Scott dalam Abdullah (2003) memberi definisi manajemen laba sebagai
tindakan manajer untuk memilih kebijakan akuntansi yang bertujuan
memaksimalkan kesejahteraan manajer dan atau nilai pasar perusahaan.
Sedangkan menurut Widodo (2005) manajemen laba ialah perilaku oportunistik
manajer untuk memaksimalkan utilitas mereka. Manajer dapat menaikkan laba
dengan menggeser laba periode yang akan datang ke periode kini. Manajer juga
dapat menurunkan laba dengan menggeser laba periode kini ke periode
berikutnya.
Scott dalam Wisnumurti (2010) menyatakan bahwa terdapat beberapa pola
dalam manajemen laba, yaitu:
a. Taking a bath
Pola ini dilakukan pada saat pengangkatan manajer baru. Pola ini dilakukan
dengan cara melaporkan kerugian dalam jumlah besar diharapkan dapat
meningkatkan laba di masa yang akan datang.
b. Income Minimization
Pola ini dilakukan pada saat perusahaan memiliki tingkat profitabilitas yang
tinggi. Jika laba pada masa mendatang diperkirakan turun drastis, maka dapat
diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.
c. Income Maximization
Pola ini dilakukan pada saat laba perusahaan menurun. Tujuannya
melaporkan net income yang tinggi untuk bonus yang lebih besar.
d. Income smoothing
Pola ini dilakukan perusahaan dengan cara perataan laba yang dilaporkan.
Sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar. Pada umumnya
investor menyukai laba yang relatif stabil.
Manajer mempunyai beberapa motivasi dalam melakukan manajemen laba.
Widodo (2005) menyatakan manajer menaikkan laba untuk menghindari rugi
kecil dengan melaporkan laba kecil, maka investor diduga akan merasakan
disutilitas marjinal. Jika manajemen mampu melakukan manajemen laba dengan
melaporkan laba kecil, investor diduga akan memperoleh utilitas marginal.
Sedangkan manajer melakukan manajemen laba yang menurunkan laba
dengan dua tujuan:
1. Menghindari laba besar dengan melaporkan laba kecil. Jika manajer
melaporkan laba kecil selama beberapa periode, total utilitas marjinal yang
dirasakan investor adalah lebih besar daripada jika manajer melaporkan laba
besar pada suatu periode dan laba nol pada periode-periode yang lain.
2. Menghindari rugi kecil dengan melaporkan rugi besar. Jika manajer
melaporkan rugi kecil selama beberapa periode, total disutilitas marjinal
investor lebih besar daripada jika melaporkan rugi besar sekaligus pada suatu
periode dan melaporkan rugi nol pada periode yang lain.
Watts dan Zimmerman (1986) dalam Widodo (2005) membuat tiga hipotesis
di bawah ini :
1. Hipotesis program bonus: manajer perusahaan mungkin lebih memilih
prosedur akuntansi yang menggeser laba yang dilaporkan dari periodeperiode yang akan datang ke periode kini dengan tujuan memperoleh bonus.
2. Hipotesis Utang/ Ekuitas: jika semakin besar rasio hutang terhadap ekuitas
perusahaan, semakin besar kemungkinan manajer perusahaan memilih
prosedur akuntansi yang menggeser laba yang dilaporkan dari periodeperiode yang akan datang ke periode ini.
3. Hipotesis ukuran perusahaan: jika semakin besar ukuran perusahaan, semakin
besar kemungkinan manajer perusahaan memilih prosedur akuntansi yang
menangguhkan laba yang dilaporkan dari periode kini ke periode yang akan
datang.
