Penyelenggaraan layanan belajar bagi peserta didik biasanya dikaji dalam
konteks mutu pendidikan yang erat hubungannya dengan kajian kualitas
manajemen dan sekolah efektif. Komite Sekolah/Madrasah sebagai lembaga
mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan
memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana,
serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan
(Pasal 56, ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003)
Hal ini untuk menjadikan organisasi tetap bertahan dan terus
melangsungkan kehidupannya, masalah mutu harus menjadi perhatian termasuk
dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, masalah mutu dalam dunia pendidikan
harus menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah dan
masyarakat. Mengingat masih diperlukan upaya yang serius guna meningkatkan
mutu pendidikan serta persaingan global dalam bidang pendidikan yang
menunjukkan kecenderungan makin meningkat dengan baik.
Merosotnya mutu pendidikan di Indonesia secara umum dan mutu
pendidikan secara spesifik dilihat dari persepsi masyarakat luas dapat disebabkan
oleh buruknya sistem pendidikan nasional dan rendahnya sumberdaya manusia.
Secara umum, mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari
barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan
yang ditentukan atau yang tersirat (Rini, 2011:81). Mutu mengandung makna
derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang
maupun jasa, baik yang tangible (dapat dipegang) maupun yang intangible (tidak
dapat dipegang) (Suryosubroto, 2010:210).
Sesuatu yang bermutu merupakan bagian dari standar yang sangat tinggi
yang tidak dapat diungguli. Produk yang bermutu adalah sesuatu yang
dibuat dengan sempurna dan dengan biaya yang mahal. Produk tersebut
dapat dinilai serta membuat puas dan bangga para pemiliknya. Mutu dalam
pandangan ini digunakan untuk menyampaikan keunggulan status dan
posisi, dan kepemilikan terhadap barang yang memiliki “mutu” akan
membuat pemiliknya berbeda dari orang lain yang tidak mampu
memilikinya (Sallis, 2006:52)
