Menurut Stoltz (2004), adversity quotient memiliki empat dimensi yang disingkat dengan CO2RE, yaitu: a. Control/kendali (C) Kendali berkaitan dengan seberapa besar orang merasa mampu mengendalikan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya dan sejauh mana individu merasakan bahwa kendali itu ikut berperan dalam peristiwa yang menimbulkan kesulitan. Semakin besar kendali yang dimiliki semakin besar kemungkinan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan dan tetap teguh dalam niat serta ulet dalam mencari penyelesaian. Demikian sebaliknya, jika semakin rendah kendali, akibatnya seseorang menjadi tidak berdaya menghadapi kesulitan dan mudah menyerah. b. Origin and ownership/kepemilikan (O2) Kepemilikan atau dalam istilah lain disebut dengan asal-usul dan pengakuan akan mempertanyakan siapa atau apa yang menimbulkan kesulitan dan sejauh mana seorang individu menganggap dirinya mempengaruhi dirinya sendiri sebagai penyebab asal-usul kesulitan. Seseorang yang skor origin (asal-usulnya) rendah akan cenderung berfikir bahwa semua kesulitan atau permasalahan yang datang itu karena kesalahan, kecerobohan, atau kebodohan dirinya sendiri serta membuat perasaan dan pikiran merusak semangatnya. Sedangkan orang yang memiliki skor origin yang tinggi akan berfikir bahwa sumbersumber kesulitan itu berasal dari orang lain atau dari luar. Individu tersebut merasa saat ini bukan waktu yang tepat, setiap orang akan mengalami masa-masa yang sulit, atau tidak ada yang dapat menduga datangnya kesulitan. c. Reach/jangkauan (R) Jangkauan merupakan bagian dari adversity quotient yang mempertanyakan sejauh manakah kesulitan akan menjangkau bagian lain dari individu. Reach juga berarti sejauh mana kesulitan yang ada akan menjangkau bagian-bagian lain dari kehidupan seseorang. Seseorang yang memiliki skor reach rendah akan berpikir bahwa dampak dari kejadian dari suatu peristiwa akan meluas pada kejadiankejadian lain dalam kehidupannya, sehingga menganggap peristiwaperistiwa buruk sebagai bencana, dengan membiarkannya meluas dan mengganggu kehidupannya. Sebaliknya, semakin tinggi skor reach seseorang, semakin besar kemungkinan individu tersebut dapat membatasi jangkauan masalahnya pada peristiwa yang sedang dihadapi, sehingga peristiwa tersebut tidak berdampak meluas pada kehidupannya. d. Endurance/daya tahan (E) Dimensi ini lebih berkaitan dengan persepsi seseorang akan lama atau tidaknya kesulitan akan berlangsung. Semakin rendah skor endurance seseorang, semakin besar kemungkinannya menganggap kesulitan dan/atau penyebabnya akan berlangsung lama, bahkan selamanya. Sebaliknya, orang yang memiliki skor endurance yang tinggi akan menganggap bahwa kesulitan dan penyebabnya hanya bersifat sementara, sehingga individu tersebut tidak terlarut dalam kesulitan yang dihadapinya
