ulang serupa. Selanjutnya, mereka berpendapat bahwa niat pembelian ulang merupakan hasil dari kesetiaan tindakan. Misalnya, di industri smartphone, konsumen yang membeli iPhone juga akan membeli produk-produk Apple terkait, seperti MacBook, iPad, iWatch dan lain-lain dan konsumen akan mengantri untuk membeli produk atau gadget terbaru. Tindakan tersebut atau perilaku bagi perusahaan dan oleh karena itu penting untuk mempelajari pengaruh perilaku niat pembelian ulang. Niat pembelian ulang menguntungkan untuk perusahaan karena konsumen akan setia, bersedia membayar harga premium, mampu memahami 12 informasi dengan mudah dan bertindak sebagai agen untuk mempromosikan produk atau jasa (Zeithaml et al. 1996). Oleh karena itu niat pembelian ulang oleh beberapa peneliti terdahulu sering digunakan sebagai indikator kesuksesan suatu produk di pasar. Salah satu indikator bahwa suatu produk perusahaan sukses atau tidaknya di pasar adalah seberapa jauh tumbuhnya purchase intention konsumen terhadap produk tersebut (Sutantio, 2004)
