Berdasarkan teori keagenan perusahaan keluarga merupakan
controlling stakeholder sehingga mengontrol pemilik saham minoritas
dalam pengambilan keputusan. Perusahaan keluarga merupakan
perusahaan yang konglomerasi dimana harus bekerja sama dengan
partner strategis untuk perkembangan perusahaannya. Anggota
keluarga yang menempati posisi puncak bisa memiliki keinginan
berbeda dalam mengembangkan bisnis, keluarga tidak mendefinisikan
portofolionya dan ingin mewarisi perusahaan tersebut sehingga untuk
menarik calon investor, manajer akan melakukan manajemen laba.
Pernyataan tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya yang
menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi manajemen
laba adalah kepemilikan keluarga.
Pada penelitian sebelumnya kepemilikan keluarga berpengaruh
negative signifikan terhadap dugaan praktik manajemen laba.
Pernyataan ini ditunjukkan dengan nilai t hitung sebesar -2,436 dan
nilai signifikan lebih kecil dari 0.05 yaitu sebesar 0.019 hasil ini
menyatakan bahwa kepemilikan keluarga berpengaruh negative
signifikan terhadap dugaan praktik manajemen laba. Menurut (Prita,
2016) menemukan bahwa struktur kepemilikan yang diproksikan
dengan kepemilikan keluarga bepengaruh negative signifikan terhadap
manajemen laba. Hal ini karena semakin tinggi tingkat kepemilikan
keluarga menunjukkan monitoring semakin baik karena rasa tanggung
jawab yang besar sehingga menurunkan tingat penggunaan earning
management
