Istilah psychological contract pertama kali diperkenalkan oleh dua orang
psikolog, yaitu Argyris dan Menninger (dalam Conway & Briner, 2005: 19).
Definisi mengenai psychological contract mengalami perkembangan mulai dari
awal teori ini diperkenalkan hingga saat ini. Berikut beberapa definisi yang
dijelaskan para ahli mengenai psychological contract.
Kotter (dalam Conway & Briner, 2005: 21) menjelaskan bahwa
psychological contract merupakan sebuah kontrak yang bersifat implisit antara
seorang individu dan organisasinya yang menspesifikkan pada apa yang masingmasing harapkan satu sama lain untuk saling memberi dan menerima dalam suatu
hubungan kerja. Senada dengan pendapat tersebut, Schein (dalam Conway &
Briner, 2005: 21) menjelaskan bahwa psychological contract merupakan
serangkaian set harapan-harapan yang tidak tertulis antara setiap anggota
organisasi dengan manajer (maupun lainnya yang mewakili organisasi).
Sedangkan Rousseau (dalam Conway & Briner, 2005: 22) mendefinisikan istilah
psychological contract mengacu pada keyakinan individu terhadap persetujuan
yang bersifat timbal balik antara anggota organisasi dengan manajernya. Isu- isu
utama di sini terdiri dari keyakinan terhadap janji yang dibuat yang mengikat
pihak-pihak tersebut pada serangkaian kewajiban yang bersifat timbal balik.
Rousseau (dalam Conway & Briner, 2005: 22) mengemukakan bahwa
psychological contract merupakan keyakinan individu, yang dibentuk dari
organisasi, keyakinan tersebut mengacu pada persetujuan antara individu dan
organisasinya. Sedangkan menurut Herriot dan Pemberton (dalam Conway &
Briner, 2005: 22) psychological contract merupakan persepsi organisasi dan
individu tentang kewajiban masing-masing pihak yang terbentuk secara tidak
langsung dalam hubungan kerja. Lebih jelasnya, Morrison dan Robinson (dalam
Conway & Briner, 2005: 22) mengemukakan bahwa psychological contract
mengacu pada keyakinan-keyakinan karyawan mengenai kewajiban-kewajiban
yang bersifat timbal balik antara karyawan dan organisasinya, di mana kewajiban
tersebut didasarkan pada janji-janji yang dipersepsikan dan tidak disadari dengan
penting oleh agen-agen yang ada pada organisasi.
