Pengertian Empati (skripsi dan tesis)

Empati berasal dari kata empatheia yang berarti ikut merasakan. Istilah ini,
pada awalnya digunakan oleh para teoritikus estetika untuk pengalaman subjektif
orang lain. Kemudian pada tahun 1920 seorang ahli psikologi Amerika, E. B.
Tichener, untuk pertama kalinya menggunakan istilah mimikri motor untuk istilah
empati. Istilah Tichener menyatakan bahwa empati berasal dari peniruan secara fisik
atas beban orang lain yang kemudian menimbulkan perasaan serupa dalam diri
seseorang (D. Goleman, 2007)
Kohut (dalam Taufik, 2012) melihat empati sebagai suatu proses dimana
seseorang berpikir mengenai kondisi orang lain yang seakan-akan dia berada pada
posisi orang lain itu. Selanjutnya, Kohut melakukan penguatan atas definisinya
dengan mengatakan bahwa empati adalah kemampuan berpikir objektif tentang
kehidupan terdalam dari orang lain.
Menurut Carkhuff (dalam Asri Budianingsih, 2004) mengartikan empati
sebagai kemampuan untuk mengenal, mengerti, dan merasakan perasaan orang lain
dengan ungkapan verbal dan perilaku, mengkomunikasikan pemahaman tersebut
kepada orang lain. Brammer (dalam Pangaribuan, 1993) mengartikan empati sebagai
cara seseorang untuk memahami persepso orang lain dari kerangka internalnya.
Sedangkan menurut Rogers (dalam Pangaribuan, 1993) empati merupakan cara
mempersepsi kerangka internal dari referensi orang lain dengan keakuratan dan
komponen emosional, seolah-olah seseorang menjadi orang lain.
Pangaribuan (1993) menyebutkan empati berarti masuk ke dalam diri
seseorang dan melihat keadaan dari sisi orang tersebut, seolah-olah adalah orang itu.
Seseorang dapat dikatakan memiliki empati jika ia dapat menghayati keadaan
perasaan orang lain serta dapat melihat keadaan luar menurut pola acuan orang
tersebut, dan mengkomunikasikan penghayatan bahwa dirinya memahami perasaan,
tingkah laku, dan pengalaman orang tersebut secara pribadi.
Sementara itu, Mead (dalam Eisenberg 2000) menyatakan bahwa empati
merupakan kapasitas mengambil peran orang lain dan mengadopsi perspektif orang
lain dihubungkan dengan diri sendiri. Dalam bidang klinis, empati didefinisikan
dalam beberapa macam. Misalnya Rogers mengatakan bahwa empati berguna untuk
memahami kerangka internal orang lain dengan akurat, dan dengan komponen dan
arti yang melekat, seolah-olah menjadi orang lain tanpa meniadakan “kondisi
seandainya” (Eisenberg, 2000).
Empati adalah kemampuan merasakan emosi orang lain baik secara fisiologis
maupun mental yang terbangun pada berbagai keadaan batin orang lain. Perubahan
biologis ini akan muncul ketika individu berempati dengan orang lain. Prinsip
umumnya, semakin sama keadaan fisiologis dua orang pada momen tertentu, semakin
mudah pula mereka bisa merasakan perasaannya satu sama lain (D. Goleman, 2007).
Menurut Hurlock (1996) empati adalah kemampuan meletakkan diri sendiri dalam
posisi orang lain dan menghayati pengalaman tersebut untuk melihat situasi dari
sudut pandang orang lain, jadi empati merupakan kemampuan untuk menghayati
perasaan dan emosi orang lain.
Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa empati adalah
kemampuan meletakkan diri sendiri dalam posisi orang lain dan menghayati
pengalaman tersebut untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain, jadi empati
merupakan kemampuan untuk menghayati perasaan dan emosi orang lain