Indikator Kepercayaan


Menurut Ainurrofiq (2007) yang membentuk kepercayaan seseorang
terhadap yang lain ada tiga yaitu:
a) Kemampuan. Kepercayaan adalah ranah khusus, sehingga individu membutuhkan keyakinan akan seberapa baik seseorang memperlihatkan performanya.
Faktor pengalaman dan pembuktian performanya akan mendasari munculnya
kepercayaan orang lain terhadap individu. Kim (dalam Ainurrofiq, 2007)
menyatakan bahwa ability meliputi kompetensi, pengalaman, pengesahan
institusional, dan kemampuam dalam ilmu pengetahuan.
b) Integritas. Integritas terlihat dari konsistensi antara ucapan dan perbuatan
dengan nilai-nilai diri seseorang. Kejujuran saja tidak cukup untuk menjelaskan
tentang integritas, namun integritas memerlukan keteguhan hati dalam menerima tekanan. Kim (dalam Ainurrofiq, 2007) mengemukakan bahwa integrity
dapat dilihat dari sudut kewajaran (fairness), pemenuhan (fulfillment),
kesetiaan (loyalty), keterus-terangan (honestly), keterkaitan (dependability),
dan kehandalan (reliabilty).
c) Kebaikan hati. Kebaikan hati berkaitan dengan intense (niat). Ada ketertarikan
dalam diri seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut akan
mengarahkannya untuk memikirkan orang tersebut dan memberikan intense
untuk percaya atau tidak dengan orang tersebut.
Kepercayaan adalah keyakinan bahwa seorang karyawan akan bersikap
jujur dan tunduk pada komitmen, para pemimpin organisasi dan keyakinan bahwa
tindakan-tindakan organisasi akan memberi manfaat bagi karyawan. Rasa saling
percaya atau rasa percaya antar-pribadi mengandung unsur kognitif dan afektif
(McAllister 1995). Sisi kognitif berkaitan dengan keputusan untuk mempercayai
atau tidak mempercayai pihak lain. Keputusan untuk mempercayai ini dibuat
berdasarkan alasan-alasan yang baik, seperti tanggung jawab, keandalan, dan
kompetensi (Lewis & Weigert 1985). Menurut Simmel (1964) keterpercayaan
tidak diperlukan bila individu memiliki pengetahuan lengkap akan pihak lain.
Rasa saling percaya juga bukan pilihan yang rasional bila individu tidak memiliki
pengetahuan sama sekali akan pihak lain. Singkatnya, keputusan untuk mempercayai adalah rasional jika situasi/tingkat pengetahuannya berada diantara
keduanya. Dalam hal ini, rasa saling percaya sepertinya mengandung orientasi
kognitif yang kuat. Fox menggunakan istilah keterpercayaan institusi untuk
menyebut kepercayaan pegawai terhadap CEO dan manajemen pusat perusahaan.
Belum banyak penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang keterpercayaan
institusi atau keterpercayaan manajemen pusat ini. Kepercayaan berbasiskan
pengetahuan kepercayaan yang diberikan bawahan kepada atasan yang didasarkan
pada keyakinan bahwa atasannya memang benar dan mampu.
Menurut Kuratko dan Hoodgets (2007) seseorang yang unggul mampu
menciptakan kreativitas dan inovasi sebagai dasar untuk tumbuh dan berkembang.
Seseorang yang memiliki tingkat keyakinan tinggi atas kemampuan diri untuk
berhasil cenderung memiliki tingkat kepercayaan tinggi untuk melakukan banyak
hal dengan baik dan sukses. Sebaliknya, tanpa adanya keyakinan kepercayaan
untuk sukses dan selalu berinovasi akan menurunkan semangat untuk berjuang
dalam bekerja