Dimensi-Dimensi Psychological Well-Being (skripsi dan tesis)

Dimensi psychological well-being menurut Ryff (1989) terdiri dari enam
dimensi yaitu penerimaan diri (self acceptance), hubungan positif dengan orang
lain (positive relation with others), otonomi (autonomy), penguasaan terhadap
lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose of life), serta
pertumbuhan pribadi (personal growth). Dimensi-dimensi tersebut akan
berkembang dengan cara yang bervariasi pada individu dalam upaya untuk
dapat berfungsi secara positif (Ryff, 1995 dalam Keyes, Shmotkin & Ryff, 2002
dalam Djabumir, 2016). Dimensi-dimensi tersebut terdiri dari :
a. Penerimaan diri (self-acceptance).
Dimensi ini merupakan ciri utama kesehatan mental dan juga
sebagai karakteristik utama dari individu dalam mencapai aktualisasi diri,
berfungsi secara optimal, dan dewasa. Individu dapat mencapai aktualisasi
diri, berfungsi secara optimal dan matang ketika individu mampu
menerima diri baik kelebihan maupun kekurangannya (Rachmayani &
Ramdhani, 2014). Penerimaan diri yang baik ditandai dengan kemampuan
menerima diri apa adanya. Kemampuan tersebut memungkinkan seseorang
untuk bersikap positif terhadap diri sendiri dan kehidupan yang dijalani.
Hal tersebut menurut Ryff (1995) menandakan psychological well-being
yang tinggi.
Individu yang memiliki tingkat yang tinggi pada penerimaan diri
ditandai dengan memiliki sikap positif terhadap diri sendiri, mengakui dan
menerima berbagai aspek yang ada dalam dirinya termasuk sifat positif
maupun negatif, serta memiliki pandangan positif terhadap kehidupan
masa lalu. Sedangkan individu yang memiliki tingkatan rendah pada
dimensi ini mereka memiliki tingkat penerimaan diri yang kurang baik
akan memunculkan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri, merasa
kecewa dengan pengalaman masa lalu dan mempunyai pengharapan untuk
tidak menjadi dirinya saat ini (Ryff dalam Papalia, Olds & Feldman, 2011
; 806)
b. Hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others).
Dimensi ini berulangkali ditekankan sebagai dimensi yang penting dalam
konsep psychological well-being. Ryff menekankan pentingnya membina
hubungan yang baik dengan orang lain, yaitu individu yang memiliki
hubungan yang hangat dengan orang lain, mampu membangun
kepercayaan dalam suatu hubungan, memiliki rasa empati serta perhatian
terhadap orang lain. Memiliki hubungan dengan orang lain yang hangat
merupakan salah satu kriteria dari sebuah kedewasaan (Djabumir, 2016).
Individu yang mempunyai tingkatan yang baik pada dimensi hubungan
positif dengan orang lain ditandai dengan adanya hubungan yang hangat,
memuaskan dan saling percaya dengan orang lain, memiliki perhatian
terhadap kesejahteraan orang lain, mempunyai rasa afeksi dan empati yang
kuat, rasa sayang dan keintiman, serta memahami konsep memberi dan
menerima dalam hubungan antara sesama manusia. Sedangkan individu
yang memiliki tingkatan yang rendah pada dimensi ini mereka memiliki
sedikit hubungan dengan orang lain dan dapat dipercaya, merasa sulit
untuk hangat, terbuka dan peduli terhadap orang lain tidak berniat
membuat kompromi untuk mempertahankan ikatan yang penting dengan
orang lain (Ryff dalam Papalia, Olds & Feldman, 2011 : 806).
c. Kemandirian (autonomy).
Kemandirian digambarkan sebagai kemampuan individu untuk bebas
namun tetap mampu mengatur hidup dan tingkah lakunya. Individu yang
mandiri adalah dapat mengevaluasi kemampuannya sendiri sehingga dapat
berusaha secara optimal (Rachmayani & Ramdhani, 2014). Dimensi
otonomi mencerminkan kemandirian (autonomy), dan kemampuan untuk
menentukan tindakan sendiri.
Individu yang memiliki tingkat otonomi yang baik ditandai dengan
sikap yang mandiri, mampu menolak tekanan sosial untuk berpikir dan
berperilaku dengan cara tertentu, serta mampu mengevaluasi diri sendiri
dengan standar pribadi. Sedangkan individu yang memiliki otonomi yang
rendah ditandai dengan selalu memikirkan tuntutan dan evaluasi orang
lain, membuat keputusan berdasarkan penilaian orang lain serta cenderung
mengkonfirmasi tekanan sosial untuk berfikir dan bertindak dengan cara
tertentu (Ryff dalam Papalia, Olds & Feldman, 2011 : 806).
d. Penguasaan lingkungan (environmental mastery).
Dimensi penguasaan lingkungan merupakan kemampuan individu
untuk memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan keinginan
dan kebutuhannya, yang dapat diartikan sebagai salah satu karakteristik
kesehatan mental. Dimensi ini menekankan pada kemampuan individu
untuk maju dengan caranya sendiri dan sampai sejauh mana individu
tersebut peka terdapat peluang-peluang yang ada di lingkungannya.
Individu yang memiliki penguasaan yang baik terhadap lingkungan
ditandai dengan kemampuannya dalam memilih atau memanipulasi
keadaan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai pribadinya dan
memanfaatkannya secara maksimal. Individu juga mampu
mengembangkan dirinya secara kreatif melalui aktivitas fisik dan mental.
Sebaliknya individu yang kurang dapat menguasai lingkungannya adalah
individu yang kesulitan dalam mengatur kegiatan sehari-hari, hanya
memiliki sedikit tujuan atau target, kurang memiliki kontrol pada dunia
luar serta tidak merasa mampu untuk mengubah apa yang ada diluar dirinya
serta tidak peka terhadap peluang-peluang yang ada dilingkungannya (Ryff
dalam Papalia, Olds & Feldman, 2011 : 806).
e. Tujuan hidup (purpose in life).
Dimensi ini berbicara tentang keyakinan individu bahwa hidup ini
bermakna. Individu mencari makna dan tujuan kehidupannya sendiri
sehingga dapat mencapai kesehatan mental dan juga proses perkembangan
yang matang (Rachmayani & Ramdhani, 2014).
Individu yang memiliki perasaan bahwa hidupnya bermakna adalah
individu yang memiliki keterarahan dalam hidupnya, mempunyai perasaan
bahwa kehidupan disaat ini dan masa lalu adalah bermakna, individu
tersebut juga memegang teguh kepercayaan yang membuat tujuan
hidupnya lebih berarti, dan memiliki target yang ingin dicapai dalam hidup.
Sedangkan individu yang kurang memiliki tujuan hidup akan kurang
memaknai tujuan hidupnya, tidak memiliki tujuan hidup/ target yang ingin
dicapai, tidak melihat adanya manfaat dari masa lalu kehidupanya dan
tidak mempunyai kepercayaan yang dapat membuat hidupnya lebih berarti,
tidak memiliki pandangan atau keyakinan yang memberikan makna pada
kehidupan (Ryff dalam Papalia, Olds & Feldman, 2011 ; 806).
f. Pertumbuhan pribadi (personal growth).
Dimensi pertumbuhan pribadi berbicara mengenai kemampuan individu
untuk mengembangkan potensi-potensi dirinya. Dimensi ini dibutuhkan
oleh individu agar dapat optimal dalam berfungsi secara psikologis. Salah
satu hal penting dalam dimensi ini adalah kebutuhan individu untuk
mengaktualisasikan diri, dan keterbukaan terhadap pengalamanpengalaman baru.
Individu yang mempunyai pertumbuhan diri yang baik akan memiliki
perasaan untuk terus berkembang dan melihat diri sendiri sebagai sesuatu
yang terus bertumbuh, menyadari potensi-potensi yang terdapat dalam
dirinya dan mampu melihat peningkatan dalam diri dan perilakunya dari
waktu ke waktu. Sedangkan individu yang kurang baik dalam pertumbuhan
dirinya akan menunjukkan ketidakmampuan dalam mengembangkan sikap
dan perilaku yang baru, mempunyai perasaan sebagai pribadi yang stagnan
dan tidak mampu mengembangkan sikap dan perilaku tertentu serta tidak
tertarik dengan kehidupan yang sedang dijalaninya (Ryff dalam Papalia,
Olds & Feldman , 2011 ; 806).
Berdasarkan uraian aspek psychological well-being dari Ryff (1989) diatas,
dapat diambil kesimpulan bahwa aspek psychological well-being terdiri dari
penerimaan diri (self-acceptance), hubungan positif dengan orang lain (positive
relations with others), otonomi (autonomy), penguasaan terhadap lingkungan
(environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life) dan pertumbuhan
pribadi (personal growth). Dalam penelitian ini, dimensi psychological wellbeing dari Ryff (1989) tersebut akan peneliti gunakan untuk mengungkap
psychological well-being pada mahasiswa yang bekerja.