Triple Bottom Line Accounting


Pada konsep pembangunan berkelanjutan, dunia usaha tidak lagi hanya
dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line (SBL)
atau nilai perusahaan (corporate value) dilihat dari segi kondisi ekonominya
(financial) saja. Dikutip dalam Elkington (1998) memperkenalkan konsep
Triple Bottom Line (TBL atau 3BL) atau juga 3P – People, Planet and Profit.
Secara singkat, ketiganya merupakan pilar yang mengukur nilai kesuksesan
suatu perusahaan dengan tiga kriteria: ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Pendekatan ini telah banyak digunakan sejak awal tahun 2007 seiring
perkembangan pendekatan akuntansi biaya penuh (full cost accounting) yang
banyak digunakan oleh perusahaan sektor publik. Istilah triple bottom line
semakin dipahami oleh dunia usaha. Sekarang dunia usaha tidak hanya
memperhatikan laporan keuangan perusahaan saja (single bottom line),
melainkan sudah meliputi aspek keuangan sosial dan lingkungan hidup yang
biasa disebut triple bottom line (TBL). Sinergi ketiga elemen tersebut
merupakan kunci dari konsep Laporan Berkelanjutan.
Pengertian TBL dikutip Putra dan Larasdiputra (2019) adalah intisari dari
keberlanjutan dengan mengukur dampak dari kegiatan organisasi di dunia,
termasuk profitabilitas dan pemegang saham, sosial, masyarakat, dan
lingkungan. Sedangkan Aristini dan Semara (2019) menyatakan bahwa
Konsep (TBL) diharapkan mampu berkontribusi untuk ikut serta membangun
masyarakat dan menjaga lingkungan hidup di sekitarnya serta tidak hanya
berorientasi pada laba.
Nurhidayat, Junaid dan Kamase (2020) menjelaskan keterkaitan mengenai
ketiga aspek TBL yaitu: Profit, merupakan pendapatan tambahan yang
digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Profit dapat
dikatakan sebagai ideologi perusahaan, dalam arti bahwa kelangsungan hidup
perusahaan tidak akan tercapai tanpa ada laba. Akan tetapi dalam
perkembangannya lingkungan bisnis semakin menyadari bahwa laba bukan
suatu bagian parsial sehingga laba sebagai pilar harus dikaitkan dengan pilar
yang lainnya. Aspek berikutnya adalah People, masyarakat yang menjadi
salah satu unsur pendukung yang menentukan manusia berhubungan dengan
sentuhan humanisme yang dikelola untuk perusahaan, manusia juga berkaitan
dengan variabel-variabel sosial contohnya seperti tingkat partisipasi dalam
pengambilan keputusan dan Planet yang merupakan lingkungan yang
memiliki hubungan sebab-akibat dengan perusahaan,. Pilar selanjutnya yaitu
lingkungan mencerminkan simbiosis dengan perusahaan contohnya berkaitan
dengan kualitas udara, air, dan biodervisity