Faktor-faktor yang Mendasari Perilaku Prososial (skripsi dan tesis)

Menurut Staub terdapat beberapa faktor yang mendasari seseorang untuk
bertindak prososial, yaitu (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2015)
a. Self-Gain
Harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatu,
misalnya ingin mendapatkan pengakuan, pujian atau takut dikucilkan.
b. Personal Values and Norms
Adanya nilai-nilai dan norma sosial yang diinternalisasikan oleh individu
selama mengalami sosialisasi dan sebagian nilai-nilai serta norma tersebut
berkaitan dengan tindakan prososial, seperti berkewajiban menegakkan
kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik.
c. Empathy
Kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang
lain. Kemampuan untuk empati ini erat kaitannya dengan pengambilalihan
peran. Jadi prasyarat untuk mampu melakukan empati, individu harus
memiliki kemampuan untuk melakukan pengambilan peran.
Menurut Sears dkk (2001) faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
prososial, yaitu:
a. Faktor situasi yang terdiri dari :
1) Kehadiran orang lain
Kehadiran orang lain kadang-kadang dapat menghambat usaha untuk
menolong, karena kehadiran orang yang begitu banyak menyebabkan
terjadinya penyebaran tanggung jawab.
2) Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi kesediaan untuk membantu keadaan
fisik ini meliputi cuaca, ukuran kota, dan derajat kebisingan.
3) Tekanan waktu
Dalam penelitian Darley dan Batson (dalam Sears dkk, 2001) membuktikan
bahwa kadang-kadang seseorang berada dalam keadaan tergesa untuk
menolong. Keadaan ini menekan individu untuk tidak melakukan tindakan
menolong, karena memperhitungkan keuntungan dan kerugian.
b. Faktor karakteristik penolong yang terdiri dari :
1) Kepribadian
Kepribadian tiap individu berbeda-beda, salah satunya adalah kepribadian
individu yang mempunyai kebutuhan tinggi untuk dapat diakui oleh
lingkungannya. Kebutuhan ini akan memberikan corak yangberbeda dan
memotivasi individu untuk memberikan pertolongan.
2) Suasana hati
Dalam suasana hati yang buruk menyebabkan kita memusatkan perhatian
pada diri kita sendiri yang menyebabkan mengurangi kemungkinan untuk
membantu orang lain. Dalam situasi seperti ini apabila kita beranggapan
bahwa dengan melakukan tindakan menolong dapat mengurangi suasana hati
yang buruk dan membuat kita merasa lebih baikmungkin kita akan cenderung
melakukan tindakan menolong.
3) Rasa bersalah
Rasa bersalah merupakan perasaan gelisah yang timbul bila kita melakukan
sesuatu yang kita anggap salah. Keinginan untuk mengurangi rasa bersalah
dapat menyebabkan kita menolong orang yang kita rugikan atau berusaha
menghilangkannya dengan melakukan tindakan yang lebih baik.
4) Distress diri dan rasa empatik
Distress diri adalah reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain, perasaan
cemas, prihatin, tidak berdaya, atau perasaan apapun yang dialami. Empatik
adalah perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk
berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaaan orang
lain.
c. Faktor orang yang membutuhkan pertolongan yang terdiri dari :
1) Menolong orang yang disukai
Individu yang mempunyai perasaan suka terhadap orang lain dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti daya tarik fisik atau adanya kesamaan antar individu.
2) Menolong orang yang pantas ditolong
Individu lebih cenderung melakukan tindakan menolong apabila individu
tersebut yakin bahwa penyebab timbulnya masalah berada di luar kendali
orang tersebut.
Menurut Sarwono & Meinarno (2002) mengungkapkan bahwa faktor faktor
yang mempengaruhi perilaku prososial, yaitu:
a. Pengaruh Faktor Situasional
1. Bystander
Orang-orang yang berada di sekitar kejadian mempunyai peran sangat
besar dalam memengaruhi seseorang saat memutuskan antara menolong
atau tidak ketika dihadapkan pada keadaan darurat.
2. Daya Tarik
Seseorang mengevaluasi korban secara positif (memiliki daya tarik) akan
memengaruhi kesediaan orang untuk memberikan bantuan.
3. Atribusi terhadap korban
Seseorang akan termotivasi untuk memberikan bantuan pada orang lain
bila ia mengasumsikan bahwa ketidakberuntungan korban adalah di luar
kendali korban.
4. Ada model
Adanya model yang melakukan tingkah laku menolong dapat mendorong
seseorang untuk memberikan pertolongan pada orang lain.
5. Desakan waktu
Orang yang sibuk dan tergesa-gesa cenderung tidak menolong, sedangkan
orang yang punya waktu luang lebih besar kemungkinannya untuk
memberikan pertolongan kepada yang memerlukannya.
6. Sifat kebutuhan korban
Kesediaan untuk menolong dipengaruhi oleh kejelasan bahwa korban
benar-benar membutuhkan pertolongan, korban memang layak
mendapatkan bantuan yang dibutuhkan, dan bukanlah tanggung jawab
korban sehingga ia memerlukan bantuan dari orang lain.
b. Pengaruh Faktor Dalam Diri
1. Suasana hati
Emosi positif dan emosi negatif memengaruhi kemunculan tingkah laku
menolong.
2. Sifat
Karakteristik seseorang dapat mempengaruhi kecenderungan menolong
orang lain.
3. Jenis kelamin
Peranan gender terhadap kecenderungan seseorang untuk menolong sangat
bergantung pada situasi dan bentuk pertolongan yang dibutuhkan.
4. Tempat tinggal
Orang yang tinggal di daerah pedesaan cenderung lebih penolong daripada
orang yang tinggal di daerah perkotaan.
5. Pola asuh
Pola asuh yang demokratis secara signifikan memfasilitasi adanya
kecenderungan anak untuk tumbuh menjadi seorang yang mau menolong.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mendasari
perilaku prososial adalah self-gain, personal values and norms, emphaty, situasional,
personal, karakteristik penolong, karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan,
serta faktor dalam diri. Pada penelitian ini peneliti menggunakan empati sebagai salah
satu faktor perilaku prososial karena dengan ikut memahami apa yang dirasakan
orang (berempati) dapat menimbulkan perilaku prososial