Asosiasi Merek


Menurut Aulia & Briliana, n.d. (2017), asosiasi merek mengandung makna
bagi konsumen dan simpul merek dalam ingatan yang berkaitan dengan simpul
informasi lainnya. Asosiasi merek yang dihasilkan semakin kuat membuat
seseorang berpikir semakin dalam mengenai informasi produk dan berhubungan
dengan pengetahuan merek yang ada. Menurut Foroudi (2018) menciptakan
asosiasi merek dan kepercayaan merek yang menguntungkan sangat penting
dalam mengidentifikasi keberhasilan sikap konsumen terhadap merek atau
perusahaan. Asosiasi merek didefinisikan sebagai arti merek bagi konsumen atau
apapun yang terkait dalam memori dengan merek. Sya’idah et al., (2020)
menyatakan umumnya yang membuat keputusan pembelian dan loyalitas merek
pelanggan adalah asosiasi merek yang membentuk citra merek sebagai pijakan
konsumen.
Grewal (2013) menyatakan asosiasi merek mencerminkan hubungan
mental pelanggan mengenai merek dan fitur-fitur utama merek tersebut, seperti
logo, slogan atau kepribadian unik dari merek. Aaker (1997) dalam Wiastuti &
Kimberlee (2018) menyatakan asosiasi merek memiliki tiga dimensi untuk
mengukur asosiasi merek, yaitu sebagai berikut :
a. Attribute
Penggambaran karakteristik dari suatu merek, apa yang dipikirkan oleh konsumen
yang berhubungan dengan merek atau yang dimiliki oleh merek tertentu ketika
membeli atau mengkonsumsi produk tersebut menurut Keller (2013). Menurut Kotler & Amstrong (2011) dalam Wiastuti & Kimberlee (2018) atribut di bagi
menjadi beberapa bagian antara lain kualitas produk, fitur produk, desain produk,
merek, label, kemasan, dan pelayanan pendukung produk.
b. Benefit
Nilai pribadi konsumen yang melekat pada atribut produk atau layanan dan
dikategorikan ke dalam tiga jenis, yaitu functional, experiential, dan symbolic
menurut Keller (2013).
c. Attitude
Evaluasi kesukaan atas penggunaan produk yang berhubungan dengan motivasi
diri sendiri menurut Aaker (1997) dalam Wiastuti & Kimberlee (2018)