Etos dalam bahasa Yunani (ethos) berarti kepribadian, sikap, watak,
keyakinan serta karakter. Etos dapat dimiliki oleh individu, kelompok atau
bahkan masyarakat. Dari kata etos, muncul kata etiket, etika yang artinya
mendekati pengertian akhlak atau moral (Tasmara, 2002:15). Etos kerja
merupakan serangkaian perilaku kerja positif yang bertumpu pada keyakinan
yang fundamental, kerjasama yang erat, serta berpegang teguh pada paradigma
kerja yang integral. Dimana istilah paradigma berarti model utama mengenai
kerja itu sendiri yang meliputi landasan idealisme, nilai-nilai yang
menggerakkan, prinsip-prinsip yang mengatur, standar-standar yang hendak
dicapai, sikap-sikap yang dilahirkan, termasuk pikiran dasar, karakter utama,
kode moral, kode etik, dan kode perilaku bagi pelakunya (Octarina, 2013).
Selain itu, Anoraga (1992:22) menyatakan bahwa etos kerja merupakan
sebuah sikap dan pandangan suatu umat atau bangsa mengenai kerja, maka
diperlukan motivasi dan dorongan untuk menimbulkan pandangan dan sikap
yang menghargai kerja sebagai hal yang luhur.
Sesungguhnya manusia yang paling mulia adalah yang paling banyak
memberikan manfaat bagi sesamanya dan makhluk lain secara menyeluruh.
Disebutkan dalam Al-Qur‟an bahwa manusia yang paling terpuji adalah ia
yang beriman dan bekerja dengan baik menghasilkan karya-karya yang
bermanfaat bagi sesamanya.ِۗ
لِحٰج ِ اُولٰۤىِٕك َ وُم ْ خَيْد ُ الْبَدِيَّثهاِن َّ الَّذِيْن َ اٰمَنُيْا وَعَمِلُيا الص٧
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan melakukan pekerjaan
yang baik, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. al-Bayyinah, 98:7)
Setyawan (2019:159) berpendapat bahwa etos kerja adalah keluhuran
hati, filsafat kerja, paradigm kerja dan spirit kerja, yang berdasar pada motto
“Etos kerja adalah roh sukses” (Men Sana In Corpore Sano). Etos kerja yang
merupakan perilaku positif ini dapat timbul dikarenakan adanya keyakinan
tentang nilai dari pekerjaan itu sendiri. (Ethos is guiding beliefs of a person,
group or institution). Dapat dikatakan bahwa etos kerja merupakan konsep
mengenai paradigm kerja yang dianut oleh individu atau kelompok sebagai hal
yang baik dan benar yang diamalkan dalam perilaku kerja mereka. Etos kerja
itu sendiri dapat berwujud panggilan, amanah, rahmat, dan aktualisasi diri
dalam bekerja.
Menurut Djakfar (2019:101), etos mempunyai makna nilai moral yaitu
suatu pandangan batin yang bersifat mendarah daging. Seseorang akan
merasakan bahwa hanya dengan menghasilkan pekerjaan yang terbaik, bahkan
sempurna, nilai nilai yang diyakininya dapat diwujudkan. Dengan demikian
sesorang akan berfikir kreatif dan inovatif dalam setiap pekerjaannya. Etos
kerja juga dapat diartikan sebagai seluruh kepribadian individu serta cara
meyakini, memandang, mengekspresikan, dan memberikan makna pada hal
yang memicu individu tersebut untuk berprilaku dan mencapai kegiatan yang
optimal. Individu yang mempunyai etos kerja yang tinggi akan berupaya
menunjukkan suatu watak, sikap, serta keyakinan dalam melakukan pekerjaan
dengan bekerja dan bertindak secara optimal (Syafii, 2018). Dengan ini dapat
dikatakan bahwa etos kerja karyawan yang baik adalah bagaimana segala
macam pekerjaan yang diharapakan oleh organisasi dapat dilaksanakan
dengan baik, dan dengan hasil yang memuaskan.
Etika Islam merupakan pedoman bagi manusia dalam bertindak,
prinsip benar dan salah, dan batasan boleh dan dilarang yang terdapat dalam
Al-Qur‟an dan sunnah kehidupan Rasul SAW. Sedangkan etos kerja Islam
dibentuk dengan tujuan menanamkan nilai-nilai etika Islam dalam kehidupan
sehari-hari. Etika dalam Islam tidak hanya tentang moralitas agama dalam
perilaku tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan baik moral, spiritual, fisik
atau bahkan tentang urusan dunia misalnya emosional, intelektual, individual
dan kelompok (Hamsani, 2020:19). Telah disebutkan dalam Al-Qur‟an bahwa
akan kemenangan yang agung berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat bagi
manusia yang beriman dan bekerja secara professional.ُ
ج ٌ تَجْرِي ْ مِن ْ تَحْخِىَا الْاَنْىٰره لِحٰج ِ لَىُم ْ جَنهۗ اِن َّ الَّذِيْن َ اٰمَنُيْا وَعَمِلُيا الصُەُۗ ذٰلِك َ الْفَيْز
الْكَتِيْد١١
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-
amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-
sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. al-Buruj, 85:11)
Bagaimanapun perilaku adalah cerminan dari akhlaq (etika) seseorang.
Apabila ia patuh pada etika maka ia cenderung menunjukkan perilaku yang
baik dalam tindakan dan aktivitasnya (Djakfar, 2019:103). Demikian pula
individu yang menghayati etos kerja akan menunjukkan sikap dan tingkahlaku
yang berlandaskan keyakinan bahwa bekerja adalah sarana untuk ibadah dan
berprestasi itu indah. Akan ada panggilan hati untuk senantiasa memperbaiki
diri, tampil sebagai bagian dari umat terbaik, mengejar prestasi bukan prestise.
Muslim yang baik akan kecanduan dalam berbuat kebaikan, ada dorongan
untuk terus menerus berbuat baik, jiwanya seakan-akan gelisah apabila tidak
segera berbuat kesalehan (Tasmara, 2002:73). Nabi Muhammad SAW pun
pernah bersabda mengenai etos kerja :ْ
ٍُ ةْن ُ عَمَّار ٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيل ُ ةْن ُ عَيَّاش ٍ عَن ْ بَحِيد ِ ةْن ِ سَعْد ٍ عَن ّٰللَُّ حَدَّثَنَا وِشَا
ّٰللَِّ صَلَّى ا ٍِ ةْن ِ مَعْدِيكَرِب َ الزُّةَيْدِي ِ عَن ْ رَسُيل ِ ا ُ خَالِد ِ ةْن ِ مَعْدَان َ عَن ْ الْمِلْدَا
كَسَب َ الرَّجُل عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَال َ مَاٌ كَسْتًا أَطْيَب َ مِن ْ عَمَل ِ يَدِه ِ وَمَا أَنْفَق َ الرَّجُل ُ عَلَى
نَفْسِه ِ وَأَوْلِه ِ وَوَلَدِه ِ وَخَادِمِه ِ فَىُي َ صَدَكَث
“Telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Ammar] berkata, telah
menceritakan kepada kami [Isma’il bin ‘Ayyasy] dari [Bahir bin Sa’d] dari
[Khalid bin Ma’dan] dari [Al Miqdam bin Ma’dikarib Az Zubaidi] dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak ada yang
lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya sendiri.
Dan apa-apa yang diinfakkan oleh seorang laki-laki kepada diri, isteri, anak
dan pembantunya adalah sedekah.” (HR. Ibnu Majah).
Nabi Muhammad SAW memotivasi kaum muslimin untuk memiliki
etos kerja yang tinggi dan mengarah kepada profesionalisme sesuai dengan
pengarahan dan bimbingan dari al-Qur‟an. Rasulullah SAW bersabda :ََّّٰلل
ّٰللُ عَلَيْه ِ وَسَلَّمَ: إِن ا ّٰللِ صَلَّى ا ّٰللُ عَنْىَا كَالَجْ: كَال َ رَسُيْل ُ ا عَن ْ عَائِشَث َ رَضِي َ ا
حَعَالى يُحِب إِذَا عَمِل َ أَحَدُكُم ْ عَمَلا ً أَن ْ يُخْلِنَه ُ (رواه الطبدني والبيىقي)
45
Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja,
mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No:
334).
Kita dilarang oleh Nabi Muhammad SAW hanya bertopang dagu dan
berpangku tangan mengharap rezeki datang dari langit. Kita harus giat bekerja
untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga. Islam tidak pernah
mengajarkan untuk hidup miskin. Rasulullah sendiri adalah pekerja keras,
beliau berdagang menjualkan barang dagangan milik Siti Khadijah.
Pandangan hidup mengenai kehidupan dunia telah Rasul ajarkan, karena
pandangan hidup yang salah akan membawa sikap yang salah pula. Hal inilah
yang melatarbelakangi rendahnya etos kerja seseorang (Zaini, 2016).
