Stoltz (2004) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi adversity quotient antara lain: a. Bakat Bakat adalah suatu kondisi pada diri seseorang yang dengan suatu latihan khusus memungkinkannya mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus. Bakat menggambarkan penggabungan antara keterampilan, kompetensi, pengalaman dan pengetahuan yakni apa yang diketahui dan mampu dikerjakan oleh seorang individu. b. Kemauan Kemauan menggambarkan motivasi, antusiasme, gairah, dorongan, ambisi, dan semangat yang menyala-nyala. Seorang individu tidak akan menjadi hebat dalam bidang apapun tanpa memiliki kemauan untuk menjadi individu yang hebat. c. Kecerdasan Menurut Gardner (dalam Stoltz, 2004) terdapat tujuh bentuk kecerdasan, yaitu linguistik, kinestetik, spasial, logika matematika, musik, interpersonal, dan intrapersonal. Individu memiliki semua bentuk kecerdasan sampai tahap tertentu dan beberapa di antaranya ada yang lebih dominan. Kecerdasan yang lebih dominan mempengaruhi karir yang dikejar oleh seorang individu, pelajaran-pelajaran yang dipilih, dan hobi. d. Kesehatan Kesehatan emosi dan fisik juga mempengaruhi individu dalam mencapai kesuksesan. Jika seorang individu sakit, penyakitnya akan mengalihkan perhatian dari proses pencapaian kesuksesan. Emosi dan fisik yang sehat sangat membantu dalam pencapaian kesuksesan. e. Karakteristik kepribadian Karakteristik kepribadian seorang individu seperti kejujuran, keadilan, ketulusan hati, kebijaksanaan, kebaikan, keberanian dan kedermawanan merupakan sejumlah karakter penting dalam mencapai kesuksesan. f. Genetika Meskipun warisan genetis tidak menentukan nasib, namun faktor ini juga mempengaruhi kesuksesan individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik merupakan salah satu faktor yang mendasari perilaku dalam diri individu. g. Pendidikan Pendidikan mempengaruhi kecerdasan, pembentukan kebiasaan yang sehat, perkembangan watak, keterampilan, hasrat, dan kinerja yang dihasilkan individu. h. Keyakinan Keyakinan mempengaruhi seseorang dalam menghadapi suatu masalah serta membantu seseorang dalam mencapai tujuan hidup. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Utami, Hardjono, dan Karyanta (2014) menyatakan bahwa optimisme merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi adversity quotient. Optimisme merupakan sikap positif dalam memandang suatu masalah. Individu yang optimistis akan menghadapi masalah atau kesulitan dengan keyakinan atau pandangan positif sehingga masalah atau kesulitan tersebut dapat terselesaikan. Kemampuan yang dimiliki individu untuk menyelesaikan masalah atau kesulitan tersebut merupakan bentuk dari adversity quotient. Individu yang dapat menyelesaikan masalah atau kesulitan dengan baik memiliki adversity quotient yang tinggi. Dengan demikian, peningkatan optimisme secara langsung juga dapat meningkatkan adversity quotient yang dimiliki individu.
