Keller (dalam Chamid abdul basid,Leonardo budi hasiholan,Adi tri
haryono 2015) mendifinisikan sikap merek sebagai evaluasi keseluruhan
konsumen terhadap merek, atau citra merek sebagai evaluasi keseluruhan terhadap
merek dalam kontek kualitas dan kepuasan terhadap merek.
Sikap konsumen merupakan faktor psikologi penting yang perlu dipahami
oleh pemasar karena sikap dianggap mempunyai korelasi yang positif dan kuat
dengan perilaku. Bahkan sikap dipandang sebagai prediktor yang efektif untuk
mengetahui perilaku konsumen. (Suryani, 2008, hal.159)
Konsumen yang suka atau bersikap positif terhadap suatu produk akan
cenderung memiliki keinginan yang kuat untuk memilih dan membeli produk
yang disukainya tesebut. Sebaliknya, kalau konsumen bersikap negatif terhadap
suatu produk, maka biasanya akan tidak memperhitungkan produk tersebut
sebagai pilihan pembelian, bahkan tidak jarang akan menyampaikan
ketidaksukaannya tersebut kepada teman, kerabat atau tetangganya.
(Suryani,2008, hal. 160)
Selanjutnya Sutisna (2003, hal. 99) menyatakan bahwa : “Sikap adalah
mempelajari kecenderungan memberikan tanggapan pada suatu obyek atau
kelompok obyek baik disenangi atau tidak disenangi secara konsisten.”
Sikap adalah proses pengorganisasian motivasi, emosi, persepsi, dan
kognitif yang bersifat jangka panjang dan berkaitan dengan aspek lingkungan di
sekitarnya. Demikian dapat dikatakan bahwa sikap bersifat menetap karena sikap
memiliki kecenderungan berproses dalam kurun waktu panjang hasil dari
pembelajaran
