Orientasi Etika (skripsi dan tesis)

Khomsiyah dan Indriyanto (1998) memaparkan bahwa etika atau orientasi
etika tidak pernah lepas dari konsep mengenal diri (self) seseorang. Setiap pribadi
memiliki konsep diri yang turut menentukan orientasi etikanya, sesuai peran yang
disandangnya. Orientasi etika dikendalikan oleh dua karakteristik yaitu idealisme
dan relativisme.
Idealisme dan relativisme bukan merupakan dua hal yang berlawanan
tetapi lebih merupakan skala yang terpisah, yang dapat dikategorikan menjadi
empat klasifikasi sikap orientasi etika : (1) Situasionisme, (2) Absolutisme, (3)
Subyektif dan (4) Eksepsionis

  1. Idealisme
    Idealisme menurut Forsyth (1992) dalam Dzakirin (2013) didefinisikan
    sebuah sikap yang menganggap tindakan yang tepat atau benar akan mempunyai
    konsekuensi hasil yang diinginkan. ldealisme mengacu pada hal-hal yang
    dipercaya individu dengan konsekuensi yang dimiliki dan diinginkannya tidak
    melanggar nilai-nilai moral. Orang yang memiliki idealisme tinggi memiliki
    prinsip bahwa hal yang merugikan orang lain, walaupun sekecil mungkin harus
    selalu dihindari. Orang idealis tidak akan melakukan tindakan yang akan
    membawa konsekuensi negatif terutama bagi orang lain. Jika terdapat dua pilihan
    yang keduanya akan berakibat lain bagi orang lain, maka orang dengan tingkat
    idealisme tinggi akan memilih pilihan mana yang memiliki akibat negatif
    seminimal mungkin memiliki dampak buruk.
    2.  Relativisme
    Forsyth (1992) dalam Dzakirin (2013) mengartikan relativisme adalah
    suatu sikap penolakan terhadap nilai-nilai moral yang absolut dalam mengarahkan
    perilaku etis. Relativisme bukan merupakan teori yang mengatakan sebuah
    tindakan dinyatakan etis atau tidak dan benar atau salah. Relativisme adalah
    meyakini bahwa setiap orang atau kelompok memiliki keyakinan etis yang
    berbeda. Atau dapat dikatakan bahwa orang yang memiliki tingkat relativisme
    tinggi mempunyai pandangan bahwa tidak ada standar etika yang benar secara
    absolut. Standar moral berbeda dari daerah satu ke daerah yang lain. Ia harus
    mengikuti standar moral yang berlaku dimanapun ia berada.