Kwok dan Gao (2006) menyatakan bahwa Channel richness dapat didefinisikan sebagai luasnya
media komunikasi yang dipakai sebagai sarana penghubung dari informasi baik secara verbal maupun
non verbal. Penyelenggaraan sharing knowledge dapat dilakukan melalui beberapa channel yang
bertindak sebagai penghubung antara partner dari pembagian dan memfasilitasi transfer dari knowledge
dari sumber ke target. Oleh karena itu, ketersediaan dan channel richness akan mampu menunjang
keberhasilan dari sharing knowledge untuk beberapa tujuan tertentu. Secara umum, channel tidak hanya
berarti beberapa pengaturan fisik, sebagai contoh, telepon, ruang diskusi atau jaringan komputer, tapi
juga berarti koneksi sebenarnya (virtual connections) antara karyawan dan bahkan suatu sharing
knowledge budaya ramah dalam organisasi.
Channel richness mengindikasikan keberadaan dan ketersediaan dari pendekatan yang beragam
untuk pembagian knowledge antara individu. Holtham dan Courtney (1998) meringkas empat macam
dari saluran transmisi yang berupa informal dan formal, personal atau impersonal. Saluran informal
dapat jadi pertemuan yang tidak terjadwal, seminar informal, atau percakapan santai (coffee break) Mekanisme ini efektif untuk mempromosikan sosialisasi, khususnya pada organisasi kecil (Fahey dan
Prusak, 1998). Mekanisme formal dapat meliputi sesi pelatihan atau peninjauan lapangan, yang
dipercaya untuk memastikan distribusi yang lebih besar dari knowledge. Saluran impersonal, secara
kontras, adalah lebih efektif untuk sharing knowledge yang dapat dipersiapkan secara umum untuk
konteks lainnya.
