Kepemimpinan Otentik mengacu pada Teori Perilaku(Behavioral
Theories) yang dikembangkan oleh Robbins dan Judge (2008), teori
perilaku kepemimpinan tumbuh sebagai hasil dari ketidakpuasan
terhadap teori sifat karena dinilai tidak dapat menjelaskan efektivitas
kepemimpinan dan gerak hubungan antar manusia. Teori ini percaya
bahwa perilaku pemimpin secara langsung memengaruhi efektivitas
kelompok. Pemimpin dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya
untuk memengaruhi orang lain dengan efektif. Dalam teori
kepemimpinan ini yang menjadi fokus adalah tindakan dari seseorang
pemimpin, bukan melihat kualitas mental atau internal. Pemimpin
Otentik adalah seorang pemimpin yang memiliki kepercayaan diri,
optimisme, harapan, efisiensi dan ketahanan. Pemimpin yang
mengadaptasi Kepemimpinan Otentik memiliki nilai dan perspektif
moral yang jelas, memiliki pandangan positif ke depan dan
menempatkan karyawan untuk dapat menjadi pemimpin dikepentingan
yang tinggi (Avolio et al., 2004).
Melalui Artikel yang dipakai sebagai acuan, Qiu et al. (2019)
mengusulkan model kepemimpinan otentik tingkat tinggi. Teori
kepemimpinan otentik dikembangkan pertama kali oleh Avolio dan
Luthans pada tahun 2003, di kalangan akademisi teori ini termasuk
salah satu teori kepemimpinan yang terbaru yang pada awalnya
dikonseptualisasikan pada akhir 1970, lalu pada awal tahun 2000
dilakukan penelitian lebih mendalam untuk menelusuri konsep ini
(Avolio & Garner, 2005).c
Avolio, Luthans, dan Walumbwa (2004) mengemukakan bahwa
pemimpin otentik sangat paham dengan apa yang ada di dalam dirinya
(deeply aware) dalam berpikir dan bertindak, orang lain beranggapan
bahwa pemimpin otentik adalah seseorang yang memiliki nilai moral
yang baik, optimisme, memiliki harapan, berwawasan luas, dan sadar
akan kemampuan yang ada pada dirinya dan orang lain. Pemimpin
otentik menggunakan konsep pengetahuan diri (selfknowledge) untuk
mengenali dan mengatasi kekurangan yang ada dalam dirinya dalam
memimpin (Walumbwa et al., 2008) Pemimpin otentik juga memiliki
konsistensi dan kedisiplinan yang baik dalam mencapai tujuan dan
menerapkan nilai-nilai yang ada dalam dirinya (George, 2003).
Pemimpin otentik memiliki standar dan nilai-nilai moral internal
yang tinggi, pemimpin mewakili model peran untuk memberikan isyarat
perilaku dan bimbingan bagi pengikut untuk ditiru (Bandura, 1997).
Pemimpin otentik memimpin dengan memberi contoh kepada pengikut
ketika menampakkan kepercayaan, harapan, dan optimisme di tempat
kerja. Pemimpin otentik secara obyektif mengevaluasi semua informasi
yang relevan ketika membuat keputusan, dengan begitu pemimpin
otentik mampu menciptakan lingkungan yang adil dan terbuka di tempat
kerja. Pada tempat kerja seperti itu, karyawan akan memiliki kesadaran
untuk saling membantu orang lain dan didorong untuk melakukannya
(Walumbwa, Wang, Schaubroeck, & Avolio, 2010).
Walumbwa et al. (2018) mengidentifikasi empat komponen untuk
menjelaskan Kepemimpinan Otentik, antara lain :
a. Pemahaman diri (Self awareness), kemampuan seorang pemimpin
dalam memandang dan menilai kekuatan dan kelemahan diri sendiri
serta dapat menyadari dampak perbuatannya.
b. Transparansi hubungan (Relational transparancy), mengarah pada
bagaimana seorang pemimpin menampilkan sifat diri yang
sesungguhnya kepada orang lain. Perilaku ini mengacu pada
keterbukaan informasi dan relasi.
c. Pengelolaan yang seimbang (Balanced processing), mengacu pada
sikap objektif seorang pemimpin dalam menganalisa data yang
relevan ketika mengambil keputusan dan mengemukakan pendapat
serta bagaimana pemimpin merespon pandangan orang lain yang
bertentangan.
d. Moral yang di Internalisasi (Internalized moral perspective),
menunjukkan konsistensi dan keyakinan dasar yang dimiliki
pemimpin yang dapat dilihat melalui sikap, perilaku dan tindakan
dalam sehari-hari
