Manajemen laba


Dedi sulistiawan, Yeni Januarsi, dan Liza alvia (2011:65)
mengatakanEarnings management atau manajemen laba merupakan suatu
fenomena baru yang telah menambah wacana perkembangan teori
akuntansi dan merupakan salah satu kajian yang menarik dalam riset
akuntansi. Istilah manajemen laba timbul sebagai konsekuensi langsung
dari upaya-upaya yang dilakukan manajer atau pembuat laporan keuangan
untuk melakukan manajemen informasi akuntansi, khususnya
laba(earnings), demi kepentingan pribadi ataupun kepentingan perusahaan.
Manajemen laba itu sendiri tidak dapat diartikan sebagai suatu upaya
negatif yang merugikan karena tidak selamanya manajemen laba
berorientasi pada manipulasi laba. Manajemen laba diduga timbuldan
dilakukan oleh manajer atau para pembuat laporan keuangan dalam proses
pelaporan keuangan suatu perusahaan karena mereka mengharapkan suatu
manfaat dari tindakan yang dilakukan. Manajemen laba menjadi sangat
menarik untuk diteliti karena dapat memberikan gagasan atau gambaran
dari perilaku manajer dalam melaporkan kegiatan usahanya pada suatu
periode tertentu, yaitu dengan adanya kemungkinan timbul motivasi
tertentu yang mendorong mereka untuk memanipulasi dan mengatur data
keuangan yang akan dilaporkan. Perlu dicatat disini bahwa manajemen
laba tidak harus dikaitkan dengan adanya upaya untuk memanipulasi data
atau informasi akuntansi saja, tetapi lebih condong dikaitkan dengan
pemilihan metode akuntansi (accounting methods) untuk mengatur
keuntungan yang bisa dilakukan tanpa melanggar ketentuan – ketentuan
yang telah ditetapkan.
Informasi laba sebagai bagian dari laporan keuangan sering sekali
menjadi terget dalam perekayasaan melalui tindakan oportunis manajemen
untuk memaksimalkan kepuasannya, akan tetapi dapat merugikan para
pemegang saham atau investor. Tindakan oportunis tersebut dapat
dilakukan dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba
perusahaan dapat diatur sesuai dengan keinginannya, perilaku manajemen
untuk mengatur laba sesuai dengan keinginannya tersebut dikenal dengan
istilah manajemen laba.
Praktek manajemen laba dapat dipandang dari dua perspektif yang
berbeda, yaitu sebagai tindakan yang salah (negatif) dan sebagai tindakan
yang seharusnya dilakukan manajemen (positif). Manajemen laba
dikatakan (negatif) jika dilihat sebagai perilaku oportunistik manajer untuk
memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi,
kontrak utang dan political cost, sedangkan manajemen laba disebut
(positif) jika dilihat dari pespektif efficient earnings management dimana
manajemen laba memberikan manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi
diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang
tidak terduga untuk mendapatkan keuntungan bagi pihak-pihak yang
terlibat dalam kontrak. Manajemen laba sebagai suatu proses pengambilan
langkah yang disengaja dalam batas prinsip akuntansi yang berterima
umum baik di dalam maupun di luar batas General Accepted Accounting
Principle (GAAP).
Menurut Sugiri (1998:1-18) dalam (pelajaran.id) membagi definisi
manajemen laba menjadi dua, yaitu:

  1. Definisi Sempit
    Manajemen laba dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai
    perilaku manajer untuk bermain dengan komponen discretionary accruals
    dalam bentuk besarnya laba.
  2. Definisi Luas
    Manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan
    maupun mengurangi laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit usaha
    dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan
    maupun penurunan profitabilitas ekonomi jangka panjang menurut unit
    tersebut.
    Pengertian manajemen laba oleh Merchan (1989) dalam Merchan
    dan Rockness (1994) didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh
    manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan yang
    bisa memberikan informasi mengenai keuntungan ekonomis (economic
    advantage) yang sesungguhnya tidak dialami perusahaan, yang dalam
    jangka panjang tindakan tersebut bisa merugikan perusahaan.
    Cara pemahaman atas manajemen laba menurut Scott (2000) dalam
    (dosenpendidikan.com) dibagi menjadi dua, yaitu:
  3. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk
    memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi,
    kontrak utang, dan political costs (opportunistic earnings management).
  4. Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient
    contracting (efficient earnings management), dimana manajemen laba
    memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan
    perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga
    untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan
    demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar perusahaannya melalui
    manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income
    smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.
    Kemudian Scoot (2009) dalam (rocketmanajemen.com) membagi
    pola manajemen laba manjadi empat:
  5. Taking a Bath adalah pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara
    menjadikan laba pada periode berjalan menjadi sangat rendah (bahkan
    rugi) atau sangat tinggi dibandingakan dengan laba pada periode
    sebelumnya atau sesudahnya. Teknik ini mengakui adanya biaya-biaya
    pada periode yang akan datang dan kerugian periode berjalan sehingga
    mengharuskan 26 manajemen membebankan perkiraan-perkiraan biaya
    mendatang akibatnya laba periode laba periode berikutnya akan lebih
    tinggi.
  6. Income Minimazation adalah pola manajemen laba yang dilakukan
    dengan cara manjadikan laba pada laporan keuangan periode berjalan lebih
    rendah daripada laba sesungguhnya. Pola ini dilakukan pada saat
    perusahaan mengalami tingkat profitabilitas tinggi sehingga jika laba
    periode mendatang turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba
    periode sebelumnya.
  7. Income Maximizationadalah pola manajemen laba yang dilakukan
    dengan cara menjadikan laba pada laporan keuangan periode berjalan
    tinggi daripada laba sesungguhnya. Pola ini dilakukan pada saat laba
    menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan
    net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini
    dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari pelanggaran atas kontrak
    hutang jangka panjang.
  8. Income smoothing (perataan laba) merupakan suatu bentuk manajemen
    laba yang dilakukan dengan cara membuat laba akuntansi relatif konsisten
    dari periode ke periode. Pola ini dilakukan dengan cara meratakan laba
    yang dilaporkan sehingga dapat megurangi fluktuasi laba yang terlalu
    besar karena pada umumnya investor menyukai laba yang relatif stabil.