Menurut Tims et al., (2013) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi job
crafting, yaitu;
- Person job fit
Yaitu, kesesuaian antara karakter individu dengan pekerjaannya. Individu
akan menyesuaikan diri dengan pekerjaannya, ada dua aspek yang dapat
mempengaruhinya yakni penyesuaian antara pengetahuan individu, keterampilan
serta kecakapan dalam memahami tuntunan pekerjaan. Sedangkan yang kedua
adalah kesesuaian antara kebutuhan dan keinginan seseorang pada pekerjaan - Autonomy
Kemandirian diri pada pekerjaan penting untuk menentukan karakter bekerja
serta sejauh mana individu dalam mengelola pekerjaan sesuai dengannya, seperti
memiliki kesempatan keleluasaan pada jadwal kerja, membuat keputusan dan
memilih cara yang akan digunakan pada penyelesain pekerjaannya. Jika karyawan
merasakan tidak memiliki kebebasan atau peluan untuk menciptakan keadaan
pekerjaannya maka mereka dapat mencoba merubah beberapa aspek dalam
pekerjaannya. Dengan adanya kesempatan tersebut akan memberikan lebih banyak
peluang bagi karyawan dalam mengeksplor pekerjaannya secara optimal. - Task independence
Job crafting mungkin akan terjadi Ketika karyawan menunjukkan kinerja
dalam tugasnya secara mandiri. Ketika karyawan tidak selalu mengandalkan
performa kerja dari rekannya maka akan lebih mudah melakukan penyesuaian
dengan pekerjaannya dan mendapatkan hasil yang lebih baik karena tidak selalu
terikat pada rekan kerja, namun individu harus lebih baik karena tidak selalu terikat
pada rekan kerja, namun individu harus lebih berusaha dengan kemampuannya
dalam menyelesaikan tugas pekerjaan. - Individual Difference
Setiap individu pasti mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Untuk
menjadi individu yang memiliki karkateristik diri, maka individu tersebut perlu
memahami kebutuhannya dan memiliki sikap mandiri atau independent agar otensi
dirinya dapat terlihat. Hal tersebut penting untuk dapat menciptakan job crafting. - Proactive Personality
Seorang karyawan dengan kepribadian yang proaktif diharapkan mampu
terlibat pada job crarfting serta lebih memiliki kesiapan daripada individu selain
karakteristik yang telah disebutkan. Individu yang memiliki inisiatif untuk
memperbaiki keadaan maka peluang untuk merubah identitas telah ada, tinggal
bagaimana aksi dan ketekunan yang akan membawa individu pada pemaknaan
perubahan tersebut. - Self Efficacy
Kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimiliki akan membuat
karyawan melibatkan pekerjaannya atau akan membuat mereka merubah
lingkungan kerja yang berdampak pada tindakan job crafting. Karyawan dengan
level kepercayaan diri tinggi menyebabkan ia merasa mampu dan berani dalam
mengambil keputusan untuk menjadi sukses. - Focus regulation
Teori focus relasi menjelaskan bahwa individu bisa membuat fokus
pengembangan mereka pada kemajuan, pertumbuhan , dan prestasi dengan
memperhatikan keamanan, keselamatan,dan tanggung jawabnya. Individu mampu
mengelola diri dengan baik sehingga akan mempertimbangkan segala sesuatu dari
segala aspek dan batasan yang mampu dilakukannya sebagai individu dan pekerja.
Adapun menurut Wrzesniewsk & Dutton (2001) dan Michael Campion
(2019) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi job crafting, diantaranya: - Kontrol pribadi
Kontrol pribadi dapat mempengaruhi job crafing pada diri individu, saat
seseorang memiliki kontrol pribadi yang kuat pada dirinya sehingga ia dapat
mengontrol pekerjaannya dengan menyesuaikan antara pekerjaan dan kebutuhan,
sehingga individu tersebut akan lebih terlibat dalam pekerjaannya dan hal ini akan
meningkatkan kemampuannya dalam memodivikasi pekerjaan melalui job crafting. - Self-Image
Para pekerja membuat self-image yang positif di tempat kerja mereka, hal ini
dilakukan saat para pekerja mengetahui self-image diri mereka. Maka mereka akan
lebih mudah untuk menyesuaikan pekerjaan dengan karakteristik mereka. Dan
kebutuhan mereka. Sehingga self-image cukup penting dalam mempengaruhi
perilaku job-crafting. - Interaksi Sosial
Kebutuhan terakhir yakni interaksi sosial, para pekerja dapat meningkatkan
makna kerja mereka melalui interaksi sosial ditempat kerja. Saat para pekerja
merasa nyaman dengan interaksi sosial mereka ditempat kerja. Hal ini dikarenakan
interaksi sosial dapat membuat para pekerja merasa lebih terlibat dalam pekerjaan
mereka, sehingga para pekerja menjadi jauh lebih positif dan dapat mempengaruhi
perilaku kerja mereka terutama dalam perilaku job crafting.
