Aspek-aspek Komitmen Organisasi


Meyer dkk, (1990) mendefinisikan komitmen organisasi dalam tiga tema
pertama komitmen sebagai suatu kelekatan afeksi karyawan terhadap organisasi,
kedua komitmen dipandang sebagai biaya yang timbul jika meninggalkan
organisasi dan yang ketiga komitmen sebagai suatu kewajiban untuk tetap berada
dalam organisasi. Berdasarkan ketiga tema tersebut maka Meyer dkk (1993),
Meyer dan Allen (dalam Herscovitch dan Meyer, 2002) mengajukan tiga konsep
komponen komitmen organisasi, yaitu :
a. komponen afektif menunjukkan suatu kelekatan secara emosi maupun
psikologis dan hasrat untuk mengidentifikasikan diri dengan organisasi.
Seseorang dikatakan memiliki komitmen afektif yang tinggi merasa bahwa
organisasinya baik dan dijadikan sebagai bagian dari konsep diri. Faktor yang
menyebabkan munculnya model komitmen ini adalah hal-hal yang meliputi
karakteristik personal, kondisi kerja dan pengalaman selama bekerja. Menurut
Allen dan Meyer (dalam Shore dan Wayne, 1993) komitmen afektf didefinisikan
sebagai suatu keadaan secara afektif atau emosional terhadap organisasi dimana
kekuatan komitmen individu diidentifikasikan dengan keterlibatan dan
kenyamanan anggota organisasi.
b. komponen kontinuitas individu menyadari suatu kondisi yang membatasi
alternatif yang sebanding dengan organisasinya sehingga individu merasa perlu
untuk selalu mempertimbangkan untung rugi pada karyawan bila harus
meninggalkan organisasi. Kondisi ini lebih dipengaruhi oleh faktor usia, masa
kerja, intensi untuk keluar dari organisasi. Komitmen kontinuitas dapat diartikan
sebagai keterikatan yang konsisten dalam beraktivitas didasarkan pada
penghargaan individu terhadap apa yang telah diberikan kepada perusahaan (Allen
dan Meyer dalam Shore dan Wayne, 1993).
c. komponen normatif komponen yang timbul sebagai hasil dari pengalaman
sosialisasi yang menekankan kepatuhan untuk setia kepada pemberi kerja karena
kompensasi yang diterima (misalnya beasiswa tugas belajar) sehingga membuat
individu merasa wajib untuk membalasnya.
Morrow (dalam Farkas dan Tetrick, 1989) menggambarkan sikap terhadap
komitmen organisasi digambarkan dalam tiga komponen, yaitu : keyakinan
terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi, keinginan untuk memberikan
kemampuannya untuk kepentingan organisasi dan keinginan untuk tetap berada di
organisasi. Diasumsikan bahwa komitmen merupakan gambaran sikap secara
menyeluruh tentang organisasi, dimana kepuasan seseorang digambarkan sebagai
respon afektif terhadap pekerjaan. Hasil penelitian yang menunjukkan
kekonsistenan antara tiga model komitmen yang dapat digeneralisasikan terhadap
semua jenis pekerjaan pada semua sektor seperti ekonomi (Snape dan Redman,
2002).
Komitmen organisasi didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana
seseorang memiliki keinginan yang kuat untuk selalu menjadi anggota organisasi,
keinginan untuk berusaha semaksimal mungkin seperti apa yang dilakukan oleh
organisasi dan keyakinan dalam menyusun dan melakukan tugas dalam
organisasi. Berdasarkan definisi tersebut penelitian yang dilakukan oleh Gordon
dkk (dalam Klandermans, 1989 dan Tetrick dkk, 1989) ada empat dimensi untuk
melihat komitmen organisasi, yaitu :
a. loyalitas terhadap organisasi adalah faktor kebanggaan dan loyalitas yang
dimiliki seseorang secara berkesinambungan dalam suatu organisasi dengan
penghargaan yang diperoleh yang bermanfaat bagi anggota organisasi.
b. tanggung jawab terhadap organisasi adalah bagaimana seluruh karyawan
bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing dan sanggup
menyelesaikan tugasnya sesuai dengan rencana.
c. keinginan untuk bekerja secara profesional demi organisasi Faktor
menggambarkan suatu kecenderungan anggota untuk selalu berbuat dengan cara
yang sesuai untuk memberikan pelayanan demi organisasi.
d. kepercayaan terhadap organisasi Faktor yang menggambarkan keterikatan
terhadap ideologi yang dibuat dan telah ditentukan oleh organisasi. Berdasarkan
uraian mengenai komponen-komponen komitmen di atas dapat disimpulkan
bahwa komitmen organisasi dapat dilihat berdasarkan aspek-aspek loyalitas
terhadap organisasi, tanggung jawab terhadap organisasi, keinginan untuk terus
bekerja untuk organisasi dan kepercayaan yang tinggi terhadap organisasi.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut di atas tentang tipe-tipe komitmen
organisasi maka dalam pengukuran komitmen organisasi menggunakan teori dari
Meyer, JP and Allen, NJ (1990), dapat disimpulkan secara umum bahwa
komitmen itu dapat dibagi menjadi tiga aspek, yaitu:
a. komponen afektif : seseorang menjadi anggota organisasi karena dia
menginginkan sesuatu, hal ini meliputi keadaan emosional dari karyawan
untuk menggabungkan diri, menyesuaikan diri, dan berbaur langsung
dalam organisasi.
b. komponen kontinuitas : yaitu komitmen yang di dasarkan pada
penghargaan yang diharapkan karyawan untuk dapat tetap menjadi
anggota organisasi karena dirinya merasa membutuhkan.
c. komponen normatif : seseorang menjadi anggota organisasi karena sebuah
tanggungjawab dalam melakukan sesuatu kewajiban untuk tetap tinggal
dalam sebuah organisasi.
Berdasarkan ketiga aspek komitmen tersebut di atas, maka antara aspek
yang satu dengan yang lain saling berhubungan, sehingga organisasi sering
menggunakan ketiga pendekatan tersebut untuk mengembangkan komitmen kerja
pada karyawan