Menurut pendapat lama (Andersen dan Dawes, 1991),
transformasi digital merupakan penggunaan teknologi informasi ke
dalam sistem pemerintahan atau disebut dengan digital government.
Bagi penganut sudut pandang teknologikal (Fountain, 2001) pendapat
tersebut selaras dengan pemahaman bahwa teknologi merupakan kunci
utama dalam proses transformasi. Berdasarkan pendapat ini, implikasi
penggunaan teknologi (misalnya penerapan website di pemerintahan)
mampu memberikan perubahan pada bentuk interaksi antara
pemerintah dan masyarakat, praktik kerja, maupun struktur organisasi
(Luna-Reyes dan Gil-Garcia, 2014).
Menurut pendapat yang lebih modern (Filguieras, 2019:197),
ketersediaan atau penggunaan teknologi informasi pada dasarnya
adalah sesuatu yang penting namun tidak serta merta menjadi faktor
utama dalam proses terjadinya transformasi digital. Lebih lanjut,
pilihan untuk melakukan transformasi digital bukan berangkat dari
digunakannya sebuah teknologi tetapi justru datang dari pembatasan
yang terjadi di dalam sebuah institusi dan perlunya pengorganisasian
ulang terhadap preferensi yang mampu ditawarkan. Dengan kata lain
kebutuhan transformasi digital berakar dari perlunya pendobrakan
batas atas suatu sistem di organisasi yang kaku dan mengorganisirnya
kembali dengan memberikan preferensi/fleksibilitas kepada entitas
yang berada di dalam ekosistem instansi/organisasi tersebut.
Menurut pendapat lain (Bharadwaj et al., 2013:12; Matt et al.,
2015:30), transformasi digital ini juga mencakup strategi beserta
perubahannya terhadap organisasi, termasuk struktur, proses, dan
budaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan nilai dari penciptaan
sesuatu. Secara umum, Vial (2019:119) mendeskripsikan transformasi
digital sebagai proses dimana sebuah organisasi merespon perubahan
yang berada dilingkungan mereka dengan menggunakan teknologi
digital untuk menciptakan nilai baru dari proses tersebut. Sedikit
berbeda, sektor bisnis (Williams dan Boardman, 2017) merefleksikan
transformasi digital sebagai perubahan tentang bagaimana sebuah
perusahaan mempekerjakan teknologi digital untuk mengembangkan
model bisnis baru yang membantu menciptakan nilai lebih bagi
perusahaan tersebut. Sebagai contoh, nilai yang dimaksud dapat
diamati dari fenomena tentang bagaimana perusahaan retail online
mampu mengalahkan dan menguasai perusahaan retail tradisional.
Amazon dan Alibaba misalnya, sebagai pendatang baru di industri
retail berhasil membuat rugi perusahaan retail tradisional seperti Toys
‘R’Us dan RadioShack dengan mengepakkan sayap yang lebih lebar ke
pangsa pasar mereka (Verhoef et al, 2019:1).
Uniknya, perusahaan retail online ini lantas tidak membatasi
diri di dalam satu bidang saja, justru mereka menggunakan sumber
daya digital yang dimiliki sebagai modal untuk menemukan
kesempatan baru lainnya. Misal, Bank ING menganggap Amazon
sebagai kompetitor yang potensial karena ambisi besarnya terhadap
pelayanan finansial, hal ini terbukti dengan berbagai produk layanan
yang mereka sediakan mulai dari pembayaran, peminjaman, asuransi
sampai pengecekan akun bagi pelanggan maupun pedagang yang
menggunakan jasa Amazon. Strategi peningkatan pelayanan ini sesuai
dengan tujuan global mereka yaitu “Meningkatkan partisipasi di
ekosistem Amazon” yang artinya mereka ingin semua keperluan
pelanggan dan pedagang dapat terpusat dan tersedia di Amazon
(cbinsights.com, 2021). Bahkan, dengan berbagai pelayanan tersebut
Amazon sama sekali tidak punya keinginan untuk menjadi bank
konvensional, fenomena ini tentunya sangat mendisrupsi dan
mengancam banyak pihak dari segi bisnis, ekonomi maupun hukum
perbankan (Verhoef et al, 2019:2). Contoh lain yaitu persaingan
Alibaba dengan perusahaan shipping kelas dunia Maersk, Spotify yang
secara substantif mengubah industri musik (Wölmert dan Papies,
2016:320), disrupsi Netflix terhadap perusahaan siaran TV dan industri
film (Ansari, Garud, dan Kumaraswamy, 2016:201), serta Booking.com
dan AirBnb yang secara fundamental merubah sistem perhotelan.
Terlepas dari definisi yang masih dikaji hingga sekarang,
transformasi digital juga merambah ke berbagai sektor pemerintahan
sejak 2012. Salah satu sektor pemerintahan yang mengalami
transformasi digital adalah pelayanan publik, sebagian besar pelayanan
di tahun tersebut sudah mulai merubah paradigma dari “apa saja jenis
pelayanan yang disediakan” menjadi “bagaimana cara pelayanan
tersebut disajikan” kepada masyarakat (UNDESA, 2015:85).
Interpretasi kata “bagaimana” tidak lain adalah digunakannya
teknologi informasi yang bermuara memunculkan berbagai metode
pelayanan sekaligus merubah struktur organisasi sebagai respon
adaptasi. Paradigma ini sangat relevan dengan pendapat Luna-Reyes
dan Gil-Garcia (2014:550) bahwa transformasi digital dapat dimaknai
sebagai penggunaan teknologi informasi yang memberikan dampak
terciptanya bentuk baru terhadap interaksi penduduk dengan
pemerintah, pola praktik kerja, atau perubahan struktur di dalam
organisasi.
Melihat keterkaitannya terhadap organisasi, diperlukan
komponen lain yang mampu mengimbangi proses diatas agar tetap
terjaga harmonisasi di suatu organisasi. Lebih lanjut, dalam rangka
mewujudkan transformasi digital yang utuh dan koheren Fernando
Filgueiras (2019:214) mengatakan bahwa desain kebijakan dan
prosedurnya harus mampu mendukung integrasi dan persiapan
kelembagaan yang kuat melalui proses diskusi secara teoretikal.
Menurut Fernando Filgueiras (2019:218), desain kebijakan
transformasi digital tidak hanya dipengaruhi oleh proses penyajian
sebuah layanan namun juga berdasarkan visi yang objektif dan jelas
dari kebijakan publik dan pemerintah itu sendiri. Singkatnya,
transformasi digital tidak hanya berfokus terhadap proses digitalisasi
teknologi namun diperlukan juga proses pembaruan kebijakan dan
restrukturisasi organisasi/kelembagaan yang kuat. Hal ini menjadi
penting untuk dapat mewujudkan transformasi digital yang utuh,
koheren serta berkelanjutan.
Maka, dapat disimpulkan bahwa transformasi digital
merupakan perubahan sistem suatu organisasi yang proses
mewujudkannya didukung melalui teknologi digital sebagai agen
disrupsi menembus batas-batas sistem konvensional
