Flow menurut Baker memiliki tiga aspek yaitu absorption,
enjoyment, dan intrinsic motivation.68 Absorption adalah kondisi
dimana seseorang dapat berkonsentrasi dengan sepenuhnya.
Enjoyment diartikan sebagai penilaian positif terhadap tugas atau
kegiatan yang sedang dilakukan. Intrinsic motivation adalah keinginan
yang muncul dari dalam diri seseorang ketika dia melakukan aktivitas
dengan tujuan agar mendapat kesenangan dan kepuasan dari aktivitas
yang sedang dilakukan.69
Sedangkan aspek – aspek flow menurut Mihalyi
Czikszentmihalyi adalah challenge-skill balance (keseimbangan
antara kemampuan dan tantangan), action awareness merging
(penyatuan antara tindakan dengan kesadaran), clear goals (tujuan
yang jelas), unambiguous feedbacks (umpan balik yang memadai),
concentration on task at hand (konsentrasi pada tugas yang
dikerjakan), sense of control (rasa kontrol), loss self-consciousness =
transcendence (hilangnya kesadaran akan diri), transformation of time
(transformasi akan waktu), dan authotelic experience (pengalaman
autotelic).
a. Challenge-Skill Balance (keseimbangan antara kemampuan dan
tantangan)
Flow dapat muncul ketika terjadi antara keseimbangan
tantangan dan keterampilan. Suatu aktivitas mampu
merepresentasikan kemampuan seseorang ketika tantangan dan
keterampilan berada pada titik yang seimbang. Flow adalah
pengalaman optimal yang terjadi akibat situasi yang
mengharuskan tantangan dan keterampilan pada tingkat
sederajat. Ketika tantangan dan keterampilan di tingkat yang
sama maka motivasi intrinsik bisa muncul pada diri seseorang
Keseimbangan antara tantangan dan keterampilan mengarahkan
kepada keberhasilan menyelesaikan tugas yang dapat
memotivasi orang untuk menyelesaikan tugas pada tingkat yang
lebih tinggi dengan menggunakan keterampilan yang diperoleh
sebelumnya.
b. Action Awareness Merging (Penyatuan antara tindakan dengan
kesadaran)
Sering terjadi di kehidupan sehari – hari pikiran tidak
menyatu dengan apa yang dilakukan. Apabila kesadaran dan
tindakan dapat digabungkan maka seluruh perhatian akan
terserap dalam suatu aktivitas tertentu. Seluruh perhatian yang
terpusat akan membuat individu merasa begitu terlibat dengan
apa yang dilakukannya dan dia dapat mengalami flow. Flow
akan membuat aktivitas yang dilakukan akan terasa spontan,
otomatis, dan menimbulkan perasaan menyatu.
c. Clear Goals (tujuan yang jelas),
Ketika melakukan sesuatu tanpa tujuan yang terjadi adalah
tidak tahu apa yang hendak dicapai. Manfaat dari adanya tujuan
adalah menjadi patokan agar mendapatkan hasil yang sesuai
dengan harapan. Dalam keadaan flow seseorang mampu
mengetahui apa yang dibutuhkan dan perlu dilakukan
selanjutnya. Ketika tujuan dapat dicapai maka akan
memunculkan perasaan puas yang luar biasa sedangkan apabila
tujuan belum tercapai maka seseorang akan terus berusaha
hingga tujuannya tercapai. Tujuan dapat pula menjadi pemicu
bagi seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu.
d. Unambiguous Feedbacks (umpan balik yang memadai)
Setelah tujuan dapat dicapai, umpan balik diperlukan
untuk menilai pencapaian tujuan maupun kegiatan yang telah
dilakukan. Umpan balik dapat digunakan sebagai catatan atas
keberhasilan maupun kegagalan kegiatan yang telah dilakukan.
Umpan balik yang memadai dan segera membantu untuk
mencapai tujuan dengan baik.
e. Concentration on Task at Hand (konsentrasi pada tugas yang
dikerjakan)
Flow dapat membuat orang yang merasakannya
melupakan seluruh aspek kehidupan yang tidak
menyenangkannya. Kegiatan yang menyenangkan
membutuhkan fokus penuh pada kegiatan yang sedang
dilakukannya (concentration on task at hand) sehingga tidak ada
ruang dalam pikiran untuk informasi yang tidak relevan.
f. Sense of Control (rasa control)
Flow melibatkan rasa kontrol atau lebih tepatnya tidak
merasa khawatir kehilangan kontrol dalam banyak situasi
kehidupan. Perasaan mengatur kendali dalam situasi sulit akan
membuat seseorang berupaya kuat dalam berbagai situasi.
g. Loss Self-Consciousness = Transcendence (hilangnya kesadaran
akan diri = transedensi)
Flow dapat membuat seseorang yang merasakannya tidak
mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan tentangnya,
sehingga orang tersebut merasa kehilangan perhatian terhadap
diri. Hilangnya perhatian terhadap diri dapat membuat hilangnya
kesadaran terhadap diri sehingga yang mengalaminya dapat
berkonsentrasi penuh pada tugas yang dikerjakan tanpa
menghiraukan hambatan yang muncul dari orang lain. Ketiadaan
diri dari kesadaran berarti bahwa seseorang yang mengalami
flow telah melepaskan kendali energi psikisnya, mereka tidak
lagi menyadari apa yang terjadi dalam tubuhnya atau dalam
pikirannya. Hilangnya kesadaran diri tidak berkaitan dengan
hilangnya diri, tetapi hilangnya kesadaran akan diri.
h. Transformation of Time (transformasi akan waktu)
Flow dapat membuat orang yang merasakannya merasa
bahwa waktu tampaknya tidak lagi berjalan seperti biasanya.
Waktu yang biasanya diukur dengan siang dan malam, atau
menggunakan jam tidak lagi relevan, waktu menjadi berjalan
jauh lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya.
i. Authotelic Experience (pengalaman authotelic)
Elemen kunci dari flow terletak pada tujuan. Sekalipun
pada awalnya suatu aktivitas dilakukan seseorang karena alasan
lain, namun pada dasarnya segala aktivitas yang dijalani
seseorang memberikan penghargaan bagi dirinya sendiri. Istilah
autotelic berasal dari dua kata Yunani, auto artinya diri, dan
telos memiliki arti tujuan autotelic merujuk pada aktivitas
mandiri yang dilakukan bukan dengan harapan akan mendapat
manfaat di masa depan, tetapi hanya karena melakukan aktivitas
tersebut adalah suatu hadiah.70 Begitu banyak orang yang
menjalani suatu aktivitas tertentu namun aktivitas tersebut tidak
memberikan nilai dalam dirinya, ia melakukannya hanya karena
harus melakukannya, atau karena mengharapkan beberapa
manfaat di masa depan. Pengalaman autotelic mengangkat jalan
kehidupan seseorang ke tingkat yang berbeda.
