Pada dasarnya, seseorang perlu menganggap inovasi sebagai proses
yang dapat dikelola untuk dapat menghasilkan perilaku inovatif. Islam sangat
mendukung inovasi dalam setiap hal, kecuali perihal aqidah, yang sangat
fundamental dan mensyaratkan untuk mengikuti syariat agama dan sunnah
Rasul SAW. Dalam ajaran agama Islam perilaku inovatif dalam bekerja juga
sangat dianjurkan. Allah juga mendorong agar kaum muslimin memiliki
kompetensi perubahan secara massif berupa kreatifitas dan inovasi.
Sebagaimana diinspirasikan pada individu dan kelompok masyarakat untuk
turut melakukan perubahan. Sebagaimana dalil berikut ini QS. al-Ra‟d (13):ِ
َ لَا يُغَيِد ُ مَا ة ّٰلله ۗاِن َّ ا ِ ّٰلله ْ ٍٍ لَه ٗ مُعَلِبٰج ٌ مِن ْْۢ ةَيْن ِ يَدَيْه ِ وَمِن ْ خَلْفِه ٖ يَحْفَظُيْنَه ٗ مِن ْ اَمْر ِ اُ لَي
ْ ٍٍ سُيْۤءًا فَلَا مَرَد َّ لَه ٗ ۚوَمَا لَىُم ْ مِن ْ د ُ ةِلَي ّٰلله ى يُغَيِدُوْا مَا ةِاَنْفُسِىِم ْۗ وَاِذَا ٓ اَرَاد َ اه ْ حَتٍ وْنِه ٖ مِن
وَّال١١
“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya
secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas
perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum
hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat
menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain” (QS. al-
Ra‟d: 11).
Kecenderungan untuk bekerja memenuhi kehidupan sendiri adalah
fitrah manusia sejak masa awal kelahirannya. Oleh karena itu, manusia sering
disebut sebagai animal laboraus (binatang bekerja). Dan dari masa ke masa,
bentuk usaha manusia selalu berubah dan berkembang yang dimulai dari
zaman batu hingga saat ini. Di sinilah dibutuhkan motivasi kerja dan inovasi
kerja dalam rangka menekuni masing-masing bidang keahliannya. Di sinilah
motivasi kerja dan inovasi dalam bekerja sangat dibutuhkan untuk
mengembangkan spesialisasi keahlian. Hal ini disebabkan penempatan Islam
terhadap pekerjaan sebagai sesuatu yang memiliki sisi ibadah (Aisyah, 2017).
Allah juga mendorong manusia untuk berpikir agar dapat
menghasilkan sesuatu yang baru dan inovatif termasuk dalam pelayanan.
Kegiatan berpikir yang teratur dan sistematis menghasilkan pengetahuan yang
sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Berbagai macam masalah, mendorong
kita untuk berpikir lebih mendalam dan sistematis dengan mengunakan
metode ilmiah tertentu untuk memecahkanya. Bahkan amat banyak dalam
teks-teks sumber wahyu yang mendorong untuk berpikir secara kreatif dan
inovatif dengan menggunakan kalimat “afalaa ta’qiluun, atau kalimat afala
tatafakaruun…” dan lebih banyak lagi. Seorang yang bersikap inovatif akan
mengerahkan segala kemampuan nalarnya untuk menemukan beberapa hal
baru yang lebih baik dan bermanfaat dari temuan-temuan yang telah ada.
Allah SWT berfirman:ْ
ِج ُ ةِه ٖ زَرْعًا حَأْكُل ُ مِنْه ُ اَنْعَامُىُمَ اَوَلَم ْ يَرَوْا اَنَّا نَسُيْق ُ الْمَاۤء َ اِلَى الْاَرْض ِ الْجُرُز ِ فَنُخْر
وَاَنْفُسُىُم ْۗ اَفَلَا يُتْصِرُوْن٢٧
“Dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami
menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami
tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya Makan hewan
ternak mereka dan mereka sendiri. Maka Apakah mereka tidak
memperhatikan?”(QS. As Sajdah (32):27)
Dalam Al-Qur‟an sangat banyak ayat yang menjelaskan tentang
inovasi yang merupakan bagian dari etos kerja. Ayat lain yang menghimbau
manusia untuk meningkatkan prestasi, kreatifitas, motifasi kerja, dan tidak
melewatkan kesempatan dengan sia-sia, adalah QS. Al-Jumu‟ah (62):
ّٰلله
ْكُرُوا اِ وَاذ ّٰلله َ فَاِذَا كُضِيَج ِ الصَّلٰية ُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْض ِ وَاةْخَغُيْا مِن ْ فَضْل ِ ا
كَثِيْدًا لَّعَلَّكُم ْ حُفْلِحُيْن١٠
Artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu
di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntun”
