Kewajiban atau hutang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak-pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal suatu perusahaan (Barus dan Rica, 2014). Hal ini menekankan pentingnya ciri ketidakpastian yang melekat pada hutang dimana sifat dan pengukuran terhadap hutang dapat memberikan penafsiran ekonomis dan keuangan serta untuk memberikan peluang dipergunakannya informasi tersebut dalam pengambilan keputusan investasi, misal dalam peramalan arus kas di masa yang akan datang, pengukuran resiko dan persistensi laba. Persistensi laba adalah revisi laba yang diharapkan di masa mendatang (expected future earnings) yang diimplikasikan oleh laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham (Scott, 2009 dalam Asma, 2013). Semakin permanen laba dari waktu ke waktu semakin tinggi earnings response coefficientnya. Hal ini mengindikasikan laba yang diperoleh perusahaan tersebut meningkat terus menerus. Persistensi laba sering digunakan sebagai pertimbangan kualitas laba karena persistensi laba merupakan komponen dari karakteristik kualitatif relevansi yaitu predictive value (Jonas dan Blanchet, 2000 dalam Persada dan Martani, 2010).
Tingkat hutang akan menjadi besar apabila lebih banyak utang jangka panjang yang dimiliki oleh perusahaan. Para pemegang saham mendapatkan manfaat dari solvabilitas keuangan sejauh laba yang dihasilkan atas uang yang dipinjam melebihi biaya bunga dan juga jika terjadi kenaikkan nilai pasar saham. Utang mengandung konsekuensi perusahaan harus membayar bunga dan pokok pada saat jatuh tempo. Jika kondisi laba tidak dapat menutup bunga dan perusahaan tidak dapat mengalokasikan dana untuk membayar pokoknya, akan menimbulkan risiko kegagalan. Maka dari itu seberapa besar tingkat hutang yang diinginkan, sangat tergantung pada stabilitas perusahaan. Perusahaan akan berupaya menunjukkan persistensi laba yang tinggi dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja yang baik dimata auditor dan investor apabila perusahaan memiliki tingkat hutang yang tinggi (Fanani, 2010). Salah satu informasi pada laporan keuangan yang dapat mempengaruhi persepsi investor adalah tingkat hutang. Investor cenderung akan lebih berhati-hati dan lebih waspada ketika berinvestasi pada perusahaan yang memiliki tingkat hutang yang tinggi. Investor cendrung akan memiliki pandangan yang lebih baik terhadap perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi bila laba perusahaan tersebut persisten atau sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan berkelanjutan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Septavita (2016) yang menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara tingkat hutang terhadap persistensi laba. Dimana semakin tinggi tingkat hutang maka semakin tinggi pula persistensi laba. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fanani (2010) yang menyatakan bahwa tingkat hutang berpengaruh positif signifikan terhadap persistensi laba
